Artikel · Potret Online

Kalau Ujung-Ujungnya Neraka, Ngapain Datang ke Kampung Kami?

Penulis  Rosadi Jamani
Juni 7, 2026
4 menit baca 11
4d37d0be-e486-4678-9e8a-0d24c34e7d5b
Foto / IlustrasiKalau Ujung-Ujungnya Neraka, Ngapain Datang ke Kampung Kami?
Disunting Oleh

Kalau Ujung-Ujungnya Neraka, Ngapain Datang ke Kampung Kami?

Oleh Rosadi Jamani 

Sebenarnya ingin istirahat nulis, soalnya lagi malming. Tapi, jiwa literasi selalu memberontak. Cuma mau nulis apa? BGN sudah saya kuliti. Silmy Karim apa lagi. Timnas, nunggu esok lawan Vietnam. Tiba-tiba terbersit nulis soal surga dan neraka. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di sebuah pedalaman yang jauh dari kebisingan dunia, jauh dari buzzer, jauh dari debat kusir televisi, dan sangat jauh dari grup WA ormas yang isinya video hoaks obat segala penyakit, hiduplah sebuah komunitas sederhana.

Mereka bangun pagi, berkebun, berburu, memancing, lalu tidur. Tidak ada yang ribut soal mazhab. Tidak ada yang perang komentar. Tidak ada yang saling mengkafirkan sambil minum kopi gratis di rumah tetangga.

Pendek kata, hidup mereka tenang.

Sampai datang seorang penyebar agama.

Dengan semangat seperti sales properti yang baru dapat target bulanan, ia mengumpulkan warga kampung.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian! Masuklah agama saya. Dijamin masuk surga!”

Warga mulai tertarik. Surga terdengar bagus. Gratis pula. Lalu sang tamu melanjutkan.

“Tapi kalau tidak masuk agama saya, bisa masuk neraka.”

Nah, kalimat kedua ini yang mulai bikin suasana agak aneh.

Karena manusia itu unik. Kalau ditawari hadiah, senang. Tapi kalau langsung diancam setelahnya, otaknya mulai bekerja.

Seorang warga kampung yang tampaknya diam-diam ketua klub berpikir nasional mengangkat tangan.

“Tuan, saya mau tanya.”

“Silakan.”

“Kalau kami belum pernah dengar agama tuan, kami masuk neraka?”

“Tidak.”

“Masuk surga?”

“Ya, karena kalian belum tahu.”

Warga itu manggut-manggut.

Ia berpikir sekitar tiga detik.

Lalu muncul pertanyaan yang menghantam lebih keras dari tagihan pinjol.

“Kalau begitu, kenapa tuan datang ke sini?”

Si penyiar agama itu tersenyum.

“Karena sekarang kalian harus tahu.”

“Setelah tahu?”

“Kalian wajib mengikuti agama saya.”

“Kalau tidak?”

“Neraka.”

Warga itu melongo.

Penduduk kampung lain mulai menghitung menggunakan logika paling sederhana yang bisa dipahami ayam kampung.

“Sebelum tahu, selamat.”

“Ya.”

“Sesudah tahu, terancam.”

“Ya.”

“Jadi kedatangan tuan justru memperbesar risiko kami?”

Suasana mendadak sunyi.

Seekor kambing yang sedang makan rumput berhenti mengunyah. Seekor burung di pohon mungkin mulai mengambil jurusan filsafat.

Warga kampung itu lalu berdiri dan berkata,

“Saudara-saudara, saya punya usul.”

“Apa?”

“Kita usir beliau baik-baik sebelum lebih banyak warga tahu.”

Tepuk tangan bergemuruh. Si penyiar agama itu nyaris pingsan.

Cerita ini sebenarnya bukan soal agama tertentu. Ini soal cara sebagian pemuka agama berdakwah.

Ada yang seolah-olah menjadikan neraka sebagai produk utama. Surga cuma bonus. Isi ceramahnya seperti debt collector akhirat.

Datang bukan membawa kabar gembira. Datang membawa daftar ancaman. Tidak pakai ini neraka. Tidak pakai itu neraka. Begini neraka. Begitu neraka. Kurang satu centimeter neraka. Salah parkir mungkin hampir neraka.

Kalau semua urusan ujungnya neraka, lama-lama orang mengira Tuhan membuka cabang SPBU neraka di mana-mana.

Padahal kalau membaca sejarah para nabi, mereka datang membawa harapan.

Membebaskan manusia dari ketakutan, bukan memproduksi ketakutan baru setiap minggu.

Ironisnya, ada sebagian penceramah yang menggambarkan Tuhan seperti satpam galaksi yang kerjanya mengintai kesalahan manusia 24 jam sehari.

Baru bangun tidur, salah. Mau makan, salah. Mau kerja, salah. Mau ketawa, salah.Mau diam, juga salah.

Manusia dibuat sibuk menghitung ancaman sampai lupa menghitung rahmat.

Padahal kalau semua orang masuk agama hanya karena takut neraka, itu mirip mahasiswa yang kuliah bukan ingin pintar, tetapi takut dimarahi orang tua.

Lulus mungkin iya. Paham belum tentu. Cinta apalagi.

Agama akhirnya berubah seperti alarm kebakaran yang bunyi terus-menerus.

Awalnya membuat orang waspada. Lama-lama membuat orang pusing. Yang lebih lucu lagi, sebagian pemuka agama gemar sekali membagikan tiket neraka kepada orang lain.

Padahal mereka sendiri bukan pemilik neraka. Bahkan resepsionisnya pun bukan. Kuncinya tidak pegang. Denah bangunannya tidak punya.

Tapi semangat membagikan kamar neraka mengalahkan pegawai hotel bintang lima. Mungkin itulah sebabnya warga kampung dalam cerita tadi tampak lebih bijak.

Mereka tidak menolak kebaikan. Mereka hanya bingung kenapa kabar gembira selalu dikirim bersama ancaman.

Karena agama yang sehat mestinya membuat manusia semakin mengenal kasih sayang Tuhan, bukan membuat mereka hidup seperti sedang dikejar debt collector kosmik setiap hari.

Kalau ceramah yang datang hanya berisi daftar neraka, jangan salahkan jamaah kalau suatu hari mereka bertanya dengan polos,

“Maaf, tuan… ini sedang mengajak kami mendekat kepada Tuhan atau sedang mempromosikan neraka?”

No debat, cukup direnungkan sambil seruput Koptagul. 

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...