Dengarkan Artikel
Estetika Modal, Kuda Api, dan Ironi di Menara Gading Kesenian
Oleh: Gus Nas Jogja
Ketika Warna Tak Lagi Berbicara tentang Jiwa
Di sebuah sudut galeri yang steril, di mana aroma cat minyak bertarung dengan wangi parfum mahal para kolektor, sebuah kanvas bergambar Kuda Api menjadi episentrum kegilaan. Angka Rp 6,5 Miliar tertera di sana, bukan sebagai nilai estetis yang murni, melainkan sebagai stempel kekuasaan. Sementara itu, di trotoar depan kampus ISI Yogyakarta atau di barak-barak SMSR yang lembab, ribuan pelukis yang jemarinya kapalan oleh sketsa, yang matanya merah karena begadang membedah teori warna, hanya bisa “melongo”.
Esai ini bukanlah sekadar gugatan atas harga, melainkan sebuah bedah filosofis tentang Etika Kesenian dan Estetika Norma. Kita akan bertanya: Apa kabar, pelukis Indonesia? Apakah kita sedang merayakan seni, atau kita sedang menyembah berhala kekuasaan yang kebetulan memegang kuas?
Komodifikasi Seni dan Aura yang Hilang
Walter Benjamin, dalam esai monumentalnya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, bicara tentang hilangnya “Aura” ketika seni menjadi alat reproduksi atau komoditas. Namun, dalam kasus lukisan “Kuda Api” sang mantan penguasa, yang terjadi adalah Aura Semu. Lukisan itu laku bukan karena tarikan garisnya yang revolusioner, melainkan karena bayang-bayang jabatan yang melekat pada punggung sang pelukis.
“Kesenian bukan lagi upaya mencari kebenaran, melainkan upaya memperluas pengaruh politik lewat estetika yang jinak.” — Walter Benjamin (Paraphrased)
Di seberang sana, Theodor Adorno dari Mazhab Frankfurt mungkin akan menangis. Baginya, seni seharusnya menjadi “negasi” terhadap realitas, sebuah perlawanan. Ketika seni menjadi begitu mahal hanya karena nama besar di luar dunia seni, ia berhenti menjadi seni dan berubah menjadi Kitsch—seni murahan yang dipoles oleh pretensi intelektual dan modal.
Dialektika Antara Bakat dan Privilese
Para lulusan ISI dan SMSR diajarkan tentang anatomi, proporsi, perspektif, blocking dan sejarah seni yang berdarah-darah. Mereka mempelajari Leonardo da Vinci yang membedah mayat demi akurasi anatomi, atau Vincent van Gogh yang memotong telinga demi ekspresi yang jujur.
Dalam Norma Kesenian, ada sebuah “kontrak sosial” bahwa nilai sebuah lukisan ditentukan oleh inovasi bentuk atau kedalaman gagasan. Namun, peristiwa “Kuda Api” ini merobek kontrak tersebut. Ia menciptakan anomali estetika: sebuah karya yang secara teknis mungkin medioker, namun secara finansial melampaui karya maestro yang seumur hidup mengabdi pada kanvas.
Filsuf Timur, Okakura Kakuzo dalam The Book of Tea, menyatakan bahwa seni adalah “Seni Kehidupan”. Jika pelukis akademis hidup untuk seni, maka politisi yang melukis seringkali menggunakan seni untuk “mempercantik” kehidupan politiknya. Di sinilah letak Tragedi Estetika itu.
Literasi Keadilan bagi Pelukis Marginal
Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, bicara tentang Capability Approach. Keadilan sosial terjadi ketika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kapabilitasnya.
Dalam ekosistem seni kita, terjadi ketimpangan akses yang mengerikan. Pelukis sanggar harus menjajakan karyanya di pinggir jalan, bertarung dengan debu dan ketidakpastian makan esok hari. Sementara itu, sebuah karya “rekreasional” dari figur publik mendapatkan karpet merah menuju angka miliaran.
Etika kesenian menuntut adanya Kejujuran Kuratorial. Ketika pasar seni hanya menjadi ajang “cuci tangan” atau “cari muka” bagi para taipan terhadap penguasa, maka ekosistem seni tersebut sedang mengalami pembusukan moral. Kuda Api itu mungkin membakar kantong kolektor, tetapi ia memadamkan api semangat di studio-studio pelukis muda yang jujur.
Sindrom Pemujaan dan Fetishisme Komoditas
Mengapa seseorang mau membayar Rp 6,5 Miliar untuk sebuah kuda yang mungkin anatominya masih diperdebatkan oleh dosen anatomi di kampus seni? Karl Marx menyebutnya sebagai Fetishisme Komoditas. Objek tersebut tidak lagi dinilai dari kegunaan atau keindahannya, melainkan dari status mistis yang dilekatkan padanya.
Secara psikologis, pembeli lukisan tersebut bukan membeli “lukisan”, melainkan membeli “hubungan baik” atau “jejak sejarah” sang tokoh. Ini adalah bentuk Veblen Good—barang yang permintaannya naik justru karena harganya yang tidak masuk akal, demi menunjukkan status sosial.
Lukisan sebagai Cermin Jiwa
Dalam dimensi Makrifatullah, melukis adalah sebuah Ibadah Visual. Seorang pelukis adalah hamba yang mencoba meniru sifat Al-Mushawwir — Yang Maha Membentuk Rupa.
📚 Artikel Terkait
“Setiap garis yang ditarik oleh pelukis sejati adalah dzikir yang tak terucap. Setiap warna yang dicampur adalah doa agar ia bisa menangkap setetes keindahan Tuhan.”
Seorang pelukis yang belajar di ISI atau SMSR, jika ia ikhlas, ia sedang menempuh Jalan Prihatin. Keperihan mereka saat melihat “Kuda Api” laku miliaran adalah ujian bagi kejujuran seni mereka. Apakah mereka melukis untuk Keindahan Sejati atau untuk Berhala Uang?
Namun, secara makrifat, ketidakadilan ini juga merupakan teguran bagi bangsa ini. Sebuah bangsa yang lebih menghargai “Nama” daripada “Karya” adalah bangsa yang sedang mengalami Kebutaan Mata Hati. Mereka melihat Kuda, tapi tak melihat Api kesengsaraan di baliknya.
Kanvas Kosong dan Tanda Tangan Emas
Alkisah, seorang pelukis lulusan terbaik ISI Yogyakarta membawa lukisannya yang luar biasa indah ke sebuah balai lelang. Lukisan itu dikerjakan selama tiga tahun dengan riset mendalam. Kurator berkata, “Bagus, tapi harganya Rp 10 juta saja ya, karena kamu bukan siapa-siapa.”
Besoknya, seorang mantan pejabat besar membawa kanvas yang hanya berisi coretan satu garis lurus berwarna merah. Ia berkata, “Ini adalah simbol visi lurusku.” Sang kurator berlutut dan berteriak, “Luar biasa! Ini minimal Rp 5 Miliar!”
Si pelukis ISI bertanya, “Kenapa?”
Kurator menjawab, “Seni itu soal siapa yang memegang kuas, bukan apa yang ada di kanvas. Garismu indah tapi kau rakyat jelata. Garis dia mencong tapi ia punya tentara dan partai.”
Si pelukis pulang, membakar kuasnya, dan mulai mendaftar jadi pengurus partai agar besok lukisannya laku Rp 10 Miliar.
Menyalakan Kembali Api yang Benar
Apa kabar pelukis Indonesia? Kabar kalian mungkin sedang tidak baik-baik saja secara finansial, namun secara moral, kalian adalah pemenang jika tetap setia pada Etika Kesenian.
Fenomena lukisan Rp 6,5 Miliar tersebut adalah potret buram dari Kapitalisme Estetika yang tidak memiliki Literasi Keadilan. Namun, jangan biarkan api di studio kalian padam oleh “Kuda Api” yang sekadar lewat. Sejarah seni tidak akan mencatat siapa yang lukisannya termahal di masanya (seringkali pelukis istana terlupakan), tetapi sejarah akan mencatat siapa yang karyanya mampu mengubah cara manusia memandang dunia.
Jean-Paul Sartre, peraih Nobel yang menolak hadiahnya, pernah berkata bahwa seniman adalah orang yang “memilih untuk bertanggung jawab atas dunia”. Pelukis Indonesia, tanggung jawab kalian bukan pada harga, melainkan pada kebenaran rasa. Biarkan para politisi melukis kuda, sementara kalian tetaplah melukis Jiwa Indonesia yang sedang menangis, tertawa, dan berjuang.
Memutus Rantai Feodalisme Estetika
Melanjutkan kegelisahan ini, kita membutuhkan sebuah Manifesto Kesenian Baru untuk memproteksi martabat para pelukis yang telah mewakafkan hidupnya pada disiplin akademis dan sanggar. Jika pasar seni telah berubah menjadi bursa saham politik, maka seniman harus membangun “Negara Berdaulat” di dalam kanvasnya.
Norma Kesenian Baru harus menetapkan bahwa nilai sebuah karya tidak boleh berbanding lurus dengan jabatan publik. Etika Kesenian menuntut agar institusi seperti ISI dan SMSR tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga “Keberanian Ontologis” untuk menolak tunduk pada selera pasar yang korup. Kita butuh kurator yang memiliki integritas seperti Jenderal Hugeng—yang tak bisa dibeli oleh kilau angka miliaran.
Cahaya di Balik Kanvas yang Sunyi
Dalam dimensi sufi, peristiwa laku miliaran lukisan tokoh politik ini adalah sebuah Kelucuan—sebuah ujian kemewahan yang bisa melalaikan. Bagi para pelukis di ISI, SMSR, dan sanggar-sanggar yang saat ini sedang kesulitan membeli cat, ingatlah sebuah diksi puitis dari para penyair:
“Tuhan tidak melihat pada mahal atau murahnya pigmen warna di kanvasmu, melainkan pada kejujuran getaran ruhmu saat goresan itu diletakkan.”
Pelukis sejati adalah mereka yang “fana” di dalam karyanya. Sedangkan lukisan yang laku karena jabatan adalah lukisan yang “eksis” karena egonya. Secara spiritual, pelukis yang melukis dalam kemiskinan namun tetap menjaga keindahan adalah mereka yang sedang melakukan Jihad Estetika. Mereka adalah pemilik “Galeri Langit”, di mana apresiasinya bukan dalam bentuk Rupiah, melainkan dalam bentuk keabadian makna.
Menagih Tanggung Jawab Kolektor
Kolektor seni di Indonesia perlu dibekali Literasi Keadilan. Membeli lukisan mantan presiden seharga Rp 6,5 Miliar mungkin sah secara hukum pasar, namun secara moral-sosial, itu adalah tindakan “Obesitas Estetika” di tengah ribuan pelukis yang “Busung Lapar”.
Seorang kolektor yang bijak seharusnya bertindak sebagai patrun bagi bakat-bakat murni. Sebagaimana keluarga Medici di Florence yang menyokong Michelangelo, keadilan seni terjadi ketika modal digunakan untuk mengangkat derajat seniman yang memiliki kedalaman riset, bukan untuk menjilat pada kekuasaan yang sudah mapan.
Dialog Kuas dan Duit
Di sebuah gudang tua milik seorang pelukis lulusan SMSR, sebatang kuas usang bicara pada selembar uang Rp 100 ribu hasil menjual lukisan di pasar kaget.
“Kenapa kita begitu murah?” tanya sang Kuas sedih.
Si Uang menjawab, “Karena kita tidak punya ajudan, tidak punya pengawal, dan tidak punya baliho di perempatan jalan.”
Tiba-tiba, suara deru mobil mewah terdengar. Sebuah lukisan Kuda Api lewat di atas truk menuju galeri nasional dengan pengawalan sirine.
Sang Kuas berbisik, “Lihat itu, harganya miliaran.”
Si Uang tertawa pahit, “Tenanglah Kuas. Dia harganya mahal karena ‘Siapa’ yang memegangnya. Tapi kau harganya mahal karena ‘Apa’ yang kau hasilkan. Dia akan disimpan di brankas baja untuk investasi, tapi karyamu akan dipajang di hati manusia untuk inspirasi. Investasi bisa bangkrut, tapi inspirasi akan hidup seribu tahun lagi.”
Pesan untuk Para Penjaga Api
Apa kabar pelukis Indonesia?
Janganlah melongo terlalu lama. Tutup mulutmu, ambil kembali kuasmu, dan lukislah ketidakadilan ini dengan warna yang paling jujur. Biarkan mereka memiliki “Kuda Api” yang laku miliaran, namun pastikan kalian memiliki “Api Jiwa” yang tak bisa dibeli oleh siapa pun.
Kesenian Indonesia sedang diuji: apakah ia akan menjadi pelayan kekuasaan atau menjadi avatar bagi kemanusiaan? Para lulusan ISI, SMSR, dan pelukis sanggar adalah benteng terakhir. Jika kalian menyerah dan hanya mengejar viralitas atau kedekatan dengan penguasa, maka tamatlah riwayat estetika bangsa ini.
Vincent van Gogh mati dalam kemiskinan, namun hari ini dunia bersujud pada karyanya. Kekuasaan sang mantan presiden akan luruh oleh waktu, namun kebenaran garis yang ditarik dengan darah dan air mata akan tetap abadi.
Tetaplah melukis, kawan. Karena di ujung kuasmu, Tuhan sedang menitipkan rahasia keindahan yang tak terjangkau oleh kalkulator para kolektor oportunis. Itu saja!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






