POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Adam Smith ke Omnibus Law

: Oligarki yang Menyandera Negara lewat Bisnis Tambang dan Perkebunan

RedaksiOleh Redaksi
December 17, 2025
Dari Adam Smith ke Omnibus Law
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sobirin Malian

Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan

Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776) tak hanya merintis ekonomi pasar bebas via (invisible hands) “tangan tak terlihat”, tetapi menusuk tajam intervensi negara yang busuk: monopoli didukung pemerintah, tarif proteksionis, hak istimewa dagang yang lahirkan rente buat segelintir “merchants and master manufacturers”—oligarki licik yang melobi birokrat demi tameng dari kompetisi ganas. Negara? Berakhir “tersandera” kepentingan sempit ini, menghancurkan inovasi, merusak efisiensi pasar, dan menghilangkan kesejahteraan rakyat yang kemudian, justru menjadi korban.​

Fenomena ini di Indonesia? Bukan hipotetis, tapi kenyataan brutal sehari-hari, terutama bisnis tambang dan perkebunan yang jadi poster child peringatan Smith.

Mengkhawatirkan? Ya, sangat fatal! Negara tak lagi netral, telah berubah menjadi antek oligarki. Abuse of power dilakukan terang-terangan: fasilitator lahan dirampas, hutan dibabat, laut diracuni demi cuan konglomerat dekat istana.​

Kritik Smith: Kronisme yang Menggerogoti Fondasi

Buku IV Smith membongkar East India Company: raksasa bisnis yang dipelihara negara malah jadi monster gemuk, gagal bersaing karena dilindungi dari pasar bebas, meremukkan produktivitas, dan membebani konsumen. Insentif oligarki struktural telanjang: akses kekuasaan eksklusif desain regulasi anti-kompetitif, ubah negara dari wasit adil jadi bandar judi rente. Bukan kritik ekonomi semata, tapi bom politik: kebijakan busuk meremukkan akar kemakmuran nasional.

Hukum jadi alat: negara bukan penjaga, tapi jongos. Kebijakan perkebunan? Banjir bandang, erosi ganas, lahan mandul—musibah lingkungan lahir dari sawit rakus. Tambang? Laut tercemar beracun, terumbu karang mati suram, ikan punah, hayati musnah. Dampak sosial? Penyakit menular meledak, konflik berdarah antarwarga, nilai adat hancur digilas excavator. Abuse of power ini bukan kecelakaan—itu desain oligarki ala Smith! Sadarkah kita, atau elit negara telah terlena?​

Paralel Mematikan: Omnibus Law sebagai Pintu Neraka Oligarki

Peringatan Smith “substansinya” ada dalam UU Cipta Kerja (Omnibus Law) 2020: OSS-RBA (Online Single Submission – Risk Based Approach) memotong birokrasi menjadi serba kilat, ketenagakerjaan lentur, minerba longgar, kawasan ekonomi bebas hambatan (PIK1, PIK2)—deregulasi kinclong selaras visi Smith minim red tape demi kompetisi brutal dan kemudahan usaha. Tapi pengesahan “kucing-kucingan” penuh muslihat tanpa partisipasi rakyat? Bom waktu!

📚 Artikel Terkait

Is Earth a Lonely Planet?

Cerita Dari Pulau

Melayarkan Kembali Kapal Kebanggaan

Selepas Hujan

Pasal-pasal licik ciptakan monopoli fresh buat konglomerat istana—echo kronisme Orde Baru, pengusaha kuasai DPRD dan kepala daerah demi proyek curi-curi. Simbiosis bisnis-politik? Dari mutualisme jadi predator asimetris: negara budak investasi elite, UMKM remuk, buruh diperas, daerah lumpuh otonomi. Yahya A. Muhaimin dalam bukunya tentang kaitan “Politik dan Bisnis” punya asumsi serupa dengan Adam Smith: jika kaum pemilik modal kuat dibiarkan masuk dan mendikte kekuasaan, negara pastitersandera—kebijakan tak lagi regulasi, tapi kemudahan semacam  “karpet merah” bagi oligarki.

Kritik Smith: Kronisme yang Menggerogoti Fondasi

Buku IV Smith membongkar East India Company: raksasa bisnis yang dipelihara negara malah jadi monster gemuk, gagal bersaing karena dilindungi pasar bebas, meremukkan produktivitas, dan bebankan konsumen bodoh. Insentif oligarki struktural telanjang: akses kekuasaan eksklusif desain regulasi anti-kompetitif, ubah negara dari wasit adil jadi bandar judi rente. Bukan mengkritik soal ekonomi an sich, tetapi menjadi bom politik: kebijakan busuk telah meremukkan akar kemakmuran nasional.

Fenomena ini menggambarkan, hukum telah menjadi alat: negara bukan penjaga, tapi jongos. Kebijakan perkebunan? Banjir bandang, erosi ganas, lahan mandul—musibah lingkungan yang lahir dari sawit rakus. Tambang? Laut tercemar beracun, terumbu karang mati suram, ikan punah, hayati musnah. Dampak sosial? Penyakit menular meledak, konflik berdarah antarwarga, nilai adat hancur lebur digilas excavator. Abuse of power ini bukan kecelakaan—itu desain oligarki ala Smith! Sadarkah kita atau bisa jadi elit negara telah terlena !!

Paralel Mematikan: Omnibus Law sebagai Pintu Neraka Oligarki

Peringatan Smith ada dalah ruh ganas di UU Cipta Kerja (Omnibus Law) 2020: OSS-RBA potong birokrasi kilat, ketenagakerjaan lentur, minerba longgar, kawasan ekonomi bebas hambatan (PIK1, PIK 2)—deregulasi kinclong selaras visi Smith minim red tape demi kompetisi brutal dan kemudahan usaha. Tapi, pengesahan “kucing-kucingan” penuh muslihat tanpa partisipasi rakyat? Bom waktu! 

Pasal-pasal licik telah menciptakan monopoli fresh buat konglomerat istana—echo kronisme Orde Baru, pengusaha kuasai DPRD dan kepala daerah demi proyek curi-curi. Simbiosis bisnis-politik? Dari mutualisme jadi predator asimetris: negara budak investasi elite, UMKM remuk, buruh diperas, akhirnya daerah lumpuh secara otonomi.

Implikasi Brutal dan Solusi Smith yang Tak Terkalahkan

Omnibus Law bisa jadi mesin growth kalau pro-kompetisi tulen ala Smith: negara batasi diri lindungi properti, hukum tajam, infrastruktur solid. Tapi realita? Lobi gelap ubah deregulasi jadi fasilitator oligarki, siklus berulang: dimana kekuasaan memudahkan bisnis,sangat pragmatis, akhirnya bisnis kuasai kekuasaan. Regulasi dan kebijakan menjadi karpet merah bagi oligark.

Solusi ala Adam Smith sejatinya tetap relevan: terapkan checks and balances kuat—transparansi penuh soal lobi bisnis (jangan kucing-kucingan), perkuatlembaga anti-korupsi (seperti KPK) atau kejaksaan yang benar-benar tegas, dan aturan yang adil tanpa pilih kasih. Indonesia perlu reformasi besar-besaran: gabungkan ekonomi pasar bebas dengan pengawasan rakyat yang ketat, supremasi hukum, agar tak ulang kesalahan masa lalu sebelum negara benar-benar dikuasai oligarki.

Implikasi dan Solusi Berbasis Smith

Secara analitis, Omnibus Law bisa mendorong pertumbuhan jika tetap pro-kompetisi seperti ajaran Smith—pemerintah terbatas pada perlindungan properti, hukum tegas dan adil, serta infrastruktur publik. Namun, risiko oligarki muncul saat deregulasi difasilitasi lobi terselubung, memperkuat pola di mana kekuasaan memuluskan bisnis tapi akhirnya bisnis mengendalikan kekuasaan. Solusi Smith masih relevan: terapkanchecks and balances kuat melalui transparansi lobi, penegakan anti-korupsi, dan regulasi netral untuk hindari “penyanderaan” negara. 

Di Indonesia, ini berarti reformasi yang mengintegrasikan liberalisme ekonomi dengan pengawasan demokratis, mencegah pengulangan jebakan historis  sebelum negara benar-benar jadi tahanan oligarki. Waktunya melakukan reformasi atau revitalisasi ulang sekarang juga, atau kita abadi jadi korban desain elite.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kampus Global atau Kampus Relevan?

Kampus Global atau Kampus Relevan?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00