Artikel · Potret Online

Sampai Kapan Truk-truk Itu Antre di SPBU?

Penulis  Rosadi Jamani
Mei 23, 2026
3 menit baca 18
72f97e49-7b9e-4e9e-8b29-1ddd9ce13ae1
Foto / IlustrasiSampai Kapan Truk-truk Itu Antre di SPBU?
Disunting Oleh

Oleh Rosadi Jamani

Saat pulang kampung kemarin, saya melewati banyak SPBU di sepanjang jalan dari Pontianak sampai Sambas. Di setiap SPBU yang menjual solar, pemandangannya sama persis seperti adegan film kiamat low budget produksi negara berkembang. Truk antre panjang, tapi sopirnya tidak ada. Mungkin lagi ngopi. 

Saya sampai bingung, ini SPBU atau lokasi pembagian sembako akhir zaman? Mau pagi, antre. Siang, antre. Magrib, antre. Bahkan saat SPBU tutup pun, truk-truk itu masih setia mengular seperti jemaah menunggu pintu surga subsidi dibuka. Rasanya solar subsidi sekarang lebih sakral dari minyak urapan kerajaan.

Saya sempat bertanya ke sopir yang membawa saya, “Sampai kapan truk-truk ini tidak antre lagi?” Dia cuma tersenyum kecil. Lalu geleng-geleng kepala. Itu bukan gelengan biasa. Itu gelengan orang yang sudah terlalu lama hidup di negeri absurd sampai kehilangan tenaga untuk berharap.

Awalnya saya kira Indonesia benar-benar darurat solar. Saya pikir mungkin stok langka. Mungkin distribusi terganggu. Mungkin kilang lagi pilek. Tapi makin lama saya memperhatikan, makin terasa ada sesuatu yang amis. Baunya bukan bau solar. Tapi bau permainan.

Lalu seorang follower dari Kaltara mengirim cerita lewat WA. Katanya ini pengakuan langsung dari orang yang sudah lima tahun berkecimpung di dunia persolaran bawah tanah. Dunia yang mungkin lebih terorganisir dari sebagian kantor pemerintahan. Tentunya ini cerita dari utara Kalimantan.

Di situ saya mulai sadar. Oh… jadi ini toh “Kerajaan Solar Subsidi”.

Harga resmi Bio Solar subsidi itu Rp6.800 per liter. Tapi para pengetap membayar Rp8.600. Ada selisih Rp1.800. Nah, uang selisih ini katanya mengalir indah bak sungai Kapuas saat musim hujan. Mengalir ke pemilik SPBU, petugas pengisian, preman jalanan, sampai “preman berseragam resmi”.

Lengkap. Ekosistemnya sehat. Semua kebagian rezeki nozzle.

Yang paling lucu sekaligus tragis, warga biasa cuma dapat jatah dua hari dalam sebulan untuk beli solar subsidi. Dua hari, Wak! Solar subsidi sekarang rasanya seperti konser Coldplay. Tiket cepat habis, yang dapat malah calo.

Sementara para pengetap punya jalur khusus. Mereka boleh isi maksimal 50 liter sekali jalan. Sudah ada aturan tak tertulis. Rapi. Disiplin. Bahkan mungkin lebih tertib dari antrean napi minta remisi.

Lalu mari kita masuk ke bagian yang bikin jidat berdenyut. Kalau satu SPBU menerima 10 kiloliter solar subsidi per hari, maka dari selisih Rp1.800 saja sudah muncul Rp18 juta sehari. Itu baru “uang pembukaan gerbang”.

Setelah itu solar dijual lagi Rp15 ribu per liter. Selisih keuntungan mencapai Rp64 juta per hari. 

Belum selesai. Sebagian solar dilempar lagi ke pengecer pinggir jalan dengan harga Rp20 ribu per liter. Di situ lahir lagi keuntungan Rp25 juta. Sisanya masuk ke korporasi Rp18 ribu per liter, muncul tambahan Rp15 juta.

Totalnya? Rp122 juta sehari. Sehari, wak. Itu baru satu SPBU. Kalau setahun? Sudah cukup bikin orang mendadak rajin sedekah sambil beli mobil baru dan posting quotes syukur di Facebook.

Lucunya, bisnis ini dilakukan terang-terangan. Solar eceran dijual di pinggir jalan seperti jual es teh jumbo. Jeriken berjejer santai. Semua orang tahu. Semua orang lihat. Tapi suasananya tetap tenang seperti negara sedang baik-baik saja.

Kadang saya curiga, jangan-jangan truk-truk antre itu bukan lagi cari solar. Tapi sedang ikut ritual nasional bernama “subsidi menguap berjamaah”.

Tapi beginilah negeri ini bekerja. Rakyat antre solar sampai ubanan. Pengecer solar tumbuh lebih cepat dari lapangan kerja. Mafia subsidi hidup makmur seperti tanaman hidroponik disiram APBN setiap hari.

Sementara sopir-sopir itu tetap menunggu di bawah matahari, memandangi nozzle SPBU seperti rakyat kecil memandangi keadilan. Kelihatan dekat, tapi entah kenapa tidak pernah benar-benar sampai.

Jadi pertanyaannya, “Sampai kapan truk-truk itu antre di SPBU?” Silakan jawab sendiri sambil seruput Koptagul, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYMQ van

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...