• Latest

Air Mata Aceh

Desember 10, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Air Mata Aceh

Redaksiby Redaksi
Desember 10, 2025
Reading Time: 2 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Karya Rasya Ramadhani
Siswa SMAN 1 LHOKSEUMAWE

Hujan terus mengguyur, membasahi bumi Serambi Mekah yang kini berubah menjadi lautan luas. Sungai-sungai meluap, menyapu bersih rumah-rumah warga yang berdiri di tepinya. Aisyah berdiri sendirian di atas genteng rumahnya yang hampir tenggelam, menatap banjir yang merendam kampung halamannya. Ia memeluk erat tas berisi kenangan masa kecil, sementara air mata terus mengalir deras.

“Ayah, Ibu, di mana kalian?” teriaknya, suaranya tenggelam dalam gemuruh air. Ia mencari-cari kedua orang tuanya, tapi tak ada jawaban. Yang ada hanya air dan lumpur yang terus naik.

Banjir besar ini bukan hanya menghancurkan rumah-rumah, tapi juga menghancurkan harapan. Aisyah kehilangan banyak hal: rumah, kenangan, dan mungkin juga orang-orang yang dicintainya. Ia merasa sendirian di dunia yang kini begitu hampa.

Di pengungsian, Aisyah bertemu dengan banyak orang yang juga kehilangan segalanya. Mereka semua terpisah dari keluarga mereka, dan kini hanya bisa berharap bahwa orang-orang yang mereka cintai masih hidup. Aisyah melihat seorang nenek tua yang kehilangan cucu satu-satunya, melihat seorang ayah yang kehilangan istri dan anaknya. Ia melihat luka-luka yang tak hanya fisik, tapi juga mental.

Aisyah merasa tak berdaya, tak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan berdoa. Ia berdoa agar orang tuanya masih hidup, agar dia tidak sendirian di dunia ini. Tapi, doa-doa itu tak kunjung terjawab.

Hari-hari berlalu, dan air mulai surut. Aisyah kembali ke rumah, atau lebih tepatnya, ke tempat di mana rumahnya dulu berdiri. Yang tersisa hanya puing-puing dan lumpur. Ia menangis keras, merasa kehilangan yang tak terperi.

Tiba-tiba, ia mendengar suara yang familiar. “Aisyah, Aisyah!” Suara itu semakin dekat, dan Aisyah melihat sosok ibunya berlari menuju ke arahnya. “Ibu!” teriak Aisyah, berlari menuju ibunya dan memeluknya erat.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

“Aku selamat, Nak. Ayah juga selamat,” kata ibunya, sambil menangis bahagia.

Aisyah merasa seperti terbangun dari mimpi buruk. Ia memeluk ibunya erat, merasa bahagia yang tak terperi. Mereka berdua berjalan menuju tempat pengungsian, berharap ayahnya sudah menunggu di sana.

Saat mereka tiba, Aisyah melihat ayahnya sedang menunggu dengan senyum lebar di wajahnya. “Ayah!” teriak Aisyah, berlari menuju ayahnya dan memeluknya erat.

Mereka bertiga bersatu kembali, menangis bahagia dan bersyukur atas keselamatan mereka. Aisyah tahu bahwa hidup akan terus berjalan, dan mereka akan menghadapi tantangan bersama-sama. Mereka akan membangun kembali rumah mereka, membangun kembali hidup mereka. Dan Aisyah tahu bahwa cinta dan kasih sayang akan selalu menjadi kekuatan mereka.

Lhokseumawe 06 Desember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Pahit Kopi Kembali Manisnya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com