• Latest
Luka di Pelaminan

Luka di Pelaminan

Mei 28, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Luka di Pelaminan

Redaksiby Redaksi
Mei 28, 2025
in #Cerpen, Cerpen, Cerpen Remaja, Kumpulan cerpen
Reading Time: 3 mins read
Luka di Pelaminan
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hendriyatmoko


Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Namaku Heru. Sejak SMA, hidupku tak pernah lepas dari dua nama: Aldo, sahabatku, dan Tatik, gadis yang diam-diam telah menawan hatiku sejak kelas dua. Aku dan Aldo seperti dua sisi mata uang: tak terpisahkan, saling melengkapi, dan bersama-sama menempuh hidup dari remaja sampai dewasa.

Tatik, bagiku, lebih dari sekadar perempuan yang cantik. Ia sabar, sederhana, dan punya tawa yang selalu bisa mengusir galauku. Tapi aku pengecut. Aku terlalu takut merusak persahabatan kami bertiga, karena diam-diam aku tahu—Aldo juga menyukai Tatik.

Waktu terus berlalu. Sampai suatu malam, Wawan—teman kami yang biasa tak banyak bicara—datang ke rumah dengan raut wajah penuh kemarahan.

“Her, aku nggak kuat nyimpen ini sendiri. Lo harus tahu apa yang Aldo lakuin ke Tatik waktu gathering kampus dulu…”

Dari Wawan, Ela, Yosep, bahkan Tirta, aku mulai mengumpulkan kepingan kenyataan pahit: Aldo telah menodai Tatik. Sebuah malam yang diawali candaan, minuman, dan akhirnya… penghianatan.

Hatiku hancur. Tapi lebih hancur lagi melihat Tatik yang menutup diri dari semua orang. Ia berhenti kuliah, menghindar, dan menjadi bayangan dari dirinya yang dulu ceria. Aku merasa bersalah. Aku tak menjaganya. Aku membiarkannya terjatuh dalam lubang gelap, sendirian.

Maka, aku mengambil keputusan yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

“Aku akan menikahi Tatik,” kataku lirih pada Eni dan Surya, dua teman yang paling dekat dengan Tatik. Mereka hanya terdiam, tapi air mata di mata mereka cukup jadi jawaban.


Hari pernikahan kami bukan hari bahagia seperti yang kubayangkan. Tatik tidak tersenyum. Tatapan matanya dingin, menusuk, dan penuh curiga.

“Apa kamu menikahiku karena kasihan?” tanyanya saat kami hanya berdua di kamar pengantin.

“Tidak,” jawabku lirih. “Karena aku mencintaimu.”

Dia tertawa miris. “Lalu kenapa kau diam saat aku hancur dulu?”

Aku tak sanggup menjawab.

Hari-hari setelah itu seperti mimpi buruk yang terus berulang. Tatik menjauh. Tak pernah menyentuhku. Kata-katanya dingin, kadang sinis. Di meja makan, di tempat tidur, bahkan saat kami pergi ke rumah orang tuaku, dia tak pernah benar-benar hadir sebagai istri.

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aldo? Ia hilang dari kehidupan kami. Tapi bayang-bayangnya tak pernah pergi dari pernikahan ini. Tatik terus hidup dalam trauma. Dan aku… terus berjuang mencintainya meski disambut dengan kebencian.

“Aku bukan musuhmu, Tik,” ucapku suatu malam, menahan tangis.

Dia menatapku tajam. “Tapi aku adalah musuh dari semua kenangan yang gagal kau hapus. Termasuk sahabatmu itu.”


Waktu berlalu. Onok, anak tetangga yang sering bermain ke rumah kami, suatu hari mengantar surat. Dari Aldo. Surat panjang berisi penyesalan, permohonan maaf, dan keputusannya meninggalkan kota ini.

ADVERTISEMENT

Kubakar surat itu. Tak kubiarkan Tatik membacanya. Bukan karena ingin menutupi, tapi karena tahu: yang ia butuhkan bukan maaf. Tapi keadilan dan waktu.

Tatik belum memaafkanku. Tapi hari ini, dia mulai membuka tirai kamarnya. Dia menyiram bunga. Dan saat aku pulang, dia menyambutku dengan segelas teh hangat di meja.

Tanpa kata. Tapi cukup membuatku percaya: cinta bisa tumbuh, bahkan di atas tanah luka yang menghitam.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Dorong Kolaborasi Menuju Pemulihan Pendidikan

Dorong Kolaborasi Menuju Pemulihan Pendidikan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com