• Latest

Hanya Mimpi

April 15, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hanya Mimpi

Sindi Hazirahby Sindi Hazirah
April 15, 2025
Reading Time: 6 mins read
Tags: CerpenLiterasi
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Sindi Hazirah

Beberapa hari lagi, kami sekelas akan berpisah dan akan melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri. Kelas 12 adalah kelas terakhir dari masa-masa remaja yang indah. Kisah cinta pertama, persahabatan yang erat dan juga manis, pahitnya drama yang menghiasi kami.

Hari ini kami berencana untuk piknik. Membagikan momen bahagia yang tidak akan terkalahkan dan akan terkenang sampai kapanpun. Aku tersenyum bahagia, menatap teman-teman yang berlarian menuju halaman museum yang menyimpan banyak peninggalan sejarah.

“Aku terlalu bahagia sampai rasa-rasanya ini seperti mimpi,” ujar Mella yang berdiri di sampingku. Wajahnya gelisah tak menentu, membuat aku tertawa.

“Apa salahnya sih sesekali bahagia? Nikmati saja.”

Dia hanya mengangguk kecil merespon ucapanku. Lalu, dengan langkah tenang ia kemudian menyusul teman-teman yang lain di depan sana.

Beberapa diantara mereka berfoto-foto untuk sekedar kenangan, beberapanya lagi asik melihat prasasti-prasasti unik sampai lupa mengabadikannya lewat ponsel. Sementara aku hanya menatap mereka dari kejauhan, melihat senyum indah yang terukir di wajah teman-teman yang mungkin jarang ku lihat dari dahulu.

Namun, ujian telah selesai sekarang. Kami sudah bisa bebas dan melanjutkan kehidupan seperti biasanya. Ya, walaupun yang namanya hidup pasti ada masalah, tetapi setidaknya beban yang kami pikul sudah sedikit berkurang.

Tanpa ku sadari, hujan turun di luar sana. Kami semua berlari menuju jendela kaca besar di dinding sisi kiri museum. Melihat air hujan yang membasahi jendela dengan alunan lagu dari ponsel Abimanyu. Pemuda tampan itu hanya tertawa tanpa beban, menyetel lagu sedih untuk membuat momen jadi seperti di melodrama.

“Abimanyu, volumenya jangan terlalu kencang. Mengganggu wisatawan yang lain.”

Dia hanya cengengesan mendengar teguran sang guru. Bahkan tak menggubrisnya. Masih tetap menaikkan volume agar semua bisa mendengar.

“Kau ini,” kesal ku yang hanya membuatnya tertawa.

“Tapi aku suka lagunya. Ini cocok dengan suasana sekarang,” lanjut Mahesa kemudian.

“Teman-teman, bagaimana kalau kita mandi hujan saja?” saran Yuda tiba-tiba, membuat semuanya tampak berpikir.

Tak lama setelah itu, semuanya malah tersenyum lebar. ” Boleh juga idenya!” kata kami serentak.

Kami semua keluar dari museum. Ibu guru hanya bisa geleng-geleng kepala, tetapi tidak melarang, karena pikirnya kami mungkin akan bahagia dengan hal sederhana itu.

Saat hujan mengenai badan, saat tawa kami muncul diiringi nyanyian sang hujan, saat mata saling memandang dengan binarnya masing-masing, dan saat awan mendung semakin menjatuhkan bulir-bulir air itu, kami menikmati masa remaja ini dengan keindahan yang tidak akan terlupakan. Menciptakan momen yang mungkin akan kami kenang sampai kami tua.

Atau mungkin .. kami tidak akan pernah tua.

“Aaakh!” Aku terbangun. Di sebuah ruangan bernuansa putih dan bau obat-obatan yang memenuhi panca indra. Infus yang terpasang di tangan kananku sudah menjadi pertanda bahwa aku sekarang berada di rumah sakit. Ingatan beberapa waktu lalu mulai memenuhi pikiran.

2 Hari Yang Lalu

Bus pariwisata yang diisi oleh 25 remaja dari kelas 12 itu melaju sedang memecah keheningan jalan menuju tempat wisata. Di dalamnya, mereka tertidur pulas karena sudah menghabiskan beberapa jam untuk bernyanyi dan saling melemparkan lelucon.

Hujan deras di luar dan malam yang gelap membuat pak supir kesusahan membawa busnya. Ia berusaha mencari tempat istirahat, tetapi tidak ada apapun di sekitar sini, karena hanya jalanan di pinggir pegunungan yang tidak ada penduduknya.

Saat suara hujan semakin keras dan bertalu-talu, beberapa di antara para siswa terbangun dari tidur. Melihat sekeliling yang sepi, bahkan jendela bus hanya menampilkan air hujan yang mengalir terus-menerus.

“Wah, hujannya sangat deras.”

“Entah kenapa aku jadi khawatir.”

“Aku juga.”

Beberapa dari mereka tampak gelisah. Memeluk ransel masing-masing dengan erat. Mungkin berusaha menghilangkan sensasi dingin yang menusuk-nusuk kulit, ataupun menghilangkan rasa gelisah yang melanda.

Aku dari tadi tidak tidur. Terjaga sejak berangkat sampai sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja, hatiku dari tadi tidak enakan. Merasa seperti akan ada sesuatu yang menimpa kami. Namun, aku berusaha menepis pemikiran konyol tersebut dengan mendengarkan musik kesukaan.

Disaat seperti ini, aku jadi merindukan keluarga ku di rumah. Akh, semoga aku bisa pulang.

ADVERTISEMENT

Guntur mulai bersuara, kilat pun tak mau kalah. Aku menatap sekeliling, tampaknya semua dari kami sudah terbangun juga. Melihat mereka yang saling menggenggam tangan untuk sekedar menguatkan satu sama lain. Sementara ibu guru hanya bisa menggigit kukunya dan mengetik sesuatu pada ponsel itu. Mungkin ingin menelepon seseorang.

Guntur mulai bersuara, kilat pun tak mau kalah. Aku menatap sekeliling, tampaknya semua dari kami sudah terbangun juga. Melihat mereka yang saling menggenggam tangan untuk sekedar menguatkan satu sama lain. Sementara ibu guru hanya bisa menggigit kukunya dan mengetik sesuatu pada ponsel itu. Mungkin ingin menelepon seseorang.

“Ayunda, kamu tidak khawatir? Aku rasa .. kita akan menghadapi sesuatu,” ujar Mella yang terlihat sudah menangis.

“Aku takut,” lanjutnya lagi. “Aku juga takut, tapi.”

Tin!!!!!!!

Dhoom!!!

“AAAAAAA!!!”

Suara-suara itu memenuhi telinga saat semuanya mulai menggelap. Aku tidak lagi tahu apa yang terjadi, seperti kekhawatiran tadi, mungkin saja, kami semua .. tidak akan bisa melanjutkan hidup.

Air mata jatuh membasahi pipi. Aku ingat yang terjadi dua hari yang lalu. Bus yang kami naiki jatuh ke jurang yang curam.

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aku Merindu

Maret 17, 2026

“Di mana teman-temanku yang lain?” tanyaku kepada ibu yang sedang memotong apel untukku di samping ranjang.

Ibu tidak langsung menjawab. Dia hanya menampilkan wajah datar dan berusaha menutupi emosi di baliknya.

“Ibu!”

Beliau terisak. “Mereka semua sudah tiada, Ayu.”

Aku menutup mulutku tak percaya. Air mata terus berjatuhan tanpa aba-aba, sementara kepalaku bergeleng-geleng menolak untuk percaya apa kata ibu. “Tidak mungkin!” elak ku.

“Semuanya, semuanya tiada, Ayu. Bahkan guru dan supir mu. Hanya dirimu yang selamat.”

Bagai disambar petir di siang hari. Ini berita yang tidaklah menyenangkan. Aku tidak ingin menerima kenyataan ini. “Ja-jangan bercanda ibu….” Aku menutup seluruh wajahku. Menumpahkan air mata disana.

Aku bermimpi tentang mereka disaat mereka telah tiada. Itu mimpiku, tetapi terasa seperti kenyataan.

Aku kemudian bangun dari ranjang, membawa tiang infus dan keluar dari ruangan itu. Ibu mengejar sampai aku tiba di halaman rumah sakit. Suasana hari ini tampak cerah, berbanding terbalik dengan hari saat kami kecelakaan.

Suara tangisanku yang meratapi ini semua membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menatap heran, walau tidak ada yang ingin ikut campur. Sementara aku masih terus menangis, mengabaikan semuanya yang ada di sekelilingku.

Kenapa ini terjadi kepada kami?? Dimana Mella? Kenapa dia bahkan tidak menjengukku yang sakit?

“Ayu, aku rasa aku menyukaimu. Aku tahu kamu tidak ingin berpacaran sekarang, tapi haruskah saat kita lulus nanti?” Senyum kikuk Abimanyu saat itu kembali muncul menyesakkan jantungku.

Namun, kamu tidak lagi ada disini, Abi. Kamu telah pergi lebih dulu, meninggalkan aku sendiri.

“Haruskah kita membangun toko kue bersama? Kau tau, aku sangat suka membuat kue dan kau juga begitu. Kita mempunyai bakat yang sama.” Mata binar Mahesa waktu itu sungguh indah saat ia mulai melontarkan ide tersebut.

Kenapa .. kenapa kau juga pergi, Mahesa? Bagaimana dengan mimpimu menjadi pemilik toko kue terbanyak? Kau .. kau bahkan belum mencapai mimpi itu.

“Mimpiku sederhana, aku ingin kita terus berteman sampai kita tua.”

Mimpimu tidak terwujud, Yuda.

Kalian semua telah pergi ke sisi lain dunia. Kembali menghadap sang pencipta. Nyawa yang singkat, tetapi kenapa .. kenapa sesingkat itu?? Bagaimana dengan aku? Kenapa kalian meninggalkan ku untuk mengenang semuanya. Ini tidak adil!!!

Aku bertekuk lutut. Menumpahkan semuanya di sana. Jadi .. bahagia yang mewarnai kita saat itu, hanya mimpi, ya?

TAMAT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Gen Z Suara Kita: Saatnya Politik Dihidupkan Kembali oleh Generasi Digital

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com