Artikel · Potret Online

Hilangnya Nilai Ke-Acehan Dalam Jati Diri Siswa

Refleksi Peringatan Hardikda Tahun 2026
Penulis  Nopri Hariadi
September 2, 2026
3 menit baca 29
1001943737_11zon
Foto / IlustrasiNopri Hariadi, S.Pd, Gr, CPLA ( Guru Pendidikan Pancasila SMK Negeri 3 Banda Aceh ) saat akan berangkat menghadiri pelantikan Presiden

Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) setiap 2 September seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia harus menjadi ruang refleksi: pendidikan seperti apa yang benar-benar kita butuhkan hari ini?

Tahun ini, saya dan rekan-rekan sepakat mengangkat tema yang berat namun penting: Hilangnya Nilai Keacehan dalam Jati Diri Siswa.”

Gejala yang Tak Bisa Diabaikan

Mengapa tema ini menjadi fokus? Karena ada gejala yang tidak bisa kita abaikan lagi.

Di kelas, saya sering menemukan siswa yang lancar berbahasa Inggris dan fasih mengikuti tren global, tetapi canggung ketika diminta berbahasa Aceh. Mereka tahu seluk-beluk K-Pop, tetapi tidak mengenal Hikayat Prang Sabi. Mereka jago membuat konten digital, tetapi asing dengan permainan tradisional seperti meuseukat atau dal-dalan.

Ini adalah krisis identitas. Kita sedang melahirkan generasi yang hebat secara kognitif, namun rapuh secara kultural.

Fenomena ini sejalan dengan teori sosiokultural Lev Vygotsky yang menegaskan bahwa bahasa dan budaya bukan sekadar alat komunikasi, melainkan alat utama pembentukan cara berpikir dan identitas seseorang. Ketika bahasa dan simbol budaya lokal perlahan hilang dari keseharian anak, yang hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga kerangka berpikir yang membentuk siapa dirinya.

Akar yang Mulai Kering

Saya sering mengibaratkan siswa seperti sebatang pohon. Kurikulum nasional adalah pupuk yang membuat daunnya rimbun. Nilai, sertifikat, dan prestasi adalah buahnya.

Namun, akar yang menahannya tetap tegak adalah nilai-nilai lokal. Jika akar itu kering, sekali diterpa angin globalisasi dan media sosial, pohon itu akan mudah tumbang.

Ki Hajar Dewantara sejak awal telah mengingatkan hal ini melalui gagasan pendidikan yang berpihak pada kodrat alam dan kodrat zaman: pendidikan harus mengakar pada budaya dan lingkungan tempat anak tumbuh, sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Akar dan daun harus tumbuh bersama, bukan salah satu dikorbankan.

Nilai Keacehan yang Selaras dengan Pancasila

Nilai keacehan bukan hanya soal bahasa atau tarian. Ia adalah sebuah sistem nilai yang utuh: *peumulia jamee* yang mengajarkan hormat kepada tamu, semangat gotong royong di gampong, adab kepada guru dan ulama, serta syariat yang menjadi nafas hidup masyarakat Aceh.

Nilai-nilai ini justru sangat selaras dengan Pancasila. Syariat menghidupkan sila pertama. Adab dan gotong royong menghidupkan sila kedua dan kelima.

Masalahnya, pendidikan kita hari ini terlalu fokus mengejar standar nasional dan global, sehingga muatan lokal hanya menjadi “pelengkap”. Akibatnya, siswa merasa nilai keacehan adalah sesuatu yang kuno dan tidak relevan.

Teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner bisa menjelaskan mengapa ini terjadi. Identitas anak tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi oleh lapisan-lapisan lingkungan di sekitarnya: keluarga, gampong, sekolah, hingga budaya digital global. Ketika lapisan budaya lokal (gampong, tuha peut, adat) melemah dan digantikan sepenuhnya oleh lapisan digital global, keseimbangan itu goyah, dan nilai lokal kalah bersaing.

Solusi: Digitalisasi Berbasis Jati Diri

Solusinya bukan menolak modernitas. Justru anak SMK harus menjadi garda terdepan industri kreatif.

Yang kita butuhkan adalah sintesis, bukan pertentangan: Digitalisasi Berbasis Jati Diri.

Buatlah aplikasi kamus Bahasa Aceh. Ciptakan desain fashion dengan motif Aceh. Produksi konten edukasi tentang sejarah Kesultanan Aceh untuk TikTok dan YouTube. Dengan begitu, teknologi menjadi kendaraan bagi budaya, bukan penggantinya.

Tiga Langkah Konkret Hardikda Tahun Ini

1. Program “Kamis Berbahasa Aceh”— membiasakan siswa berkomunikasi dalam bahasa daerah setiap pekan.

2. Menghidupkan kembali ekstrakurikuler** Rapa’i, Saman, dan Kaligrafi Jawi.

3. Melibatkan orang tua dan tuha peut dalam penguatan karakter siswa.

Dua Sayap untuk Generasi Aceh

Hardikda harus menjadi titik balik. Kita tidak ingin, 20 tahun lagi, ada anak Aceh yang ditanya asal-usul tari Saman lalu menjawab “dari Korea”.

Kita ingin melahirkan lulusan yang punya dua sayap: sayap skill untuk terbang tinggi, dan sayap jati diri agar tidak kehilangan arah pulang.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Guru PPPK SMK Negeri 3 Banda Aceh yang suka tantangan
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...