GAMAS dan Anak Yatim

Muhammad Syawal Djamil
Saya meyakini bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GAMAS) memiliki tujuan yang sangat mulia. Gerakan ini merupakan upaya untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak sejak hari pertama sekolah.
Kehadiran ayah pada momen tersebut diharapkan mampu memperkuat ikatan emosional dalam keluarga sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Namun, di balik tujuan baik tersebut, terdapat satu kelompok yang kiranya perlu mendapat perhatian khusus, yaitu anak-anak yatim. Di Aceh sendiri, jika merujuk pada data yatim piatu penerima bantuan pendidikan tahun 2025, jumlah anak yatim yang masih berstatus sebagai pelajar mencapai lebih 90 ribu orang (disdik.acehprov.go.id).
Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian penting dari peserta didik yang juga perlu dipertimbangkan dalam setiap kebijakan maupun gerakan pendidikan yang bersifat massal.
Ketika pemerintah, sekolah, dan masyarakat secara luas mengampanyekan pentingnya seorang ayah mengantar anak pada hari pertama sekolah, sebagian anak yatim berpotensi mengalami pengalaman sosial yang berbeda dibandingkan teman-teman sebayanya.
Pada momen seperti itu, mereka mungkin semakin menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki sosok ayah yang dapat menemani perjalanan menuju sekolah. Kesadaran tersebut bukan semata-mata tentang tidak adanya pendamping, melainkan pengalaman emosional yang dapat muncul ketika melihat teman-teman memperoleh kebersamaan yang tidak lagi dapat mereka rasakan.
Hal tersebut dapat dipahami karena aktivitas mengantar anak ke sekolah bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam perspektif sosiologi, khususnya melalui teori Interaksionisme Simbolik yang dikembangkan Herbert Blumer, manusia memberi makna terhadap tindakan melalui proses interaksi sosial.
Mengantar anak ke sekolah dapat dimaknai sebagai simbol kasih sayang, perhatian, dukungan emosional, serta keterlibatan keluarga dalam pendidikan. Karena makna suatu tindakan dibentuk oleh pengalaman hidup masing-masing individu, simbol yang menghadirkan kebahagiaan bagi sebagian anak dapat dimaknai berbeda oleh anak yatim.
Bagi sebagian anak yatim, momen tersebut berpotensi menjadi pengingat atas kehilangan sosok ayah yang dahulu, atau yang seharusnya, mendampingi perjalanan pendidikannya. Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat memunculkan beragam respons emosional, seperti rasa sedih ketika melihat teman-temannya datang bersama ayah, merasa berbeda dari teman sebaya, menurunnya rasa percaya diri dalam situasi tertentu, atau rasa canggung apabila sekolah secara khusus meminta setiap siswa hadir bersama ayahnya.
Meski demikian, dampak tersebut tentu tidak bersifat universal. Setiap anak memiliki pengalaman kehilangan, tingkat ketahanan diri (resilience), serta dukungan sosial yang berbeda-beda. Banyak anak yatim yang tumbuh menjadi pribadi yang tangguh karena memperoleh kasih sayang dari ibu, keluarga besar, wali, guru, maupun lingkungan sosial yang suportif.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini tidak juga bermaksud untuk menggeneralisasi pengalaman seluruh anak yatim, tapi mengajak kita semua untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya kelompok anak yang membutuhkan perhatian lebih dalam pelaksanaan sebuah program.
Atas dasar itu, agar gerakan ini benar-benar mencerminkan semangat pendidikan yang inklusif, pelaksanaannya kiranya dapat mengakomodasi keberagaman struktur keluarga yang ada di masyarakat. Makna “ayah mengantar anak” sebaiknya tidak dipahami secara sempit sebagai kehadiran ayah biologis semata, melainkan sebagai simbol hadirnya figur pendamping utama dalam kehidupan anak.
Bagi anak yatim, peran tersebut dapat dijalankan oleh ibu, kakek, paman, kakak laki-laki, wali, ataupun anggota keluarga lain yang selama ini menjadi sumber kasih sayang, perlindungan, dan pengasuhan. Dalam praktiknya, sekolah juga dapat menggunakan istilah “orang tua atau pendamping” dalam penyampaian informasi kepada peserta didik sehingga tidak ada anak yang merasa tersisih karena kondisi keluarganya, sementara tujuan utama gerakan tetap dapat diwujudkan.
Dengan pendekatan seperti itu, esensi GAMAS tetap terjaga, yaitu memperkuat keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak. Sebab, yang paling penting bukanlah siapa yang mengantar secara biologis, melainkan hadirnya sosok dewasa yang memberikan rasa aman, perhatian, dukungan emosional, dan semangat kepada anak saat memulai perjalanan pendidikannya.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan pendidikan bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang terlibat, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan rasa diterima bagi setiap anak, apa pun latar belakang keluarganya.
Nyanban.












