Artikel · Potret Online

Guru Besar Vs ‘Guree Rayek’: Ketika Pengakuan Akademik Berbeda dengan Pengakuan Masyarakat

Penulis  Mahmudi Hanafiah
Juli 2, 2026
5 menit baca 67
3b29ebf3-4259-4274-99eb-08ed4568f179
Foto / IlustrasiGuru Besar Vs ‘Guree Rayek’: Ketika Pengakuan Akademik Berbeda dengan Pengakuan Masyarakat
Disunting Oleh

Oleh Mahmudi Hanifah, SH, MH

Di lingkungan perguruan tinggi, jabatan Guru Besar merupakan puncak karier akademik yang diperoleh melalui proses panjang. Seorang dosen dituntut memenuhi berbagai indikator kinerja, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga berbagai persyaratan administratif yang diukur melalui angka kredit atau KUM (Kredit Unit Minimal). 

Sistem ini pada dasarnya dirancang untuk memastikan bahwa jabatan akademik diberikan kepada mereka yang memiliki rekam jejak keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, dalam praktiknya, kehidupan akademik semakin dipenuhi oleh tuntutan administratif. Aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi saja tidak lagi dianggap cukup. Setiap kegiatan harus didokumentasikan, diverifikasi, dan diunggah ke dalam berbagai sistem pelaporan. 

Sebuah pengabdian yang nyata di tengah masyarakat tidak akan bernilai dalam penilaian jabatan fungsional apabila tidak tercatat secara administratif. Akibatnya, banyak dosen yang harus membagi waktu antara menjalankan tugas akademik dengan memenuhi berbagai kewajiban birokrasi.

Administrasi memang merupakan bagian penting dari tata kelola perguruan tinggi modern. Akan tetapi, persoalan muncul ketika orientasi terhadap administrasi mulai menggeser substansi. Tidak sedikit energi akademisi yang akhirnya terkuras untuk mengejar angka kredit, sementara dampak nyata dari aktivitas akademiknya terhadap masyarakat justru menjadi kurang terlihat. 

Bahkan, bukan tidak mungkin ada pihak yang lebih sibuk melengkapi berkas dibandingkan menjalankan substansi Tri Dharma itu sendiri.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan realitas di luar kampus. Di tengah masyarakat, terdapat banyak tokoh agama dan ulama yang sepanjang hidupnya mengabdikan ilmu tanpa pernah memikirkan angka kredit, laporan kinerja, ataupun jenjang jabatan akademik. 

Mereka mengisi pengajian dari masjid ke masjid, menjawab persoalan keagamaan masyarakat, mendamaikan konflik keluarga, menjadi tempat bertanya bagi generasi muda, hingga hadir dalam berbagai aktivitas sosial. Hampir seluruh aktivitas mereka sesungguhnya merupakan implementasi nyata dari pendidikan, penelitian berbasis pengalaman, dan terutama pengabdian kepada masyarakat.

Ironisnya, seluruh pengabdian tersebut tidak pernah tercatat dalam sistem penilaian akademik. Mereka tidak memperoleh KUM, tidak mengajukan kenaikan jabatan fungsional, dan tidak pernah menyandang gelar Guru Besar dalam pengertian formal. 

Namun, masyarakat justru memberikan pengakuan yang jauh lebih bermakna. Mereka dihormati sebagai ‘Guree Rayek’, sebuah istilah dalam bahasa Aceh yang secara harfiah memiliki makna yang sama dengan ‘Guru Besar’ tetapi lahir dari pengakuan sosial, bukan dari keputusan administratif.

Di Aceh, sosok-sosok seperti Abuya, Abon, Abu, Waled, Abi, Ayah, maupun berbagai panggilan kehormatan lainnya bukan sekadar gelar kultural. Sebutan tersebut merupakan bentuk penghormatan masyarakat kepada mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk membimbing umat. 

Pengakuan itu tidak diberikan karena publikasi ilmiah yang mereka hasilkan atau jabatan struktural yang mereka miliki, melainkan karena kehadiran mereka yang terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Fenomena ini semestinya menjadi bahan refleksi bagi dunia akademik. Tentu tidak tepat mempertentangkan Guru Besar dengan Guree Rayek, karena keduanya memiliki ruang pengabdian yang berbeda. Akan tetapi, sangat disayangkan apabila terjadi jarak yang terlalu lebar antara kampus dengan masyarakat. 

Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang sibuk mengurus administrasi internal, sementara kebutuhan intelektual dan spiritual masyarakat hanya dipenuhi oleh pihak di luar kampus.

Idealnya, seorang Guru Besar tidak hanya menjadi rujukan dalam forum ilmiah atau ruang kuliah, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai pembimbing, pendidik, dan pemberi solusi atas berbagai persoalan sosial. Keilmuan yang tinggi semestinya semakin mendekatkan akademisi kepada masyarakat, bukan justru membatasi interaksi karena padatnya urusan administratif.

Ada sisi lain yang patut menjadi perhatian. Para ulama yang aktif membimbing masyarakat justru sering kali menjadi pihak yang paling rentan menerima kritik, bahkan hinaan. 

Ketika mereka menyampaikan fatwa atau pandangan keagamaan yang tidak sejalan dengan kepentingan kelompok tertentu, berbagai tudingan dan cemoohan mudah diarahkan kepada mereka. Padahal, mereka menjalankan tugas yang sesungguhnya sangat berat, yakni menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran berdasarkan ilmu yang mereka miliki.

Ironisnya, beban sosial semacam itu lebih banyak dipikul oleh para ‘Guree Rayek’ daripada oleh kalangan akademisi. Padahal, membimbing masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari misi pendidikan tinggi. 

Jika para Guru Besar lebih aktif hadir di ruang publik, menyampaikan pandangan ilmiah kepada masyarakat, serta ikut membina kehidupan sosial dan keagamaan, maka konsekuensi berupa kritik dan penolakan juga akan menjadi bagian dari tanggung jawab mereka. Hal itu merupakan konsekuensi alamiah dari peran seorang intelektual publik.

Karena itu, keberadaan Guru Besar dan ‘Guree Rayek’ seharusnya tidak dipandang sebagai dua posisi yang saling berhadapan. Sebaliknya, keduanya perlu saling melengkapi. Guru Besar memiliki legitimasi akademik yang kuat, sementara ‘Guree Rayek’ memiliki legitimasi sosial yang tumbuh dari pengabdian panjang kepada masyarakat. 

Ketika keduanya berjalan beriringan, ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di ruang-ruang kampus, tetapi juga hidup dan memberi manfaat di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, ukuran kebesaran seorang pendidik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya angka kredit yang berhasil dikumpulkan atau panjangnya daftar publikasi ilmiah yang dimiliki. Kebesaran sejati juga tercermin dari seberapa luas ilmu itu memberi manfaat, seberapa besar pengaruhnya dalam membimbing masyarakat, serta seberapa tulus pengabdiannya kepada umat. 

Sebab, gelar Guru Besar dapat diberikan melalui keputusan institusi, tetapi gelar ‘Guree Rayek’ hanya dapat dianugerahkan oleh hati masyarakat yang merasakan langsung manfaat dari ilmu dan keteladanan seseorang.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...