Guru Besar” atau Guru yang Merasa Diri Besar?

Refleksi Akademik tentang Ilmu, Integritas, dan Pengabdian di Aceh
Oleh : Teuku Muhammad Jamil
Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK).
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
ACEH sejak dahulu dikenal sebagai negeri para ulama, cendekiawan, dan guru. Dalam masyarakat Aceh, gelar paling mulia sesungguhnya bukanlah gelar yang ditulis di depan nama, melainkan gelar yang hidup di hati masyarakat.
Karena itu, masyarakat Aceh mengenal istilah Guree Rayek. Sebuah penghormatan yang tidak lahir dari Surat Keputusan, bukan pula dari keputusan senat universitas ataupun kementerian. Ia lahir dari pengakuan sosial atas keluasan ilmu, keteladanan akhlak, keberanian moral, dan konsistensi pengabdian.
Sebaliknya, *Guru Besar* adalah jabatan akademik tertinggi yang diberikan negara melalui mekanisme ilmiah yang sah berdasarkan karya akademik, publikasi, rekam jejak, dan pengabdian. Jabatan ini sangat terhormat. Namun ia tetaplah sebuah amanah, bukan mahkota yang mengakhiri perjalanan intelektual.
Persoalannya, di sinilah sering terjadi kekeliruan cara pandang.
Tidak sedikit yang menganggap “Guru Besar” sebagai puncak kebanggaan pribadi, padahal seharusnya ia menjadi titik awal pengabdian yang lebih besar kepada masyarakat.
Lebih ironis lagi, dalam kehidupan sosial kita mulai tumbuh budaya yang mengkhawatirkan: semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula rasa ingin dihormati; tetapi belum tentu semakin tinggi kontribusinya bagi masyarakat.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kampus, tetapi telah menjalar ke berbagai ruang kehidupan di Aceh.
Kita semakin sering menyaksikan orang berlomba mengejar gelar, pangkat, dan jabatan, tetapi semakin sedikit yang berlomba menghasilkan gagasan besar.*
Semakin ramai orang mengejar pengakuan.
Semakin sunyi orang yang benar-benar menghasilkan perubahan.
Kita hidup di tengah masyarakat yang mulai terpesona oleh simbol, tetapi sering lupa pada substansi.
Dalam perspektif *Pierre Bourdieu,* jabatan akademik merupakan symbolic capital atau modal simbolik. Modal ini hanya akan memiliki makna apabila terus diproduksi melalui karya, keteladanan, dan pengabdian. Ketika simbol tidak lagi disertai produktivitas, maka yang tersisa hanyalah kebesaran semu.
Aceh hari ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan Guru Besar.
Yang mulai langka adalah guru yang membesarkan orang lain.
Yang semakin sedikit adalah intelektual yang berani berbicara demi kepentingan rakyat tanpa menghitung untung-rugi pribadi.
Yang semakin sulit ditemukan adalah akademisi yang tetap turun ke masyarakat setelah memperoleh seluruh kehormatan akademiknya.
*Padahal masyarakat tidak pernah bertanya berapa banyak artikel Scopus yang kita miliki.*
Masyarakat bertanya satu hal yang jauh lebih sederhana :
*”Apa manfaat ilmu itu bagi kehidupan kami?”*
Dalam filsafat pendidikan *Paulo Freire,* ilmu tidak boleh berhenti sebagai instrumen legitimasi kekuasaan. Ilmu harus menjadi alat emansipasi yang membebaskan masyarakat dari kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.
*Artinya, semakin tinggi jabatan akademik seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya untuk hadir di tengah persoalan masyarakat.*
Ironisnya, kita justru menyaksikan gejala sebaliknya.
*Setelah memperoleh jabatan Guru Besar, sebagian justru berhenti menjadi pembelajar.*
Berhenti menulis.
Berhenti meneliti.
Berhenti mengkritik.
Berhenti mendengar.
*Yang tumbuh justru perasaan bahwa dirinya telah mengetahui segalanya.*
Di sinilah letak bahaya terbesar dunia akademik.
Bukan rendahnya ilmu.
Melainkan tingginya ego intelektual.
Dalam psikologi modern dikenal fenomena Dunning–Kruger Effect, yaitu kecenderungan seseorang melebih-lebihkan kemampuan dirinya karena kehilangan kemampuan mengevaluasi dirinya sendiri.
*Semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan untuk merasa paling benar.*
Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas wilayah yang belum diketahuinya.
*Imam Syafi’i* pernah mengingatkan bahwa semakin bertambah ilmu seseorang, semakin bertambah pula kesadarannya akan kebodohannya.
Itulah sebabnya para ulama besar selalu rendah hati. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah besar justru sering berhenti bertumbuh.
*Aceh tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai memperlihatkan kebesaran dirinya.*
Aceh membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia membesarkan masyarakatnya.
Karena ukuran kebesaran seorang akademisi bukanlah banyaknya gelar di depan atau belakang namanya.
*Bukan pula banyaknya jabatan yang pernah didudukinya.*
Melainkan seberapa besar ilmu itu mengubah kehidupan orang lain.
Seberapa banyak generasi yang berhasil ia lahirkan.
Seberapa besar keberanian moralnya ketika kebenaran harus dibela.
*Universitas bukanlah pabrik pencetak status sosial.*
Universitas adalah laboratorium peradaban.
*Guru Besar bukanlah simbol prestise.*
Ia adalah penjaga nurani akademik.
Maka, jabatan Guru Besar tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan administratif.
Ia harus menjelma menjadi energi intelektual yang terus menerangi masyarakat.
*Karena sejarah tidak pernah mengingat siapa yang paling banyak menyandang gelar.*
Sejarah hanya mengingat siapa yang paling banyak meninggalkan manfaat.
Barangkali, pertanyaan yang paling penting hari ini bukan lagi:
*”Siapa Guru Besar?”*
Tetapi : “Siapa yang, setelah menjadi Guru Besar, masih terus belajar, terus berkarya, terus mengabdi, dan tetap rendah hati?”
*Sebab jabatan dapat diberikan oleh negara.* Penghormatan dapat diberikan oleh lembaga.
*Tetapi kebesaran hanya akan diberikan oleh sejarah.* Dan sejarah tidak pernah keliru menilai siapa yang benar-benar besar, dan siapa yang hanya merasa dirinya besar.











