Artikel · Potret Online

Amnesia Pascakolonial dan Martabat Bangsa

Penulis  Novita Sari Yahya
Juni 28, 2026
2 menit baca 49
IMG_1841
Foto / IlustrasiAmnesia Pascakolonial dan Martabat Bangsa
Disunting Oleh

Oleh: Novita Sari Yahya

Ketika sebagian bangsa ini mengalami apa yang saya sebut sebagai amnesia pascakolonial, kita menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan: budaya menjilat kekuasaan, mentalitas yang mudah menghamba, sikap materialistis, pengkhianatan demi kepentingan pribadi, serta kebiasaan asal bapak senang. Semua itu mengingatkan bahwa warisan kolonial tidak hanya meninggalkan luka ekonomi, tetapi juga meninggalkan persoalan psikologis dan sosial yang panjang.

Berabad-abad kolonialisme membentuk struktur masyarakat yang menempatkan sebagian orang sebagai penguasa dan sebagian lainnya sebagai pihak yang harus tunduk. Namun, dari situ pula lahir kelompok-kelompok terpelajar yang mulai mempertanyakan ketidakadilan. Mereka memilih memperjuangkan kemerdekaan dan martabat bangsa, bukan sekadar menerima keadaan.

Setelah Indonesia merdeka, semangat intelektual tumbuh dengan kuat pada masa-masa awal republik. Akan tetapi, perjalanan bangsa kemudian diwarnai berbagai konflik politik, pemberontakan, pertarungan ideologi, serta persaingan kepentingan global yang sering kali membuat Indonesia menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan-kekuatan besar.

Ironisnya, bangsa-bangsa Barat sering mengajarkan demokrasi, hak asasi manusia, dan peradaban kepada negara-negara bekas jajahannya. Padahal sejarah mereka sendiri juga memuat bab-bab kelam: kolonialisme, perbudakan, kekerasan terhadap masyarakat adat, serta eksploitasi bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika. Sejarah itu tidak boleh dilupakan ketika berbicara tentang moralitas dan peradaban.

Kemakmuran yang dinikmati sebagian negara kolonial juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah eksploitasi sumber daya dan tenaga manusia di wilayah-wilayah jajahan, termasuk Nusantara. Karena itu, refleksi sejarah seharusnya dilakukan secara jujur oleh semua pihak, bukan hanya oleh bangsa-bangsa yang pernah dijajah.

Ketika seorang diplomat pernah mengatakan bahwa saya terlalu banyak berbicara tentang politik dan terlalu sering mengkritik, jawaban saya sederhana: kami tidak membutuhkan pelajaran tentang peradaban dari mereka yang belum sepenuhnya berdamai dengan sejarah kolonialnya sendiri. Bangsa Indonesia berhak mendidik dirinya sendiri untuk menjadi bangsa yang bermartabat, berdaulat, dan terhormat.

Peradaban bukan semata-mata diukur dari gedung-gedung tinggi, teknologi modern, atau kemajuan ekonomi. Peradaban diukur dari penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, kejujuran, dan keberanian menghadapi sejarah apa adanya. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang belajar darinya untuk membangun masa depan yang lebih bermartabat.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...