Artikel · Potret Online

Sepakbola Sudah Menyentuh Sudut-sudut Dunia

Penulis  Feri Irawan
Juli 4, 2026
3 menit baca 5
IMG_1942
Foto / IlustrasiSepakbola Sudah Menyentuh Sudut-sudut Dunia
Disunting Oleh

Oleh Feri Irawan

Jika level Cape Verde masih terasa terlalu tinggi untuk ditiru negara-negara lainnya, maka mereka setidaknya dapat belajar dari Afrika, yang berhasil meloloskan sembilan wakil ke fase gugur.

Keberhasilan itu menunjukkan bahwa kemajuan sepak bola sebuah konfederasi tidak hanya ditentukan oleh satu tim unggulan, melainkan juga oleh kekuatan yang lebih merata.

Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari Afrika adalah benua ini tak malu-malu mengaryakan pemain-pemain berbasis di luar negeri.

Dari sembilan tim Afrika yang lolos ke fase knockout, hanya Mesir dan Afrika Selatan yang mayoritas pemainnya berasal dari kompetisi domestik, masing-masing dengan sedikitnya 16 pemain. Namun, hal itu tidak mengherankan mengingat liga domestik di kedua negara tersebut memang telah berkembang dan memiliki daya saing yang kuat.

Tujuh tim Afrika lainnya malah diperkuat oleh dua puluhan pemain diaspora. Jumlah terendah ada pada Aljazair dengan 19 pemain, sedangkan terbanyak Pantai Gading dan Kongo dengan masing-masing 25 pemain yang berkarier di Eropa.

Hal serupa juga terlihat pada debutan sekaligus kejutan Piala Dunia 2026, Tanjung Verde, yang banyak bertumpu pada pemain diaspora.

Empat belas dari 26 pemain yang dibawa Tanjung Verde ke Piala Dunia 2026 lahir dan besar di luar negeri, termasuk enam pemain asal Rotterdam di Belanda.

Bedanya dengan negara lain, negara terkecil di dunia yang lolos ke babak gugur putaran final Piala Dunia itu, mau bersabar dengan program pengembangan sepak bola berbasis diasporanya itu.

Mereka sabar untuk tak gonta ganti pelatih, apalagi mengganti pelatih dengan alasan tidak jelas dan tak mempertimbangkan momen. Dengan kesabaran itu, Tanjung Verde memiliki sistem kepelatihan yang stabil.

Sistem yang stabil itu membuat pelatih Pedro “Bubista” Leitao Brito, yang melatih Tanjung Verde sejak Januari 2020 bisa anteng membentuk tim yang kompak, terlatih baik, memiliki pertahanan terorganisir, dan bisa menghimpun para pemain berbakat di semua lini.

Hasilnya pun terlihat nyata. Mereka mampu mengalahkan Ghana dan menahan imbang Mesir dalam perjalanan hingga perempat final Piala Afrika 2023, sebuah pencapaian impresif bagi tim yang baru 10 tahun sebelumnya mencatat debut di turnamen tersebut.

Sistem yang dieksekusi dengan sabar itu kini berbuah manis di Piala Dunia 2026

Tanjung Verde membuat Spanyol yang perkasa “tak berdaya” di pertandingan pembuka mereka; berbagi poin dengan Uruguay setelah pertarungan sengit yang penuh drama; dan mengamankan hasil imbang yang sangat dibutuhkan melawan Arab Saudi.

Ya, sepakbola sudah menyentuh sudut-sufut dunia. Cape Verde jadi buktinya. Mereka menjadi negara terkecil dari sisi populasi yang lolos ke fase gugur. Spirit Vozinha dan kawan-kawan telah menginspirasi untuk gigih berjuang dengan apa yang dimiliki meskipun sangat kecil.

Perjalanan Tanjung Verde akhirnya terhenti di babak 32 besar di tangan juara bertahan Argentina.

Mereka menjadi salah satu tim yang akan dikenang pada perhelatan Piala Dunia 2026.

Penulis adalah Penggemar Sepakbola dan Kepala SMKN 1 Gandapura

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Feri Irawan, S.Si, M.Pd Guru Matematika, Ketua IGI Daerah Bireuen, Pegiat Literasi, dan sekarang Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...