Artikel · Potret Online

Edisi Malam Jumat, Memahami Kitab yang Mengajarkan Banyak Posisi

Penulis  Rosadi Jamani
Juni 19, 2026
5 menit baca 15
5726aa8b-fb63-4c50-98e5-7bc5975ee8b1
Foto / IlustrasiEdisi Malam Jumat, Memahami Kitab yang Mengajarkan Banyak Posisi

Oleh Rosadi Jamani 

Cie..yang udah minum tongkat ali, ramuan madura. Sabar ya, landasan sedang dibersihkan. Yang masih punya black mamba, harap dikurung dengan rapat, jangan sampai lepas. Seperti biasa, edisi malam Jumat, edisi pemersatu ummat. Sebelumnya saya sudah membahas kitab Hukum Jima’, kali ini Kitab Kamasutra. Duduk yang rapi, siapkan Koptagul, dan nikmati sensasi narasinya, wak!

Malam Jumat memang malam penuh harapan. Ada mulai menyalakan lampu temaram. Ada mulai menyemprotkan parfum tiga kali lebih banyak dari dosis normal. Ada pula yang diam-diam minum telur ayam kampung dicampur madu sambil membayangkan dirinya berubah menjadi perpaduan antara pangeran kerajaan, atlet Olimpiade, dan pejantan alfa dalam satu tegukan.

Padahal kenyataannya, setelah kenyang makan nasi, yang tersisa sering kali cuma niat.

Nah, sebelum para pejuang kelambu mulai menyusun strategi operasi malam, mari kita bicara soal satu kitab yang selama ratusan tahun menjadi korban salah paham paling tragis dalam sejarah umat manusia, Kamasutra.

Kalau mendengar kata Kamasutra, sebagian orang langsung membayangkan buku bergambar dua manusia yang sedang menguji elastisitas sendi, kekuatan otot pinggang, dan ketahanan rangka tubuh terhadap hukum gravitasi.

Padahal itu sama saja seperti menganggap buku kedokteran cuma berisi gambar tengkorak. Kasihan sekali Kamasutra.

Kitab ini disusun oleh seorang bijak India bernama Vātsyāyana Mallanaga sekitar abad ke-3 Masehi, kemungkinan di wilayah India Utara dekat Pataliputra, yang sekarang dikenal sebagai Patna di Bihar.

Yang perlu diketahui, Vātsyāyana bukan sedang menulis buku “100 Cara Membuat Kasur Berderit”. Beliau sedang menyusun sebuah śāstra, yaitu teks ilmiah dan filosofis.

Ibaratnya, orang lain sibuk membahas perang dan kekuasaan, beliau sibuk meneliti kenapa manusia rela begadang, mandi dua kali sehari, pakai parfum mahal, olahraga mati-matian, kadang kehilangan logika demi mengejar seseorang yang membalas chat dengan kalimat, “hehe.”

Yang lebih menarik, Vātsyāyana tidak menulis dari nol. Ia mengumpulkan dan menyempurnakan berbagai karya para penulis sebelumnya yang kini sudah hilang dimakan zaman.

Hasilnya adalah kitab paling terkenal dalam tradisi Kama Shastra, ilmu tentang kenikmatan hidup. Nah, kata “kenikmatan” di sini jangan langsung dibayangkan terlalu jauh sampai kasur.

Dalam filosofi Hindu kuno, manusia memiliki tiga tujuan hidup utama. Dharma (kebajikan), Artha (kemakmuran), dan Kama (kenikmatan).

Menurut pemikiran India kuno, hidup ideal itu seperti sepeda roda tiga. Kalau satu rodanya copot, jalannya oleng. Terlalu mengejar uang tanpa kebahagiaan bikin stres. Terlalu mengejar kenikmatan tanpa kebajikan bikin berantakan. Terlalu bijak tanpa uang juga bisa bikin dompet ikut bertapa.

Kamasutra hadir untuk membantu manusia menjaga keseimbangan itu. Lucunya, bagian yang membahas posisi seksual hanya sekitar 20 persen dari keseluruhan isi kitab.

Iya. Dua puluh persen. Artinya selama ini banyak orang memperlakukan Kamasutra seperti orang membeli ayam goreng satu ekor lalu hanya memakan kulitnya. Padahal isi kitabnya jauh lebih luas.

Bagian pertama, ketiga, dan keempat membahas cara mencari pasangan, proses pernikahan, hingga bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga yang baik. Kamasutra sebenarnya lebih dekat ke buku hubungan dan psikologi sosial dari buku senam kasur.

Lalu ada Bagian 5 yang membahas perselingkuhan. Bab yang kalau dibacakan keras-keras saat acara keluarga mungkin bisa menyebabkan beberapa orang mendadak batuk, berkeringat, lalu pura-pura ke kamar mandi.

Ada juga Bagian 6 yang memberi nasihat kepada para ganika atau pelacur kelas atas tentang cara menarik dan mempertahankan pelanggan. Kalau diterjemahkan ke bahasa zaman sekarang, isinya mirip seminar pemasaran premium. Bedanya, yang dijual bukan kopi literan atau skincare.

Kemudian Bagian 7 membahas ramuan dan resep peningkat daya tarik serta kejantanan. Ternyata sejak 1.700 tahun lalu umat manusia sudah memiliki hobi yang sama, mencari cara agar terlihat lebih memesona dari foto KTP. 

Pengaruh Kamasutra kemudian menyebar luas. Kitab ini menjadi fondasi bagi karya-karya lain seperti Ratirahasya dan Anangaranga. Bahkan pada abad ke-15 hingga ke-18, para kaisar Muslim di India menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia dan membuat manuskrip bergambar yang sangat indah.

Lalu datanglah era kolonial Inggris. Di sinilah ceritanya mulai lucu. Masyarakat Victoria saat itu terkenal sangat konservatif. Mereka bisa mengelola imperium besar, menguasai setengah dunia, tetapi mendadak gugup ketika membahas topik yang sebenarnya menjadi alasan seluruh umat manusia bisa lahir.

Ketika Kamasutra ditemukan kembali, reaksinya seperti menemukan artefak dari planet lain. Terjemahan Inggris terkenal tahun 1883 diprakarsai oleh Sir Richard Francis Burton. Namun ironisnya, pekerjaan penerjemahan ilmiah utamanya justru banyak dilakukan oleh cendekiawan India seperti Bhagwanlal Indraji.

Burton kemudian menambahkan berbagai catatan kaki yang jenaka dan kadang sensasional. Seperti biasa, manusia lebih suka gosip dari catatan akademik. Masuk era internet tahun 1990-an, tragedi itu mencapai puncaknya.

Potongan yang membahas posisi seksual beredar ke mana-mana seperti selebaran promo diskon. Sementara pembahasan filsafat, hubungan sosial, psikologi, dan kehidupan rumah tangga ditinggalkan sendirian seperti sayur dalam paket nasi padang.

Akhirnya dunia mengenal Kamasutra hanya sebagai “buku posisi.” Gaya inilah, itulah, depan, belakang, eh pusing dengarnya. Padahal itu sama tidak adilnya dengan menyebut samudra hanya sebagai tempat berenang.

Untungnya pada tahun 2002, Wendy Doniger dan Sudhir Kakar menerbitkan terjemahan akademis sangat dihormati untuk mengembalikan Kamasutra ke konteks aslinya. Karena pada dasarnya Kamasutra bukan sekadar membahas bagaimana proses pertemuan sel telur dengan jutaan pasukan berekor yang berenang penuh semangat menuju garis finis kehidupan.

Ia membahas manusia secara utuh. Tentang ketertarikan, cinta, komunikasi, dan seni memahami pasangan. Tentang bagaimana menjaga agar hubungan tidak layu seperti tanaman yang hanya disiram saat ada maunya saja.

Lain kali kalau mendengar kata Kamasutra, jangan langsung membayangkan akrobatik tingkat nasional yang membutuhkan sertifikasi keselamatan kerja. Karena pesan terbesar kitab ini sebenarnya sederhana. Hubungan yang baik bukan dimulai dari kelenturan tubuh. Melainkan dari kelenturan hati, kelancaran komunikasi, dan kemampuan mendengarkan pasangan.

Meski harus diakui, bagi sebagian suami, memahami isi hati pasangan kadang masih jauh lebih sulit dari memahami seluruh isi Kamasutra dari halaman pertama sampai halaman terakhir.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...