Manifesto Pendirian PARINDRA: Menjadi Indonesia Terhormat

Oleh: Novita Sari Yahya
Menjadi aktivis bukanlah jalan yang mudah. Aktivisme adalah pilihan untuk menempuh jalan terjal, jalan pengabdian yang penuh ujian, fitnah, penolakan, dan pengorbanan. Seorang aktivis harus mampu mengendalikan ambisi pribadi, menahan godaan kekuasaan, dan tetap teguh meskipun tidak memperoleh posisi atau penghargaan apa pun. Karena itu, aktivisme menuntut kecerdasan, ketangguhan, dan keberanian moral yang berada di atas rata-rata.
Bagi saya, aktivisme adalah bentuk penghormatan terhadap jejak perjuangan keluarga yang telah mengabdikan diri bagi bangsa selama lebih dari satu abad. Dari Jahja Datoek Kajo yang berjuang di Volksraad, Dr. Sagaf Yahya yang dipenjara Jepang selama tiga tahun, hingga ayah saya, Dr. Enir Reni Sagaf Yahya. Warisan itu bukan sekadar sejarah keluarga, melainkan amanah yang harus dijaga.
Karena itu, saya tidak merasa tersakiti oleh berbagai hambatan, fitnah, maupun penolakan yang saya alami. Saya memahami bahwa perubahan selalu menghadapi perlawanan. Saya juga memahami bahwa karakter manusia tidak mudah berubah hanya karena nasihat atau kritik. Oleh sebab itu, yang terpenting bukanlah memaksa orang menerima gagasan kita, melainkan menghadirkan pilihan nyata yang dapat dinilai oleh rakyat.
Program dan gagasan yang kami perjuangkan berangkat dari kebutuhan rakyat dan kekayaan bangsa sendiri. Di antaranya adalah penguatan nutrisi berbasis kearifan lokal melalui pemberdayaan perempuan, pembangunan ekonomi kerakyatan dan mandiri, filantropi dari desa menuju dunia digital, pendidikan tinggi untuk semua (University for All), serta sistem kesehatan yang tangguh dan responsif melalui penguatan pendampingan tenaga kesehatan.
Banyak yang bertanya bagaimana semua itu dapat diwujudkan tanpa membebani rakyat dengan utang dan pajak yang semakin berat. Jawabannya sederhana. Jika gagasan-gagasan tersebut dapat dirancang, ditulis, diterbitkan, dan disosialisasikan dengan sumber daya yang sangat terbatas, mengapa kita meragukan kemampuan bangsa yang kaya sumber daya untuk membangun kesejahteraan rakyatnya sendiri? Persoalan terbesar bukanlah kemampuan, melainkan kepercayaan.
Kepercayaan rakyat adalah legitimasi yang sesungguhnya. Karena itu, saya tidak berusaha mengejar kekuasaan dengan segala cara. Tugas saya adalah menjaga nyala api perubahan melalui gagasan, karya, dan pendidikan politik. Biarlah rakyat yang menilai dan menentukan apakah gagasan tersebut layak diperjuangkan bersama.
Sejarah mengajarkan bahwa banyak pemimpin bangsa mengalami pengkhianatan, bahkan dari bangsanya sendiri. Karena itu, seorang aktivis harus memiliki kesabaran. Tidak perlu terburu-buru memaksa orang memahami gagasan besar. Teruslah berkarya, teruslah menulis, teruslah memberi contoh. Ketika rakyat membutuhkan jawaban, mereka akan datang mencari gagasan yang mampu memberi harapan.
Bangsa ini selama berabad-abad dididik dalam sistem yang melemahkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitasnya sendiri. Akibatnya, banyak yang lupa bahwa Indonesia adalah bangsa besar dengan kekayaan alam, budaya, dan manusia yang luar biasa. Untuk itu, kita harus mulai membangun kembali identitas sebagai Indonesia Terhormat.
Indonesia Terhormat adalah Indonesia yang memiliki harga diri. Indonesia yang memahami batas antara hak dan keserakahan. Indonesia yang tidak menjual kehormatan demi keuntungan sesaat. Indonesia yang tidak mengukur martabat manusia dari kekayaan, jabatan, atau kemewahan yang dipertontonkan.
Kemiskinan tidak boleh membuat kita kehilangan kehormatan. Kesulitan hidup tidak boleh membuat kita menjual harga diri. Sebaliknya, kehormatan harus menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa yang mandiri dan berdaulat.
Kita tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan. Kita tidak perlu menghina, memaki, atau menebarkan kebencian. Hukuman sosial yang paling kuat adalah menolak memberikan legitimasi kepada perilaku yang merugikan bangsa. Rakyat berhak menentukan siapa yang layak dihormati dan siapa yang tidak lagi dipercaya.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kaya atau kuat militernya, melainkan oleh seberapa besar harga diri yang dimiliki rakyatnya. Bangsa yang memiliki kehormatan akan tetap berdiri tegak meskipun menghadapi kemiskinan, tekanan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Hari ini, kita menancapkan kembali tiang Indonesia Terhormat. Indonesia yang berdaulat, bermartabat, dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia yang tidak tunduk pada keserakahan, tidak menyerah pada ketakutan, dan tidak kehilangan keyakinan akan masa depannya sendiri.
Hidup Indonesia Terhormat.
Hidup rakyat yang merdeka dalam pikiran, hati, dan tindakan.
Merdeka!
E book Ibu Bangsa Wajah Bangsa bisa didapatkan gratis dengan cp 089520018812.
Donasi untuk gerakan literasi, self love dan program rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga
Lagu Indonesiaku
Pencipta lagu Gede Jerson
Berdasarkan puisi karya Novita Sari Yahya











