Artikel · Potret Online

Dulu Mencari Berita, Kini Diburu Berita: Bijak Menjadi Produsen dan Konsumen Informasi

Penulis  Ir Azhar
Juni 16, 2026
6 menit baca 4
ed350105-22f7-4ced-b03c-042459f52261
Foto / IlustrasiDulu Mencari Berita, Kini Diburu Berita: Bijak Menjadi Produsen dan Konsumen Informasi
Disunting Oleh

Oleh Ir. Azhar, M.T.
Dosen Pada Fakultas Teknik Universitas Lampung

Dulu, kita yang sudah tua-tua sekarang ini, untuk mendapatkan berita atau secara umum disebut informasi sekarang ini, sangatlah susah. Di Aceh, surat kabar andalan adalah harian Waspada terbitan Medan, harian Kompas terbitan Jakarta, atau Atjeh Post terbitan Banda Aceh. Untuk mendapatkan koran terbitan luar Aceh seperti Wasapa, kita bisa mendapatkannya umumnya jam 1 siang kalau di Banda Aceh, kalau ke daerah-daerah bisa sore hari. Kalau terbitan Jakarta juga begitu, bahkan untuk daerah yang jauh dari Banda Aceh bisa sampai esok hari-nya. Artinya peristiwa hari ini akan kita tahu besok hari, itupun kalau transportasi lancar.

Andalan lainnya adalah radio, terutama RRI yang beroperasi di jaringan AM gelombang menengah dan radio milik asing yang beroperasi di jaringan AM gelombang pendek seperti BBC, VOA, Radio Australia, dan Radio Netherland. Bagi yang hobby tuning, daftar radio gelombang pendek ini masih bisa diperpanjang lagi termasuk Radio Tiongkok, Radio Jerman, Radio Arab-Mesir, Radio Jepang (NHK), Radio India, Radio Pakistan, Radio Kerajaan Saudi Arabia, dan tentunya RTM milik tetangga Malaysia. Radio-radio ini menyiarkan berita-berita internasional, ilmu pengetahuan, pelajaran bahasa, kebudayaan, dan tentunya hiburan. Jam siarannya sangat terbatas. 

Andalan satunya lagi adalah televisi, apa lagi kalau bukan TVRI. Ini adalah satu-satunya televisi sebelum sejumlah stasiun televisi swasta nasional hadir meramaikan ruang publik; itu pun layarnya masih hitam-putih, belum berwarna.

Sekarang situasinya sudah amat sangat berbeda. Koran-koran sudah tidak lagi hanya berbentuk cetak seperti dulu, tetapi sudah hadir dalam bentuk digital baik dalam bentuk halaman web atapun dalam bentuk e-paper. Sama halnya juga dengan majalah. Bagaimana dengan radio dan televisi? Sama saja, mereka sudah hadir dalam dunia digital berbasis internet. Hebatnya lagi, bukan hanya medianya ini, tetapi jumlah medianya itu sendiri sangat banyak, kalau kata orang ibarat jamur di musim hujan, berkembang biak dengan sangat cepat. 

Menurut data dari rebootonline, pada Desember 2025 ada 205 juta lebih website aktif di seluruh dunia; dan menurut data dari siteefy ada 7 website lahir per detik; sedikit lebih banyak dari jumlah kelahiran bayi yang 4 orang per detik. 

Intinya adalah sekarang kita dikepung oleh sangat banyak media informasi, baik media massa, media sosial, atau media yang terbatas untuk kalangan tertentu. Media ini hadir di layar komputer atau di layar HP kita atau anak-cucu kita. Semua ini karena kemajuan teknologi, terkhusus teknologi informasi. 

Lalu apa masalahnya? Sebetulnya teknologi itu sifatnya netral; masalahnya adalah teknologi itu dipakai untuk apa, dipakai oleh siapa, dan kepada siapa informasi itu ditujukan. Singkat kata, di alam maya digital yang telah menjelma menjadi sebuah realita tersendiri, setiap orang bisa menjadi produsen informasi dan juga setiap orang bisa menjadi konsumen informasi. 

Dahulu, menjadi penulis bukanlah perkara mudah. Seseorang harus memiliki akses kepada media, memiliki hubungan dengan redaksi surat kabar atau majalah, atau setidaknya mempunyai kemampuan menulis yang cukup baik sehingga tulisannya layak dimuat. Ruang publik untuk menyampaikan gagasan sangat terbatas. Karena itu, jumlah penulis relatif sedikit dan proses penyaringan informasi berlangsung cukup ketat. Sebuah berita atau artikel biasanya melewati beberapa lapis pemeriksaan sebelum sampai ke tangan pembaca.

Kini keadaan telah berubah total. Dengan hadirnya internet dan media sosial, hampir setiap orang dapat menjadi penulis. Seseorang tidak perlu lagi memiliki surat kabar, stasiun radio, atau stasiun televisi untuk menyampaikan pendapatnya. Cukup memiliki sebuah telepon genggam dan koneksi internet, maka ia sudah dapat menulis sesuatu yang berpotensi dibaca oleh puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang. Dalam hitungan detik, sebuah tulisan dapat menyebar melintasi kota, provinsi, negara, bahkan benua.

Perubahan ini sesungguhnya membawa banyak manfaat. Orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki ruang untuk menyampaikan ide kini memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara. Berbagai pengetahuan, pengalaman, dan informasi dapat dibagikan secara lebih cepat dan lebih luas. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul pula tantangan yang tidak pernah kita hadapi pada masa lalu.

Masalah pertama adalah tidak semua orang yang menulis memiliki pengetahuan yang memadai tentang apa yang ditulisnya. Kemudahan menerbitkan tulisan tidak selalu diikuti oleh kemampuan untuk memverifikasi kebenaran informasi. Akibatnya, berbagai informasi yang salah, keliru, tidak lengkap, atau bahkan menyesatkan dapat beredar dengan sangat cepat. Kadang-kadang kesalahan itu terjadi karena ketidaktahuan. Namun tidak jarang pula dilakukan dengan sengaja untuk memengaruhi opini publik, mencari keuntungan tertentu, atau sekadar menciptakan sensasi.

Lebih rumit lagi, banyak pembaca menerima informasi tersebut tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jika pada masa lalu seseorang harus berusaha keras untuk memperoleh informasi, maka saat ini informasi justru datang menghampiri kita tanpa diminta. Setiap kali membuka telepon genggam, puluhan bahkan ratusan informasi berlomba-lomba meminta perhatian. Dalam situasi seperti ini, kemampuan membaca secara kritis menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar kemampuan membaca itu sendiri.

Persoalan berikutnya adalah siapa saja kini dapat menjadi konsumen informasi. Anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan lanjut usia menerima arus informasi yang sama dari sumber yang sama. Padahal tingkat pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan menyaring informasi setiap orang berbeda-beda. Informasi yang benar dapat dipahami secara keliru. Informasi yang belum tentu benar dapat diterima sebagai kebenaran mutlak. Bahkan sebuah kebohongan yang diulang berkali-kali sering kali tampak lebih meyakinkan daripada fakta yang disampaikan sekali saja.

Di samping itu, media sosial telah melahirkan fenomena baru yang sebelumnya tidak terlalu menonjol, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan atau validasi dari orang lain. Banyak orang tidak lagi menulis semata-mata untuk berbagi pengetahuan atau pengalaman, melainkan untuk memperoleh pujian, perhatian, tanda suka (like), jumlah pengikut (followers), atau sekadar menunjukkan eksistensi dirinya. Tidak sedikit pula yang menampilkan hanya sisi terbaik kehidupannya sehingga menimbulkan kesan seolah-olah hidupnya selalu berhasil, selalu bahagia, dan selalu lebih baik daripada orang lain.

Bahkan dunia akademik yang selama ini dianggap sebagai benteng kebenaran ilmiah pun tidak luput dari masalah. Dalam beberapa waktu terakhir muncul berbagai kasus data penelitian yang diduga dipalsukan atau dimanipulasi. Ini menjadi pengingat bahwa di era banjir informasi, verifikasi tidak hanya diperlukan terhadap unggahan media sosial, tetapi juga terhadap informasi yang berasal dari sumber-sumber yang tampak sangat kredibel.

Fenomena ini pada tahap selanjutnya menciptakan sebuah dunia yang kadang-kadang sulit dibedakan antara kenyataan dan pencitraan. Apa yang tampak di layar belum tentu sama dengan keadaan yang sebenarnya. Sebuah foto dapat dipilih dari ratusan foto yang gagal. Sebuah cerita sukses dapat ditampilkan tanpa memperlihatkan berbagai kegagalan yang mendahuluinya. Sebuah pendapat dapat dibuat seolah-olah mewakili suara banyak orang, padahal berasal dari segelintir akun saja.

Akhirul kalam, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi kekurangan informasi sebagaimana yang kita alami puluhan tahun lalu. Tantangan terbesar saat ini justru adalah kemampuan memilih, menyaring, memahami, dan memverifikasi informasi yang jumlahnya nyaris tidak terbatas. Di era digital, yang paling berharga bukanlah siapa yang paling banyak menerima informasi, melainkan siapa yang paling bijak dalam memperlakukan informasi tersebut.

—-*

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...