Jejak Besi di Tanah Rencong
Oleh: Nurul Hikmah

Gambar Mashin Doodi, salah satu kereta api kunoasal Persia
Di tengah rencana pengembangan dan penyambungan kembali jaringan kereta api Trans Sumatra yang suatu saat diharapkan dapat menghubungkan Aceh hingga Lampung, perhatian penulis kembali tertuju pada sejarah panjang perkeretaapian di Tanah Rencong.
Bagi sebagian orang, kereta api di Aceh dianggap sebagai warisan kolonial Belanda yang baru muncul pada akhir abad ke-19. Namun bagi masyarakat Aceh , terutama yang masih mewarisi berbagai cerita turun-temurun dari generasi terdahulu dan bukti fisik jejak rel-rel bisu yang masih dapat ditemukan dengan mudah di sebagian besar wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, kisah kereta api diyakini jauh lebih tua dari catatan sejarah resmi yang selama ini dikenal.
Menurut sejarah lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, pada abad ke-15 hingga ke-16 telah terdapat trem atau kereta yang beroperasi di wilayah Kuta Radja dan Aceh Besar. Kisah ini tidak banyak ditemukan dalam catatan kolonial. Namun jejak rel tua yang berukuran setengah dari rel kereta api modern, masih dapat dengan mudah ditemukan sepanjang jalan di wilayah Lamreung, Lamdom dan Lamnyong, yang dipercaya sebagai bagian dari lintasan tersebut.
Walaupun keberadaannya belum banyak diteliti secara akademis, keberadaan jejak fisikyang diyakini masyarakat sebagai rel lama menjadi salah satu alasan mengapa cerita ini terus bertahan hingga sekarang.
Diceritakan bahwa lintasan trem tersebut berpusat di kawasan sekitar Masjid Raya Baiturrahman atau di dapan Barata Store yang hingga kini masih menyimpan monumen gerbong kereta Api tersebut.
Dari sana jalur bergerak ke arah Mata Ie atau Ketapang, menuju Lamreung dan Lampeuneurut, kemudian ke Lamdom, Lambaro, Aneuk Galong, Sibreh, Sineulop, Kampung Ateuk, Darussalam, Kuta Alam, lalu kembali ke pusat kota.
Menariknya, pola lintasan yang diceritakan masyarakat memiliki kemiripan dengan jalur transportasi yang dilalui oleh bus Trans Kutaraja saat ini.
Sebelum masa Belanda, jalur yang menghubungkan Aceh Lhee Sagoe ke wilayah lainnya tertutup untuk umum. Setelah Belanda berhasil memperkuat pengaruhnya di Aceh, pembangunan jaringan Atjeh Tram dimulai pada tahun 1874. Jalur ini awalnya menghubungkan Ulee Lheue dengan Kutaraja sebelum terus diperluas hingga Lambaro, Seulimeum, Sigli, Lhokseumawe, Langsa, dan akhirnya tersambung dengan jaringan kereta api di Sumatra Utara.
Pada tahun 1917 panjang jaringan tersebut mencapai lebih dari 500 kilometer dan menjadi salah satu jaringan kereta api terpenting di Pulau Sumatra.
Namun menurut sejarah lisan masyarakat Aceh, pembangunan jalur kereta api lintas Sumatra tersebut tidak sepenuhnya berjalan tanpa pengorbanan rakyat.
Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun dikenal istilah Pajak Dua Ulee. Masyarakat meyakini bahwa banyak tanah rakyat berpindah tangan selama proses pembangunan jalur trem dan rel kereta api. Ulee Balang disebut-sebut sebagai pihak yang mengumpulkan setoran atau tanah dari masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan pembangunan pada masa itu.
Dalam versi cerita rakyat yang masih hidup hingga sekarang, besarnya tanah yang harus diserahkan sering dikaitkan dengan kebutuhan hidup seseorang dalam satu tahun. Karena itu, pembangunan jalur kereta api tidak hanya dikenang sebagai pembangunan infrastruktur, tetapi juga sebagai masa ketika sebagian rakyat kehilangan lahan yang telah diwariskan turun-temurun.
Memasuki era Indonesia, perubahan politik kembali memengaruhi perjalanan kereta api Aceh. Menurut cerita masyarakat Aceh Besar, setelah masa perdamaian DI/TII pada tahun 1960-an, sebagian rel di jalur Lambaro–Seulimeum dipotong oleh masyarakat. Peristiwa yang kemudian dikenal dalam cerita rakyat sebagai Ulee Kretan Rhoet di Lampisang masih sering diceritakan oleh generasi tua hingga sekarang.
Akan tetapi, kisah yang paling menarik justru berasal dari masa yang lebih tua lagi, ketika Aceh masih berbentuk kerajaan. Menurut tradisi lisan masyarakat, jauh sebelum abad ke-14 telah terdapat kendaraan rel khusus yang digunakan oleh kalangan istana Kesultanan Aceh Darussalam.
Kendaraan tersebut bukan berupa rangkaian panjang seperti kereta api modern, melainkan hanya satu gerbong khusus yang digunakan sebagai alat angkut keluarga kerajaan. Bentuknya diperkirakan seperti Mashin Doodi, salah satu transportasi kuno milik kerajaan Parsi (Iran)dengan cerbong asap (smokestack) berbentuk silender seperti salah satu bentuk batu Aceh yang ditemukan di kuburan-kuburan kuno kerajaan Aceh.
Rel yang digunakan oleh kendaraan kerajaan tersebut masih dapat dilihat hingga sekarang di dalam kawasan Taman Putroe Phang, tepatnya di atas aliran Krueng Daroy yang mengarah ke sebelah Pendopo Gubernur.
Benar atau tidaknya seluruh kisah tersebut mungkin masih menjadi perdebatan. Namun satu hal yang tidak dapat disangkal adalah bahwa Aceh memiliki memori sejarah yang sangat kaya. Sebagian tercatat dalam arsip dan dokumen resmi, sebagian lagi hidup dalam cerita rakyat yang diwariskan dari nenek kepada cucu selama berabad-abad. Di antara keduanya, tersimpan kisah tentang kereta api, trem, dan peradaban Aceh yang hingga kini masih menunggu untuk diteliti lebih jauh.












