POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Olah Raga

Hantu Penalti Momok Bagi Les Blues Prancis 

Redaksi by Redaksi
Juni 7, 2026
in Olah Raga, Kompetisi, Piala Dunia
0
f4601a23-9a1a-477d-9164-4341bb2fcfcd

 

Oleh Ermaun

Menyambut pesta akbar sepak bola ajang piala dunia 2026 yang tinggal beberapa hari lagi, tentu sangat menarik untuk diulas penggila bola di berbagai penjuru dunia. Saya sebagai pendukung Prancis semenjak tahun 1998. Saat itu saya sudah menginjak bangku SMP. 

Hantu Penalti Momok Bagi Les Blues Prancis  - 2025 05 19 06 32 45 | Olah Raga | Potret Online
Baca Juga
Olah Raga
Mustika Segu: Menempa Generasi Muda lewat Pencak Silat dan Karakter
19 Mei 2025

Saya tertarik pada tim ini karena sosok Zinedine Zidane yang begitu piawai dalam mengolah bola di lapangan, kemudian Didier Deschamp yang kini menjadi pelatih Les Blues, dan sederetan gelandang cerdik dan bertenaga kuda seperti Robert Pires, Emmanuel Petit, Christian Karembeu, Patrick Viera. 

Di sisi lini pertahanan, saya mengagumi tembok keras seperti Lilian Thuram, Laurent Blanc, Marcel Desaily, win-back overlapping Bixente Lizarazu dan Vicent Candela. Sementara sisi penyerang nama yang termasuk beken pada era 90-an; Christophe Dugarry, Thiery Henry dan David Trezeguet. Dan tidak ketinggalan kiper plontos penuh kontroversial Fabien Barthez. Demikian squad juara piala dunia 1998. 

Hantu Penalti Momok Bagi Les Blues Prancis  - D15A3891 F0A1 447B A671 9AC946BCC713 | Olah Raga | Potret Online
Baca Juga
Artikel
Kurangi kemacetan, Banda Aceh perlu tiru Jepang
17 Mar 2023

Sebagai pendukung, tentu saya ikut menikmati masa-masa indah mereka. Saya menjadi saksi hidup dan merasakan kebanggaan saat Prancis mengangkat trofi Piala Dunia 1998 dan 2018. Saya ikut bersorak ketika mereka tampil meyakinkan melawan tim-tim besar. 

Saya juga pernah berdebat dengan teman-teman yang menganggap Prancis hanya menang karena keberuntungan.

Hantu Penalti Momok Bagi Les Blues Prancis  - 84b74ea6 6106 4c56 a3e0 d7f0090b619f | Olah Raga | Potret Online
Baca Juga
Olah Raga
Menunggu Mega, Red Sparks Melangkah ke Final
27 Mar 2025

Tetapi ada satu hal yang selalu membuat saya tidak nyaman, yaitu adu penalti.

Aneh memang. Sebagai pendukung tim yang dipenuhi pemain-pemain kelas dunia, seharusnya saya percaya diri. Namun setiap kali pertandingan Prancis memasuki babak adu penalti, perasaan saya justru berubah. Jantung rasanya berdetak lebih cepat. Pikiran mulai ke mana-mana. Bahkan terkadang saya tidak sanggup melihat layar televisi saat eksekutor berjalan menuju titik putih. 

Perasaan itu tidak muncul begitu saja.

Terlalu banyak kenangan buruk yang tertinggal di kepala.

*Momok Adu Penalti di Spanyol*

Saya masih ingat bagaimana cerita kegagalan Prancis di masa lalu sering diceritakan oleh paman saya dan para pencinta sepak bola yang lebih tua. Mereka berbicara tentang Piala Dunia 1982 melawan Jerman Barat dengan nada yang berbeda. Seolah pertandingan itu bukan sekadar kekalahan, tetapi luka yang masih membekas sampai sekarang.

Saat itu saya belum lahir. Namun setelah menonton ulang cuplikan dan membaca berbagai kisahnya, saya mulai mengerti mengapa pertandingan tersebut begitu membekas di hati pendukung Prancis. Mereka sudah begitu dekat dengan kemenangan. Mereka bermain luar biasa. Tetapi semuanya hilang melalui adu penalti.

*Luka Penalti di Jerman*

Momok penalti kembali terulang. kali ini final piala dunia 2006 yang digelar di Jerman. Prancis dayang dengan squad bertabur bintang, bahkan Brasil yang dihuni sederetan pemain bintang diprediksikan juara saat itu dapat disingkirkan Prancis dalam laga waktu normal 90 menit. 

Saat tiba di final, entah mengapa Prancis yang salah satu cukup digdaya justru kalah dalam adu penalti melawan Italia.

Malam itu saya benar-benar yakin Prancis bisa menjadi juara dunia. Mereka memiliki Zidane, memiliki pengalaman, dan tentu memiliki mental juara. Bahkan setelah kartu merah Zidane, saya masih berharap keajaiban terjadi.

Namun ketika pertandingan masuk ke adu penalti, keyakinan itu perlahan berubah menjadi kecemasan.

Lalu bola hasil tendangan David Trezeguet menghantam mistar. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan suara benturan itu. Hanya sepersekian detik. Tetapi rasanya seperti menghancurkan harapan yang sudah dibangun selama berjam-jam. Dan Italia berpesta di 2026.

Kami yang mendukung Prancis hanya bisa terdiam. Saya pikir saat itu adalah akhir dari semua trauma tersebut. Saya berpikir generasi berikutnya akan datang dan menghapus kenangan buruk itu. Ternyata saya salah.

*Euro 2020 menjadi bukti bahwa hantu penalti itu masih ada*

Saya masih ingat persis ketika Prancis menghadapi Swiss. Sampai hari ini saya menganggap itu salah satu pertandingan paling emosional yang pernah saya saksikan sebagai pendukung Les Bleus. Saya sempat putus asa ketika tertinggal. Lalu kembali bersemangat saat Prancis berbalik unggul. Kemudian panik ketika Swiss menyamakan kedudukan.

Emosi saya benar-benar dipermainkan saat itu. Bagaimana tidak, Prancis begitu mudha tersingkir di babak knock out 16 besar. Ketika pertandingan masuk adu penalti, saya bahkan tidak duduk lagi. Saya berdiri di depan televisi sambil berharap kali ini ceritanya berbeda.

Satu per satu penalti masuk.

Lalu tibalah giliran Kylian Mbappe.

Jujur saja, saya tidak pernah menyangka dia akan gagal. Dia adalah bintang terbesar Prancis saat itu. Pemain yang mampu mencetak gol dari situasi paling sulit. Pemain yang biasanya terlihat begitu percaya diri, namun sepak bola tidak selalu berjalan sesuai logika.

Ketika Yann Sommer menepis tendangan Mbappe, saya langsung mematikan televisi. Bukan karena marah kepada Mbappe. Sama sekali bukan. 

Saya hanya kecewa. Kecewa karena sekali lagi saya menyaksikan Prancis jatuh dengan cara yang sama.

Malam itu saya bahkan tidak membuka media sosial sampai keesokan harinya. Rasanya malas membaca komentar orang-orang yang menertawakan kekalahan tersebut.

Sebagai pendukung, ada kekalahan yang bisa diterima dengan lapang dada. Tetapi ada juga kekalahan yang meninggalkan rasa sesak selama berhari-hari.

Bagi saya, kekalahan melalui adu penalti selalu masuk kategori kedua. Mungkin karena adu penalti memberi harapan sampai detik terakhir. Kita terus percaya bahwa tim kita masih punya peluang. Kita terus berharap eksekutor berikutnya bisa menjadi penyelamat.

Lalu dalam satu momen, semuanya berakhir.

Tidak ada kesempatan memperbaiki kesalahan.

Tidak ada waktu tambahan.

Tidak ada pertandingan ulang.

Selesai.

Itulah yang membuat adu penalti terasa begitu kejam.

Sebagai fans Prancis, saya mulai menyadari bahwa ketakutan terbesar saya bukan lagi menghadapi lawan tertentu. Bukan Argentina, bukan Jerman. bukan Spanyol, bukan Inggris, bukan pula Brasil. 

*Qatar jadi Kuburan Penalti bagi Prancis*

Final Piala Dunia 2022 melawan Argentina masih menjadi luka yang sulit dilupakan. Bukan hanya karena Les Bleus gagal mempertahankan gelar juara dunia, tetapi karena kekalahan itu kembali terjadi melalui adu penalti. 

Padahal Prancis sudah menunjukkan mental luar biasa dengan bangkit dua kali dari ketertinggalan. Ketika Kylian Mbappe dengan garangnya mencetak hattrick dan membawa pertandingan hingga babak tos-tosan, saya sempat yakin sejarah buruk itu akan berakhir. 

Namun kenyataannya justru sebaliknya. Titik putih kembali menjadi momok menyeramkan bagi Prancis. Seakan tervonis hukuman mati bagi Les Blues jika harus hadapi adu penalti. 

Saat pertandingan memasuki adu penalti, saya justru dihantui kenangan lama. Final 2006 melawan Italia terlintas kembali di kepala. Begitu juga berbagai kegagalan lain yang pernah dialami Les Bleus. Ketika tendangan Kingsley Coman berhasil ditepis dan penalti Aurélien Tchouaméni melebar, perasaan buruk itu seperti menjadi kenyataan lagi.

Kekalahan dari Argentina seakan mempertegas bahwa adu penalti masih terus menjadi luka yang belum sembuh bagi Prancis. Ini bukan soal kualitas pemain karena mereka memiliki banyak bintang kelas dunia. Bukan pula soal keberanian karena mereka sudah membuktikan mental juara sepanjang turnamen. 

Namun entah mengapa, setiap kali nasib ditentukan dari titik putih, Prancis sering terlihat sedang melawan sesuatu yang lebih besar daripada lawan di depan mereka. Mungkin yang mereka hadapi adalah bayang-bayang kegagalan masa lalu yang terus mengikuti dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketakutan terbesar saya justru ketika wasit meniup peluit akhir perpanjangan waktu dan menunjuk titik putih. Karena pada saat itulah semua kenangan buruk kembali muncul.

Kenangan tentang 1982.

Kenangan tentang 2006.

Kenangan tentang Mbappe dan Swiss.

Kenangan yang membuat saya bertanya dalam hati, “Apakah kali ini akan terulang lagi?”

Mungkin saya terlalu emosional. Mungkin saya terlalu larut sebagai pendukung. Tetapi saya yakin banyak fans Prancis merasakan hal yang sama.

Kami mencintai tim ini. Kami bangga dengan sejarahnya. Kami bangga dengan para pemainnya.

Tetapi kami juga membawa luka yang sama setiap kali adu penalti.

Meski begitu, saya masih percaya suatu hari nanti cerita ini akan berubah. Saya masih percaya akan ada malam ketika Prancis memenangkan pertandingan besar melalui adu penalti dan seluruh trauma itu runtuh seketika.

Saat hari itu tiba, mungkin saya akan berteriak paling keras di depan televisi.

Previous Post

Indonesia dalam Pusaran Dua Kekuatan Dunia: Amerika Serikat dan Rusia

Next Post

The Banjoemas dan Gerakan Koperasi

Next Post
IMG_1500

The Banjoemas dan Gerakan Koperasi

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah