Kurban, Sunyi atau Sorotan

Oleh Eriza, S.Sos.I
Tak lama lagi Idul Adha tiba. Tanda-tandanya sudah terasa di mana-mana. Masyarakat berbondong-bondong mencari hewan terbaik untuk kurban. Bahkan, sebagian orang sudah bergerak lebih awal, mencari serta membandingkan harga, memilih kualitas, hingga memesan jauh hari agar tidak kehabisan hewan kurban yang diinginkan.
Di pasar-pasar tradisional hingga pinggir jalan kota, geliat ekonomi kecil pun ikut hidup. Para peternak berharap hasil terbaik dari jerih payah mereka, sementara pembeli berusaha mendapatkan hewan yang sehat dan sesuai syariat.
Tawar-menawar terjadi dan menjadi bagian dari dinamika yang akrab, menghadirkan suasana khas menjelang hari raya yang selalu dinanti setiap tahunnya.
Antusiasme ini tentu patut diapresiasikan, karena, kurban bukan hanya ibadah personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Daging yang dibagikan menjadi jembatan kepedulian, menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang jarang menikmati hidangan layak.
Di momen ini, nilai berbagi terasa begitu nyata juga menyentuh, momentum yang setahun sekali terlihat lewat berbagi daging kurban.
Namun, di balik semangat tersebut, ada dinamika lain yang perlahan mengubah wajah kurban. Ibadah yang dahulu lekat dengan kesunyian dan keikhlasan, kini semakin sering hadir di ruang terbuka, lewat media sosial berupa video,konten dan sebagainya.
Proses memilih hewan, harga yang diperbincangkan, hingga momen penyembelihan kerap menjadi konsumsi publik. Kurban tak lagi sepenuhnya menjadi ruang privat antara hamba dan Sang Pencipta, melainkan ikut masuk ke dalam arus sorotan sosial yang tak terhindarkan lagi di zaman sekarang ini.
Di sinilah timbul pertanyaan yang menjadi relevan, apakah kurban yang dilakukan benar-benar lahir dari panggilan iman, atau ada dorongan lain yang ikut bermain? rasa tidak enak jika tidak ikut, kekhawatiran dianggap kurang mampu, hingga keinginan untuk tetap sejajar dengan lingkungan sekitar, menjadi faktor yang diam-diam mempengaruhi keputusan seseorang.
Lebih jauh, kurban kadang bersinggungan dengan gengsi yang halus. Ukuran hewan, jenis, hingga jumlahnya bisa menjadi bahan perbandingan, bahkan tanpa disadari menciptakan standar sosial baru.
Dalam situasi seperti ini, ibadah berisiko bergeser dan maknanya yang semula sunyi menjadi sesuatu yang ingin dilihat dan diakui oleh banyak orang.
Padahal, esensi kurban tidak pernah bergantung pada itu semua. Ia tidak diukur dari besar kecilnya yang tampak, tetapi dari ketulusan yang tak terlihat. Kurban adalah tentang keberanian untuk memberi, tentang keikhlasan untuk melepaskan, dan tentang keyakinan bahwa apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, bukan untuk penilaian manusia semata.
Di tengah zaman serba terbuka, menjaga keikhlasan memang bukan perkara yang mudah. Ketika setiap momen bisa dibagikan, ketika setiap amal bisa dilihat, batas antara ibadah dan pencitraan menjadi semakin tipis. Namun justru di situlah letak ujian sebenarnya, bagaimana tetap tulus di tengah dunia yang gemar menilai dan semakin modern.
Meski demikian, harapan itu tetap ada. Masih banyak orang yang memilih berkurban tanpa hiruk-pikuk, tanpa publikasi, tanpa keinginan untuk dibandingkan. Mereka berjalan dalam diam, tetapi penuh dengan makna.
Mereka mungkin tidak terlihat, tetapi justru di sanalah letak kekuatan ibadah yang sesungguhnya.
Menjelang hari raya Idul Adha, hiruk-pikuk akan terus menguat. Transaksi akan meningkat, perbincangan akan semakin ramai, dan sorotan akan semakin luas. Namun di tengah semua itu, kurban sejatinya mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dengan menata niat, meluruskan tujuan, dan bertanya dengan jujur, apakah ini untuk Allah, atau untuk sorotan manusia semata.
Sebab pada akhirnya, kurban yang paling bernilai bukanlah yang paling terlihat, melainkan yang paling ikhlas meski tak pernah ingin dilihat, dan dari keikhlasan itulah keberkahan akan mengalir, bukan hanya bagi penerima, tetapi juga bagi hati yang memberi,menenangkan jiwa yang berkurban, serta menjadi saksi diam bahwa ibadah yang tulus tak pernah membutuhkan pengakuan untuk bernilai di hadapan-Nya.
Eriza, S.Sos.I, adalah seorang ibu rumah tangga yang mengajar di sebuah TK di Banda Aceh. Lahir di Aceh Besar dan memiliki dua orang putri. Di sela-sela kegiatan mengajar dan berkegiatan sosial, ia terus belajar untuk menulis. Ia juga bergabung menjadi wartawan di Gema Masjid Raya Baiturrahman.












