POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

RedaksiOleh Redaksi
March 3, 2026
Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Senin, 2 Maret 2026, selepas tarawih, Mucoffee di Kota Madiun tidak sekadar menjadi ruang ngopi, melainkan menjelma ruang perenungan. Tadarus Buku Ramadan 2026/1447 H yang digagas bersama Kongan Cooperative. Membaca buku bukan semata sebagai ritual akademik yang dingin, melainkan sebagai laku spiritual yang hidup.

Di antara aroma kopi, obrolan yang bersahaja, dan wajah-wajah muda yang haus makna, buku Epistemologi Moksa Para Naga—kumpulan puisi yang saya tulis dan terbitkan pada awal 2026—dibaca, diperdebatkan, dan diresapi bersama. Hadir para seniman, budayawan, akademisi, di antaranya Titus Tri Wibowo, Dwi Aji Prajoko, Yakobus Wasit, Septian Kharisma, Nugroho Budi Wibowo, para pelajar, mahasiswa, dan Sapta Rahita selaku pembawa acara. Malam itu, sastra menemukan kembali fungsinya yang paling purba: menjadi cermin zaman.

Prof. Djoko Saryono, guru besar dari Universitas Negeri Malang, sempat berkomentar tentang Epistemologi Moksa Para Naga, bahwa kreativitas puitik Fileski menyerupai sumber yang menyemprot deras—bahasanya mengalir padat, kuat secara metaforis dan konotatif, efektif membungkus sekaligus memanggungkan gagasan—sementara Epistemologi Moksa dipandangnya sebagai semacam metodologi puitis untuk memaparkan obsesi gagasan dan pikiran penyair, sehingga puisi-puisi di dalamnya terhindar dari jebakan menjadi sekadar wadah gagasan maupun hasrat argumentatif, dan justru bekerja sebagai pengalaman estetik yang bernapas.  

Ada yang sungguh menarik dari acara kali ini: hadirnya para pelajar muda yang datang dengan semangat berkesenian yang menyala, meski latar mereka adalah pegiat seni tradisi pedalangan, namun dengan keterbukaan, mereka memilih duduk, menyimak, dan terlibat aktif dalam bedah buku sastra puisi. Mereka tidak berhenti sebagai penonton, tetapi turut menghidupkan teks dengan tubuh dan suara; Satrio Pambayun membacakan beberapa puisi dari buku saya dengan intensitas yang jujur, Sada Febrian melakukan alih wahana yang berani dengan mengubah puisi menjadi beberapa menit pertunjukan wayang kulit, sementara dari generasi seniman senior, Nugroho Budi Wibowo tak mau kalah menghadirkan tafsirnya melalui alih wahana puisi ke dalam gerak tari; sebuah perjumpaan lintas generasi dan lintas medium yang menegaskan bahwa sastra, ketika disentuh dengan keberanian dan kepekaan, mampu menjembatani tradisi dan kebaruan tanpa harus saling meniadakan.

Ramadan selalu menawarkan jeda. Di bulan ini, waktu seperti diperlambat agar manusia sempat mendengar suara batinnya sendiri. Tadarus Buku menjadi perpanjangan makna puasa: bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan banalitas berpikir. Puisi-puisi dalam Epistemologi Moksa Para Naga lahir dari kegelisahan yang sama—kegelisahan melihat dunia yang kian canggih tetapi kian kehilangan arah. Kita hidup di era kecerdasan buatan, data besar, dan kecepatan digital, namun justru kesadaran etis terasa tertinggal. Dunia berbicara tentang efisiensi, sementara kemanusiaan diperlakukan seperti variabel yang bisa dihapus. 

📚 Artikel Terkait

Slow Productivity

Jangan Meributkan Masalah Kecil

Hancurnya Sebuah Kemewahan

Mengurai Kekuasaan di Balik Hegemoni Makna

Isu ekologi menjadi luka lain yang dibicarakan malam itu. Banjir, kekeringan, krisis pangan, dan rusaknya tanah bukanlah bencana alam semata, melainkan cermin kegagalan etika. Dalam Epistemologi Moksa Para Naga, alam saya hadirkan sebagai subjek yang terluka, bukan latar yang bisu. Ramadan mengajarkan keseimbangan: makan secukupnya, hidup secukupnya, mengambil seperlunya. Namun dunia modern bergerak sebaliknya. Kita menumpuk, menimbun, dan menguras, lalu heran ketika bumi merespons dengan murka. Ketahanan pangan, yang kini menjadi isu global, sejatinya bukan hanya persoalan teknologi pertanian, tetapi persoalan cara pandang: apakah tanah kita anggap ibu, atau sekadar aset.

Diskusi malam itu juga menyentuh dunia digital. Generasi Z tumbuh bersama layar, sementara generasi Y masih sempat merasakan dunia tanpa notifikasi. Perbedaan ini bukan soal usia, melainkan cara mengalami realitas. Gen Z cenderung cair, cepat, dan visual; Gen Y lebih reflektif, meski sering terjebak nostalgia. Namun keduanya menghadapi tantangan yang sama: bagaimana menjadi manusia utuh di tengah dunia yang terus memecah perhatian. Puisi, dalam konteks ini, bukan pelarian dari teknologi, melainkan upaya melatih kedalaman di tengah arus dangkal. Martin Heidegger pernah mengingatkan, “Bahaya terbesar dari teknologi bukan pada mesin itu sendiri, melainkan pada cara ia mengubah cara manusia memahami keberadaan.” Ketika segalanya bisa diukur, manusia lupa bagaimana merasakan. 

Ramadan memberi konteks penting bagi pertanyaan tentang eksistensi diri dan kebahagiaan. Dalam budaya digital, kebahagiaan sering direduksi menjadi performa: pencapaian, pengakuan, dan angka-angka. Puasa justru membongkar ilusi itu. Saat lapar, manusia sadar bahwa dirinya rapuh; saat haus, ia ingat bahwa hidup bukan miliknya sepenuhnya. Epistemologi Moksa Para Naga berbicara tentang moksa bukan sebagai pelarian metafisis, melainkan keberanian menanggalkan ego. Kebahagiaan, dalam perspektif ini, bukan akumulasi, melainkan kelegaan batin ketika berhenti menyakiti—alam, sesama, dan diri sendiri.

Saya melihat wajah-wajah muda malam itu bukan sebagai audiens, melainkan sebagai subjek sejarah. Mereka hidup di masa krisis berlapis: krisis iklim, krisis makna, krisis kepercayaan. Namun justru di sanalah harapan bekerja. Tadarus Buku bukan solusi instan, tetapi latihan kesadaran. Ia mengajak membaca bukan untuk merasa pintar, melainkan untuk merasa bertanggung jawab. Sastra tidak menjanjikan jawaban, tetapi menjaga agar pertanyaan tetap hidup.

Di tengah dunia yang bising, mungkin tugas kita hari ini bukan menambah suara, melainkan memperdalam dengar. Ramadan akan berlalu, kopi akan dingin, diskusi akan usai. Namun pertanyaannya tinggal: setelah semua ini, apakah kita akan kembali hidup seperti biasa, atau berani mengubah cara memandang tanah, teknologi, perang, dan kebahagiaan? Jika dunia sedang menuju gelap, apakah kita memilih menyalakan cahaya kecil di dalam diri, atau justru menambah kegelapan dengan dalih normalitas? Pada akhirnya, tadarus bukan tentang buku saya, melainkan tentang diri kita sendiri: masihkah kita mau membaca tanda-tanda zaman sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis buku puisi Epistemologi Moksa Para Naga, lahir di Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, prosa di berbagai media nasional.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 59x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
151
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Ramai di Masjid, Sunyi di Struktur: Menghubungkan Spiritualitas dan Tata Kelola Aceh ke Depan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00