• Latest
Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan - IMG_5319 | Analisis | Potret Online

Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan

Juni 10, 2023
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan

Redaksi by Redaksi
Juni 10, 2023
in Analisis, Budaya, Essay, POTRET Budaya, Sastra
Reading Time: 2 mins read
0
Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan - IMG_5319 | Analisis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

Oleh : Pril Huseno

Video  penggalan “Pantun Koruptor” dari Budayawan legendaris WS Rendra yang dibacakan dalam acara musik kalau tak salah Sawung Jabo cs (Swami-Kantata Takwa).

Selain pantun tersebut, sajak-sajak Rendra yang digolongkan orang sebagai puisi-puisi pamflet, memang tajam menusuk. Yang disindir tidak bisa marah, kecuali hanya memanggil “Si Burung Merak” itu untuk diinterogasi aparat keamanan. Terasa pula kini, kita kehilangan greget dari Gerakan Kebudayaan sebagaimana kemarin disitir oleh bang Jus Soema di Praja, eks jurnalis Indonesia Raya.

Gerakan Kebudayaan, jika tetap hidup dan eksis di tengah komunitas anak bangsa, tidak hanya diwakili oleh gerakan-gerakan menghidupkan kesenian tari, lukis, seni suara dan sebagainya, tetapi juga gerakan memelihara adab dan literasi lewat kontinuitas dan kesinambungan berpikir.

Gerakan Kebudayaan juga mengartikulasikan kemampuan anak bangsa untuk memilah, mana aktivitas anak bangsa yang mempunyai kontribusi positif untuk memajukan peradaban, dan mana gaya hidup dan aktivitas anak bangsa yang dapat memporakporandakan kekuatan budaya dan peradaban yang sedang berjalan.

Bangsa yang sedang menuju proses “terjun bebas” dari peradaban yang semula (adiluhung), ketat menjaga martabat/marwah individu dan kelompok, budaya malu, harga diri, menuju kualitas bangsa yang jatuh ke titik nadir akibat budaya korupsi luar biasa, kemunduran demokrasi, degradasi kualitas pendidikan dan ketahanan ekonomi/pangan, banyak dipengaruhi oleh sejauh mana kualitas peradaban terjaga, antara lain dengan Gerakan-gerakan Kebudayaan.

Selain kehilangan sosok budayawan besar WS Rendra, gerakan kebudayaan juga “mengkeret” di lingkungan akademisi kampus sebagai penjaga moral intelektual bangsa. Telah amat jarang didengar, seruan-seruan perbaikan total dari kampus yang mengecam budaya korup, mau menang sendiri, sadisme, materialisme sebagai impact neoliberal kapitalistik. Sedang untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kritik sosial lewat parade seni dan puisi saja kampus tidak lagi mempunyai nyali. Padahal dulu aktivitas itu yang kerap menjaga hati nurani bangsa lewat kritik-kritik sosial tajam yang disampaikan melalui saluran seni dan kebudayaan.

Gerakan-gerakan literasi yang menghasilkan karya-karya masterpiece pemikiran anak bangsa juga seolah sayup-sayup saja. Kecuali oleh beberapa gelintir tokoh yang kerap menuliskan opini terhadap kejumudan kondisi, tetapi sebuah gerakan besar yang menghasilkan pokok-pokok pikiran tajam dan bernyali juga meredup.

Para tokoh cendekiawan muda yang dulu di awal-awal orde baru bermunculan segar antara lain tergabung di lembaga LP3ES dan lain-lain, kini seakan “hidup segan mati tak mau”. Terasa sekali, elan vital kemajuan peradaban bangsa melalui kegiatan berpikir dan literasi amat jauh berkurang.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Yogyakarta, 08 Juni 2023

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan - 195119bc ff11 405a 93e9 9e3bd6e0d359 | Analisis | Potret Online

Ratapan Anak Pinggir Sungai

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com