• Latest
Ratapan Anak Pinggir Sungai - 195119bc ff11 405a 93e9 9e3bd6e0d359 | Cerbung | Potret Online

Ratapan Anak Pinggir Sungai

Juni 11, 2023
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ratapan Anak Pinggir Sungai

Bagian Empat

Redaksi by Redaksi
Juni 11, 2023
in Cerbung, Lingkungan, POTRET Budaya
Reading Time: 5 mins read
0
Ratapan Anak Pinggir Sungai - 195119bc ff11 405a 93e9 9e3bd6e0d359 | Cerbung | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Munawir Abdullah

SETELAH shalat subuh berjamaah, aku, Anwar dan Geusyik duduk di pinggirian Meunasah. Mata kami menatap ke arah sungai, luapan airnya sudah sampai ke teras Meunasah. Alhamdulillah, petaka kiriman Kulam Cet Tambi kali ini tidak membawa rumah warga. Kami hanya khawatir kondisi padi yang baru selesai tanam di sawah.

Aku dan Anwar memang sudah merencanakan untuk menjumpai Geusyik subuh ini. Kami ingin menceritakan kepadanya rencana untuk menjumpai Bupati hari ini. Sudah menjadi tradisi di kampungku. Bila warga ingin menjumpai Geusyik, tinggal ikuti jamaah di Meunasah. Sudah pasti Ia menjumpainya, kecuali untuk hal-hal tertentu, yang tidak mungkin disampaikan di muka umum.

Sebenarnya aku sangat berkeinginan untuk menjumpai Geusyik di rumahnya. Bukan agar dianggap sopan, tetapi ada sesuau yang ingin aku lihat di rumahnya.

Namun sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk berjumpa dengan Geusyik memang sering di Meunasah. Aku dan Anwar lumayan dekat dengan Geusyik. Bahkan kami teman diskusi Geusyik dalam setiap persoalan.

Istri Geusyik kami lumayan cantik. Jadi tidak heran. Kalau Vera, anak pertamanya menjadi lirikan pemuda gampong Cet Tambi. Keluarga Geusyik semua berpendidikan, si Vera anak pertama itu sedang kuliah, sekarang sudah semester III. Dua lagi; yang satu masih SMP dan yang satu lagi kelas dua SMA. Anak terakhir yang masih kelas 1 SMP itu juga sangat cantik. Tapi kalau untuk seumuranku, terlalu jauh selisih umurnya. Tidak kurang dari 15 tahunan aku selisih umur dengan anak Geusyik yang masih SMP itu. Namanya saja aku tidak ingat. Anak Geuyik yang betul-betul kuingat namanya, cuma Vera.

Vera memang tidak tinggal di rumah. Dia sedang kuliah di Ibu Kota Propinsi. Dia pulang dua hari yang lalu, karena kuliahnya lagi libur. Kalau aku tidak salah, Vera sekarang kuliah di jurusan Akuntansi. Mungkin dia berkeinginan untuk menjadi seorang akuntan ke depan, apalagi di kampungku, tidak ada satupun orang yang paham betul tentang konsep pelaporan keuangan.

Ah, kenapa juga aku mencertikan keluarga Geusyik di kampungku, apalagi secara khusus aku mencerikan tentang Vera. Bukankah Aku sama Anwar ingin menceritakan sama Geusyik mengenai rencana kami untuk menjumpai Bupati. Ya sudalah, aku pun sudah terlanjur menceritaknnya. Yang pasti, Vera itu cantik orangnya.

***

“Pak, Anwar telah menceritkan semuanya hasil pertemuan Bapak dengan Pak Amir kemarin” aku memulai pembicaraan di subuh itu.

“Siapa kamu, mesti diceritakan semua hasil pertemuanku dengan Pak Amir” jawab Pak Geusyik dengan intonasi yang tinggi, sambil menepuk bahuku.

Geusyik kami memang suka bercanda. Jadi jangan heran kalau lagi serius-seriusnya diskusi, tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan dengan cerita-cerita lucu, malahan ada yang koyol.

“Kalau bukan denganku Anwar ceritakan semua persoalan kampungku ini, sama siapa lagi Pak?. Sama Bapak memang tidak ada solusi” aku mencandai balik candaan Pak Geusyik tadi.

“Ya sudah, mulai besok Geusyik kampung ini kamu saja, biar semua masalahnya dapat kamu atasi” Pak Geusyik membalas balik candaanku.

Itulah yang membuatku nyaman berdiskusi dengan Geusyik. Orangnya sangat ramah, dan bisa mencairkan suasana dalam kondisi apapun. Rasa-rasanya, dia satu-satunya orang yang tidak pernah marah di dunia ini. Tapi jangan coba-coba membuat keonaran di kampungku. Geusyik Daud itu sangat tegas orangnya. Beberapa minggu yang lalu, ada tiga pencuri kerbau yang dibawanya  ke kantor polisi.

“Jadi apa rencananya?, kok tiba-tiba kalian mengahadangku pagi ini, jabatan Geusyik telah kuserahkan padamu, apalagi yang kamu inginkan?” Tanyanya dengan serius, namun tetap dalam bentuk canda.

“Gini Pak, setelah aku mendengar cerita dari Anwar pertemuan Bapak dengan camat kemarin, aku dan Anwar ada rencana untuk menjumpai Bupati hari ini, untuk menyampaikan masalah Pabrik Galian C itu”

“Kalian pikir Bupati itu seperti aku?, tinggal datang ke rumahnya, ngopi-ngopi, kemudian kalian ceritkan ini, itu.

Masalahnya selesai. Coba kalian pastikan dulu dimana posisi dia, mungkin dia sedang di luar negeri. Lagi ada study banding untuk mendirikan pabrik-pabrik baru lagi”

“Bukan begitu Pak, kita coba jumpai saja dulu, siapa tahu mungkin nanti ada hasil yang berpihak kepda kampung kita” aku berusaha untuk menyakinkan Geusyik tujuan pertemuan kami dengan Bupati.

Sebenarnya aku juga punya pandangan, masalah itu tidak akan selesai di jalan. Pun terjadi aksi lapangan, itu hanya sebatas untuk memperkuat basis di tingkat bawah agat tersedia meja perundingan.

“Ya sudah, sebelum kalian pergi, kalian hubungi dulu nanti Pak Boy, dia sekarang ajudan Bupati. Kalian minta jadwalnya pada Pak Boy, kapan bisa kalian jumpai Bupati. Ini nomornya, kamu simpan” sambil mengeluarkan handphone dari saku celana pendak yang ada di dalam sarungnya.

Aku menyimpan nomornya, dan percakapn kami berakhir di subuh itu, Pak Geusyik telah mengizinkan kami untuk berjumpa dengan bupati. Aku dan Anwar juga pulang ke rumah masing-masing. Sambil jalan pulang, aku katakan pada Anwar “War, nanti aku pukul 07 pagi ke rumahmu ya. Kita harus membuat persiapan untuk berjumpa dengan Bupati, biar tidak koyol nanti di sana”. Anwar pun mengangguk sambil berlalu.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Ratapan Anak Pinggir Sungai - 117fd160 0ca4 4ddc afab 02c04e224303 | Cerbung | Potret Online

Mudahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com