POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Cerbung

Ratapan Anak Pinggir Sungai

Bagian Empat

Redaksi by Redaksi
Juni 11, 2023
in Cerbung, Lingkungan, POTRET Budaya
0
Ratapan Anak Pinggir Sungai - 195119bc ff11 405a 93e9 9e3bd6e0d359 | Cerbung | Potret Online

Oleh Munawir Abdullah

SETELAH shalat subuh berjamaah, aku, Anwar dan Geusyik duduk di pinggirian Meunasah. Mata kami menatap ke arah sungai, luapan airnya sudah sampai ke teras Meunasah. Alhamdulillah, petaka kiriman Kulam Cet Tambi kali ini tidak membawa rumah warga. Kami hanya khawatir kondisi padi yang baru selesai tanam di sawah.

Aku dan Anwar memang sudah merencanakan untuk menjumpai Geusyik subuh ini. Kami ingin menceritakan kepadanya rencana untuk menjumpai Bupati hari ini. Sudah menjadi tradisi di kampungku. Bila warga ingin menjumpai Geusyik, tinggal ikuti jamaah di Meunasah. Sudah pasti Ia menjumpainya, kecuali untuk hal-hal tertentu, yang tidak mungkin disampaikan di muka umum.

Baca Juga
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - 9c619b5f e073 46cd ad77 9ce879df0f76 | Cerbung | Potret Online
    POTRET Budaya
    Profesor Agung Pranoto Mengapresiasikan Buku Sajak Secangkir Air Mata, Karya Hamdani Mulya
    04 Okt 2023
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - f50a0903 c494 4c24 96a2 49dcd0810a69 | Cerbung | Potret Online
    Edukasi
    Seminar Kemajuan Teknologi Kreator Era Artificial Intelligence(AI) di Sumatera Barat, Hadapi Tantangan dan Peluang Kreativitas , Dibahas Sengit
    06 Okt 2024

Sebenarnya aku sangat berkeinginan untuk menjumpai Geusyik di rumahnya. Bukan agar dianggap sopan, tetapi ada sesuau yang ingin aku lihat di rumahnya.

Namun sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk berjumpa dengan Geusyik memang sering di Meunasah. Aku dan Anwar lumayan dekat dengan Geusyik. Bahkan kami teman diskusi Geusyik dalam setiap persoalan.

Baca Juga
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - 45289d89 4d0f 47b5 8ac0 7015f86605fb | Cerbung | Potret Online
    Budaya
    Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah
    28 Feb 2026
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - 4dbcb2cd 5eb6 4cc8 8e36 e7589bd47626 | Cerbung | Potret Online
    Cerpen
    Mimpi
    28 Feb 2024

Istri Geusyik kami lumayan cantik. Jadi tidak heran. Kalau Vera, anak pertamanya menjadi lirikan pemuda gampong Cet Tambi. Keluarga Geusyik semua berpendidikan, si Vera anak pertama itu sedang kuliah, sekarang sudah semester III. Dua lagi; yang satu masih SMP dan yang satu lagi kelas dua SMA. Anak terakhir yang masih kelas 1 SMP itu juga sangat cantik. Tapi kalau untuk seumuranku, terlalu jauh selisih umurnya. Tidak kurang dari 15 tahunan aku selisih umur dengan anak Geusyik yang masih SMP itu. Namanya saja aku tidak ingat. Anak Geuyik yang betul-betul kuingat namanya, cuma Vera.

Vera memang tidak tinggal di rumah. Dia sedang kuliah di Ibu Kota Propinsi. Dia pulang dua hari yang lalu, karena kuliahnya lagi libur. Kalau aku tidak salah, Vera sekarang kuliah di jurusan Akuntansi. Mungkin dia berkeinginan untuk menjadi seorang akuntan ke depan, apalagi di kampungku, tidak ada satupun orang yang paham betul tentang konsep pelaporan keuangan.

Baca Juga
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - 5b85683c 7299 4d7c b3f6 71b936f67aae | Cerbung | Potret Online
    Artikel
    Panggung, Penjegalan, dan Ketakutan Terhadap Pikiran
    31 Des 2025
  • Ratapan Anak Pinggir Sungai - CB6F1677 F3A9 4928 81D6 E484F7DC39C6 | Cerbung | Potret Online
    Pendidikan
    ABULYATAMA BERDUKA
    14 Des 2022

Ah, kenapa juga aku mencertikan keluarga Geusyik di kampungku, apalagi secara khusus aku mencerikan tentang Vera. Bukankah Aku sama Anwar ingin menceritakan sama Geusyik mengenai rencana kami untuk menjumpai Bupati. Ya sudalah, aku pun sudah terlanjur menceritaknnya. Yang pasti, Vera itu cantik orangnya.

***

“Pak, Anwar telah menceritkan semuanya hasil pertemuan Bapak dengan Pak Amir kemarin” aku memulai pembicaraan di subuh itu.

“Siapa kamu, mesti diceritakan semua hasil pertemuanku dengan Pak Amir” jawab Pak Geusyik dengan intonasi yang tinggi, sambil menepuk bahuku.

Geusyik kami memang suka bercanda. Jadi jangan heran kalau lagi serius-seriusnya diskusi, tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan dengan cerita-cerita lucu, malahan ada yang koyol.

“Kalau bukan denganku Anwar ceritakan semua persoalan kampungku ini, sama siapa lagi Pak?. Sama Bapak memang tidak ada solusi” aku mencandai balik candaan Pak Geusyik tadi.

“Ya sudah, mulai besok Geusyik kampung ini kamu saja, biar semua masalahnya dapat kamu atasi” Pak Geusyik membalas balik candaanku.

Itulah yang membuatku nyaman berdiskusi dengan Geusyik. Orangnya sangat ramah, dan bisa mencairkan suasana dalam kondisi apapun. Rasa-rasanya, dia satu-satunya orang yang tidak pernah marah di dunia ini. Tapi jangan coba-coba membuat keonaran di kampungku. Geusyik Daud itu sangat tegas orangnya. Beberapa minggu yang lalu, ada tiga pencuri kerbau yang dibawanya  ke kantor polisi.

“Jadi apa rencananya?, kok tiba-tiba kalian mengahadangku pagi ini, jabatan Geusyik telah kuserahkan padamu, apalagi yang kamu inginkan?” Tanyanya dengan serius, namun tetap dalam bentuk canda.

“Gini Pak, setelah aku mendengar cerita dari Anwar pertemuan Bapak dengan camat kemarin, aku dan Anwar ada rencana untuk menjumpai Bupati hari ini, untuk menyampaikan masalah Pabrik Galian C itu”

“Kalian pikir Bupati itu seperti aku?, tinggal datang ke rumahnya, ngopi-ngopi, kemudian kalian ceritkan ini, itu.

Masalahnya selesai. Coba kalian pastikan dulu dimana posisi dia, mungkin dia sedang di luar negeri. Lagi ada study banding untuk mendirikan pabrik-pabrik baru lagi”

“Bukan begitu Pak, kita coba jumpai saja dulu, siapa tahu mungkin nanti ada hasil yang berpihak kepda kampung kita” aku berusaha untuk menyakinkan Geusyik tujuan pertemuan kami dengan Bupati.

Sebenarnya aku juga punya pandangan, masalah itu tidak akan selesai di jalan. Pun terjadi aksi lapangan, itu hanya sebatas untuk memperkuat basis di tingkat bawah agat tersedia meja perundingan.

“Ya sudah, sebelum kalian pergi, kalian hubungi dulu nanti Pak Boy, dia sekarang ajudan Bupati. Kalian minta jadwalnya pada Pak Boy, kapan bisa kalian jumpai Bupati. Ini nomornya, kamu simpan” sambil mengeluarkan handphone dari saku celana pendak yang ada di dalam sarungnya.

Aku menyimpan nomornya, dan percakapn kami berakhir di subuh itu, Pak Geusyik telah mengizinkan kami untuk berjumpa dengan bupati. Aku dan Anwar juga pulang ke rumah masing-masing. Sambil jalan pulang, aku katakan pada Anwar “War, nanti aku pukul 07 pagi ke rumahmu ya. Kita harus membuat persiapan untuk berjumpa dengan Bupati, biar tidak koyol nanti di sana”. Anwar pun mengangguk sambil berlalu.

Previous Post

Bangsa yang Kehilangan Gerakan Kebudayaan

Next Post

Mudahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

Next Post
Ratapan Anak Pinggir Sungai - 117fd160 0ca4 4ddc afab 02c04e224303 | Cerbung | Potret Online

Mudahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah