HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

IKN: Mimpi Besar Indonesia di Hutan Kalimantan dan Ancaman Ekologis Flora dan Fauna

Siti Hajar by Siti Hajar
Agustus 26, 2025
in #Kalimantan, #Kritik, Artikel, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Bayangkan kita menonton trailer film blockbuster: adegan pembukaan menampilkan Presiden Jokowi pada 2019 dengan lantang mengumumkan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Tempo media, wacana publik, dan segala rencana terdengar seperti â€śbesok juga kita pindah, bawa semua aset Jakarta ke hutan Kalimantan”. Ambisi Ibu Kota Nusantara (IKN) lahir dengan jargon pemerataan pembangunan, kota pintar, dan ramah lingkungan.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026

Nyatanya saat itu banyak orang mengernyit. Mengapa harus pindah dari Jakarta? Apa tidak terlalu ambisius? Namun, ide besar ini lahir bukan tanpa alasan. Jakarta sudah lama menghadapi masalah pelik: kemacetan, penurunan muka tanah, banjir tahunan, dan beban populasi yang luar biasa. Lalu muncullah visi IKN Nusantara, ibu kota baru yang diharapkan menjadi kota modern, hijau, dan berkelanjutan di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Menurut data Kementerian PPN/Bappenas, pemindahan ibu kota ini tak hanya sekadar memindahkan kantor pemerintahan. “IKN Nusantara dirancang sebagai kota pintar yang 70% wilayahnya adalah ruang hijau, sehingga mampu mendorong pemerataan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas (Kompas, 2022).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, alokasi anggaran IKN dimulai sejak 2022 dengan rincian: tahun 2022 sebesar Rp5 triliun, 2023 sebesar Rp20 triliun, 2024 sebesar Rp30 triliun, 2025 sebesar Rp40 triliun, dan diproyeksikan terus meningkat hingga rampung di tahap awal pada 2029. 

Anggaran ini tidak hanya bersumber dari APBN, tetapi juga dari investasi swasta dan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha.

IKN bukan hanya soal gedung megah. 

Rencana besar ini juga bertujuan membangun pemerataan pembangunan di luar Jawa. Selama ini, lebih dari 57% PDB Indonesia berasal dari Pulau Jawa (BPS, 2022). Dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Kalimantan, diharapkan muncul “gravitasi ekonomi” baru yang memacu pertumbuhan di kawasan timur Indonesia.

Meski demikian, proyek ini tidak bebas kritik. Biaya yang sangat besar menuai perdebatan, apalagi di tengah isu ketimpangan sosial. Namun, pemerintah berargumen bahwa dampak jangka panjangnya akan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. “IKN ini bukan proyek 5 tahun, tapi proyek peradaban 100 tahun,” kata Jokowi pada pidato di DPR (Detik, 2023).

Bagaimanapun, mimpi besar selalu butuh keberanian. Apakah IKN akan sukses seperti rencana? Atau bernasib seperti ibu kota baru di negara lain yang sepi penghuni? Jawabannya tergantung konsistensi kebijakan dan keterlibatan semua pihak. Satu hal yang pasti, IKN Nusantara akan terus menjadi sorotan dunia sebagai eksperimen besar pemindahan ibu kota di era modern.

Ancaman Ekologis

Di balik narasi gemerlap kota pintar dan modern, ada satu pertanyaan besar: bagaimana nasib lingkungan, flora, dan fauna Kalimantan Timur? Kita semua tahu Kalimantan adalah paru-paru dunia. Hutan tropisnya rumah bagi orangutan, bekantan, hingga ribuan spesies tumbuhan endemik. 

Pembangunan skala besar seperti IKN tentu punya konsekuensi ekologis. Data WALHI (2023) menyebut, kawasan inti IKN mencakup area hutan sekunder dan bekas konsesi tambang yang sudah terdegradasi, tapi sebagian besar masih punya fungsi ekologis penting. “Pembangunan IKN berpotensi memperparah fragmentasi habitat satwa langka, kecuali dilakukan dengan perencanaan ekologis yang ketat,” kata Dwi Sawung, Manajer Kampanye WALHI (Mongabay, 2023).

Ancaman lain adalah deforestasi dan alih fungsi lahan. Meski pemerintah berjanji 70% kawasan IKN akan menjadi ruang hijau, implementasi di lapangan belum tentu semulus rencana. Kajian Forest Watch Indonesia (2022) memperkirakan, jika tak hati-hati, pembangunan infrastruktur bisa memicu pembukaan hutan lebih luas dari perkiraan awal. Padahal, hutan Kalimantan adalah benteng utama penyerapan karbon. Kehilangannya bisa memperburuk krisis iklim global.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa IKN akan menjadi “kota hutan” dengan konsep berkelanjutan. Proyek restorasi lahan bekas tambang dan penanaman kembali (reforestasi) sedang dijalankan. 

Ada juga rencana pembangunan koridor satwa untuk memastikan orangutan dan bekantan tidak terisolasi. Bahkan, dana APBN yang dikucurkan tiap tahun (mulai Rp5,4 triliun di 2022 hingga hampir Rp30 triliun di 2024 – Bappenas, 2023) sebagian dialokasikan untuk memastikan infrastruktur hijau dan pengelolaan lingkungan.

Tentu semua ini kembali pada komitmen. Apakah konsep kota hijau akan benar-benar terwujud, atau hanya menjadi jargon manis? Sejarah menunjukkan banyak proyek besar yang abai pada lingkungan, lalu menyesal di kemudian hari.

Namun, kita juga bisa optimistis. Jika IKN sukses menjadi contoh kota ramah lingkungan, dunia akan belajar dari Indonesia. 

Bayangkan sebuah ibu kota modern dengan transportasi publik tanpa emisi, dikelilingi hutan tropis, di mana orangutan tetap berkeliaran bebas di habitatnya. Itu bukan mimpi yang mustahil, asalkan pengawasan ketat dan partisipasi publik terus berjalan.

Seperti yang dikatakan oleh aktivis lingkungan Kalimantan, Rahmad Ramadhan (Tempo, 2023), “Masa depan IKN adalah masa depan hutan kita. Kalau gagal menjaga lingkungan, kita bukan hanya kehilangan ibu kota baru, tapi juga paru-paru dunia.

Kondisi Terkini IKN

Beberapa waktu lalu, linimasa media sosial sempat riuh oleh video dari kawasan IKN. Pemandangan yang terekam cukup kontras dengan jargon kota masa depan: semak merambat liar, beberapa bangunan terlihat mangkrak, dan kawanan soang berkeliaran di taman-taman yang seharusnya megah. Wajar jika publik mulai resah—benarkah proyek ambisius ini mulai diabaikan? 

Pemerintah buru-buru memberi penjelasan, menyebut IKN adalah proyek jangka panjang yang butuh waktu 10 hingga 20 tahun untuk rampung, dengan perpindahan ibu kota yang dilakukan bertahap dan penuh persiapan infrastruktur.

Namun, di balik penjelasan itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tak kalah penting: sudah berapa banyak anggaran yang terserap ke sana? Apakah belum cukup? Mau berapa banyak lagi yang akan digelontorkan? 

Setiap perpanjangan proyek bukan hanya menambah waktu, tapi juga membuka potensi korupsi baru. Seakan kita tak pernah belajar dari puluhan kasus rasuah yang mencoreng negeri ini. Sementara itu, rakyat miskin di banyak sudut Indonesia masih bergulat dengan lapar dan hidup di bawah garis layak. Sampai kapan lakon ini akan dipertontonkan? Apakah kita menunggu sampai rakyat benar-benar hilang sabar dan menabuh genderang perlawanan terhadap pemimpinnya sendiri?[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Pencipta Keteduhan di Sekolah Itu Sudah Ditebang Untuk Kepentingan Makhluk Sempurna yang Berakal‎

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com