Minggu, April 19, 2026

Sepetak Sawah

27 April 2025
3 menit baca
Sepetak Sawah - 2025 01 06 11 54 51 | #Sepetak sawah | Potret Online
Sepetak Sawah

Oleh : Ilhamdi Sulaiman


Setiap tanggal dua puluh satu April, orang-orang merayakan Hari Kartini. Ada yang merayakannya dalam bentuk lomba kebaya.lomba musik,tari dan lomba menulis surat Yang dimeriahkan juga dengan musik, tari dan baca puisi di panggung panggung yang aku tonton di televisi. Kartini perempuan yang membangkitkan nyala kesadaran akan hak, akan martabat, manusia bernama perempuan di bumi nusantara ini. Tapi Raahma di kamarnya hanya memandangi kotak kayu usang yang dia ambil dari lemari peninggalan almarhum ibunya.

Di hatinya yang basah oleh tangis jatuh diam-diam ke atas sebuah kotak kayu hanyalah ibunya. Karena baginya, pahlawan sejati telah dikubur bersama sepetak sawah miliknya, dirampas atas nama pembangunan, atas nama Proyek masa depan negaranya.

Sepetak sawah yang dulu penuh subur hanya kenangan, kini rata oleh beton, dan suara alat berat telah menggantikan nyanyian alam yang pernah meninabobokannya.
Dalam kotak itu, tersimpan abu kertas—sisa surat jual beli, fotokopi KTP ibunya, dan dokumen-dokumen lain yang dulu begitu dijaga. Ibunya sendiri yang membakarnya, setelah pulang dari kantor kelurahan.

Seorang pegawai berseragam batik berkata dengan datar, “Tanah ini bukan atas nama Ibu lagi. Sudah menjadi milik perusahaan.” Sertifikat prona yang katanya gratis, ternyata hanya gratis bagi mereka yang punya kuasa. Ibu pulang dengan tangan hampa, membawa kabar buruk kepada anak-anaknya. Malam itu, ia membakar seluruh dokumen itu, satu per satu, karena baginya, kertas-kertas itu sudah tak punya guna lagi. “Bukan bukti kepemilikan, tapi luka… luka yang akan hidup bersamamu sepanjang masa,” ucapnya lirih kepada Rahma dan adik-adiknya.


Keesokan harinya, Rahma berjalan sendirian menuju lahan yang dulu mereka miliki enam ratus meter sawah di Daerah Dadap Kosambi Tangerang yang kini bukan lagi milik ibunya. Ia datang bukan untuk menuntut, hanya untuk menyambut kenangan yang masih tertinggal di sana. Ia ingat masa kecilnya, saat ibunya menanam bibit padi sambil berjalan mundur, pelan dan sabar.

Ingat pondok kecil tempat ayah dan ibu beristirahat, menikmati bakul nasi yang ibu bawa dari rumah. Suara gemericik sungai di belakang pondok itu dulu seperti nyanyian alam yang merdu, tulus, tak tergantikan.
Di sela-sela rerumputan yang kini mulai tumbuh liar, Rahma melihat bayangan masa lalu: dirinya dan adik-adiknya berjalan tanpa alas kaki, mengejar capung dan belalang.

Mereka tertawa tanpa beban, membasuh kaki di aliran sungai yang jernih, membuat perahu dari daun pisang, dan bersaing siapa yang bisa melompat paling jauh di pematang sawah. Terkadang, ibu ikut tertawa bersama mereka, meski tubuhnya lelah. Ayah hanya tersenyum dari kejauhan, tangan masih menggenggam cangkul, peluh menetes tapi mata tetap hangat.


Kini, semua itu tak lebih dari serpih kenangan yang berserakan di bawah kaki Rahma. Tanahnya telah diambil, tapi ingatan itu tetap utuh di hatinya,tak bisa digusur, tak bisa dibeli.


Sebelum peringatan Kartini kemarin, Rahma anak gadis tertua dari pemilik kotak kayu itu sempat merasa lega. Empat orang yang pernah ditemui ibunya di kantor kelurahan, telah ditangkap dan ditahan oleh kepolisian, diduga sebagai pemalsu surat sertifikat warga, yang hendak mereka jual diam-diam kepada sebuah pengembang properti di utara Jakarta.


Namun, kelegaan itu cepat sirna. Dari layar televisi yang redup dan berdebu, Rahma mendengar kabar keempat tersangka itu telah dibebaskan. Polisi melepaskan mereka dengan alasan sederhana. masa penahanan dua puluh satu hari telah lewat, tanpa satu pun dakwaan yang mengikat.


Seperti layang-layang putus tali, harapan Rahma melayang entah ke mana. Dalam hatinya, ia tahu: keadilan, di negeri ini, bukanlah sesuatu yang bisa ditunggu dengan setia. Ia harus dijemput, diperebutkan atau kadang, cukup diterima sebagai kehilangan yang lain.


Hari itu, tanpa kata, Rahma memilih percaya pada kekuatan kecil dalam dirinya: untuk bertahan, untuk terus hidup, dan untuk suatu saat, menuliskan kisah yang lebih adil daripada yang diwariskan kepadanya.


Jakarta,27 April 2025

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist