Akulah Momo Kelana

Oleh Redaksi
02 Maret 2025
8 menit baca
Akulah Momo Kelana - IMG 20250302 WA0003 | Cerpen | Potret Online
Ilustrasi

Tapi sebelum Bu Siti pergi, wanita itu sempat meninggalkan singkong rebus dan secangkir kopi untuk Pak Momo di pinggir pintu tempat orang tua itu terkulai lemah.

‘’Terima kasih Bu Siti,’’ujar Pak Momo. Suaranya terdengar lemah dan pelan sekali.

  Sejam setelah kepergian Bu Siti, suasana siang di lingkungan itu dicekam keheningan. Karena jenuh, Pak Momo mencoba bangkit. Ia membuka kantong pembungkus biolanya dan mengeluarkan benda berharga miliknya itu. Lalu dipandangnya sejenak. Ia tersenyum getir. Kemudian dawai biola itu ia stem agar tak terdengar fals. Lalu benang stik biola itu ia balur dengan damar pemulas, agar kesat dan melahirkan gesekan suara yang bagus.

  Tak lama di antaranya, suara biola Pak Momo merobek kesenyapan suasana. Kelembutan lengkingan biolanya menggambarkan rintihan hidupnya yang menderita luar biasa. Terutama ketika ia melantunkan lagu jazz klasik bertajuk I’m in The Mood for Love, membuat perasaan siapa pun akan tersentuh.

Ternyata, kemampuan Pak Momo masih luar biasa. Di usianya yang senja, kemahirannya bermain musik masih menyisakan kekaguman bagi banyak orang.

   Di masa mudanya dulu, lagu itulah yang melambungkan namanya di jagad musik inlander (bumi putra). Sebab, di lingkungan pemusik orang kulit putih (Belanda), Pak Momo sangat disayang gurunya, Hermaan van De Brink. Tiap  kali tampil dalam Van De Brink Orchestra di Initium Ballroom, Momo selalu menjadi bintang.

Seolah ia ingin mengatakan ke publik dunia bahwa akulah si Momo Kelana pencabik dawai ‘’biola maut’’. Apalagi pada masa kejayaannya Momo memiliki wajah tampan, tentu banyak gadis yang rela tenggelam ke dalam pelukannya. 
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W