“Dua minggu lagi aku operasi, Zubaidah. Aku pun tak tahu bakal hidup atau mati setelah itu. Dan detik ini kau beri informasi yang sukar kuterima. Oh Tuhan matikan saja aku sekarang.”
Zubaidah memelukku. Di rumah yang hanya kami berdua tinggal ini, udara menguap dan mengembang. Dalam depresi pikiran karena akan menjadi beban seumuran, kutantang saja dia sekalian.
“Non Ivansive Prenatal Testing (NIPT), sore ini segera kau ke rumah sakit. Ambil sampel darah. Kita cek DNA bayi itu!”
Zubaidah menghela napas. Kurasakan denyut urat leher dan embusan itu menerjang telingaku.
“Ku lakukan sebagai bukti baktiku padamu, Mas.”
***
Hari berlalu berkumpul menjadi Minggu, sesuai prosedur dari rumah sakit tempat aku akan operasi bahwa untuk menunggu hasil sampel darah istriku diperlukan waktu 14 hari. Masa itu berarti akan bertepatan pula dengan tindakan operasi untukku. Dan di sinilah aku sekarang, sebuah kamar bercat putih bertirai hijau dengan bau pengharum ruangan yang sekilas kucium bercampur obat dan alkohol. Aku terbaring di bangsal pesakitan ditemani Zubaidah yang makin buncit perutnya.
Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Beliau pengajar di SMAN 2 Jorong. Heri Haliling selain mengajar juga aktif menulis baik cerpen atau novel dalam aplikasi GWP atau Kwikku. Beberapa karyanya yang telah terbit antara lain:
1. Novlet Rumah Remah Remang, 2024 (J-Maestro).
2. Novel Perempuan Penjemput Subuh, menjadi juara 2 Sayembara Menulis Novel Guru dan Dosen Tahun 2024 (PT Aksara Pustaka Media).
3. Beberapa cerpennya telah termuat dalam media cetak dan digital seperti Balipolitika, Radar Utara, Radar NTT, Negeri Kertas.com, Kaltim Post, Kompasiana, dan Republika
Diskusi