Jumat, April 24, 2026

Mentari Terakhir Untuk Purnama

Oleh Redaksi
03 April 2018
3 menit baca

By Lina Zulaini
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah
            Aku seorang pendosa, ini kata-kata yang tepat untukku. Jangankan ibadah, aku bahkan membenci orang-orang beribadah. Sok alim. Sok suci. Itu cercaku pada orang-orang yang menasehatiku. Aku seorang gadis yang suka bergonta-ganti kekasih, suka memakai jeans meski siap diomelin oleh ibu, kelayapan hampir setiap malam, kurasa itu pengaruh aku tinggal di kota.
            Namun itu semua telah menjadi kisah lamaku. Semenjak aku mengenal dan dekat dengan seorang bidadari bernama Purnama Ratnasari. Ia seorang yang awalnya aku benci karena sering berkomentar tentang penampilanku yang tak sesuai sikap seorang muslimah.
“Perempuan itu lebih cantik ketika berhijab”. 
Kata ajaib itu membuatku terhipnotis hingga aku memutuskan berhijrah.
            Masa kelam, kubiarkan ia tenggelam. Kini aku sedang mengukir sejarah baru bersama orang-orang yang kusayang, satu di antaranya Purnama, sahabat dunia akhiratku. Aku mengenalnya ketika kami masuk kuliah. Semakin lama aku mengamatinya, semakin kagum aku terhadap sudut pandangnya pada alam semesta ini.
“Aku suka menunggu matahari terbit”.
Ya, menanti sang fajar adalah satu hal favorit yang dia lihat hampir setiap pagi. Ia berkata memandang matahari terbit membuatnya tambah bersyukur karena ia masih bisa bernapas, dan ia tak sabar menunggu hari esok.
“insya Allah besok pagi aku pulang ke kampung, kamu baik-baik di sini ya. Still istiqamah cantik”.
Dia hampir selalu membuatku bahagia dengan pujian-pujiannya. Namun, pesan singkat itu adalah komunikasi terakhir kami yang hampir dua bulan. Berulang kali aku mencoba menghubunginya tapi tak pernah tersambung. Mungkin koneksi jaringan di kampungnya sangat buruk, aku mencoba menghibur hati pilu ini.
“Aku sedang menunggu terbit fajar nih, kata kakakku mentari di sini lebih indah”.
            Usai shalat subuh aku membaca pesan singkat Purnama. Aku tersenyum. Rasanya aneh tiba-tiba dia mengirimku pesan soal matahari terbit tanpa kabar apapun hampir dua bulan lebih. Purnama, kamu memang penuh misteri.
            Aku menekan tombol memanggil pada telepon genggamku. Tidak ada jawaban dari seberang, kurasa Purnama masih menikmati mentarinya.
            Menjelang pukul 07.15 WIB, aku telah siap untuk berangkat ke workshop yang kudaftar minggu lalu. Namun sanubari ini masih memikirkan Purnama. Kucoba menghubunginya lagi, lama aku menunggu hingga,…
“Assalamualaikum Dek Rahma,…”
Rasanya ada biji rambutan yang tersekat di kerongkonganku. Tubuhku tiba-tiba terjatuh dan hanphoneku terlepas dari genggaman. Purnama, mengapa kamu begitu cepat pergi? Bukankah kamu berjanji akan menanti mentari terindahmu bersamaku?
            Kabar kepergian Purnama kudapat dari kakaknya. Purnama mengidap kanker otak stadium akhir dan mustahil untuk disembuhkan. Impossible,selama dua tahun kami berteman ia baik-baik saja, batinku tak percaya.
            Purnama, maaf tak bisa menyaksikan mentari terakhirmu bersamaku. Kini, setiap hari aku duduk di jendela dan menunggu terbitnya fajar. Kamu benar Purnama, mentari itu sangat cantik. Secantik dirimu.   
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist