
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Muhammad HafizSiswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh Aku melangkah, pelan tapi pasti,menyusuri lorong waktu yang tak henti berdetak.Di...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Muslimin Lamongan menggilas kepala anggap permainanmelindas badan anggap kelucuanmelibas masa depan betapa brutalmobil baja jiwa angkaraair mata darah ibu...
Baca SelengkapnyaDetailsIbu dan Sebuah Ejaan Lisanku tak pandai mengeja abjadLisanku tak pandai menyebut nama indahmuLisanku hanya pandai merengekMemanggilmu dengan sebuah Tanda...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Hanif Arsyad Al-Fatihah... surah pembuka Kalam-Mu, aku lantunkan di atas tanah negeri ini, yang hijau oleh subur, namun...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Muhammad HafizSiswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh Ada masa,di mana setiap langkah terasa seperti menembus duri,dan setiap...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Muhammad Hafiz Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Kabupaten Bureun, Aceh Di sudut bumi Aceh yang permai, Tersembunyi kisah yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Putri Nanda RoswatiSiswa kelas XIII C, SMA Negeri 1 Peudada, Kabupaten Bireun, Bercerita Sendiri Malam iniaku kembali sendiriMerenung menikmati...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Rasa Pantun Oleh Juni Ahyar Beli bubur pakai ketan,Duduk santai di pinggir sawah.Baru ngetik langsung ditendang,Katanya spam, padahal dakwah.Minum...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Juni Ahyar Di sini aku rindu,Menata sepi yang kau tinggalkanBukan hanya rindu padamuTapi pada ketenangan yang dulu mengisi malamDi...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Mustiar Ar Langit Meulaboh menangis perlahan,doa-doa tua tersesat di jalan.Asap kopi dari kedai kecilmenghangatkan luka dan kisah lirih. Tukang...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com