
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Naisa Natasa Putri, Swastamita muncul membias bastala dari balik mega,menawarkan warna oranye di antara cakrawala tak berujung,seraya varsha turun menaburkan rintik rinai seolah membuat kalbu menari-nari Setiap vara yang jatuh ke bentala mencipta arumi basah seakan membius atma...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Endah Wr Cinta itu tidak abadi Cinta itu hanya rasa sesaat yang mudah hilang dan mampu bertahan karena diikat...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Shafa Khumaira (x-ulp) Di balik heningnya Perpustakaan, aku mendengar bisikan halaman. Rak-rak yang berjejeran Menyimpan napas peristiwa yang...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Esai Anies Septivirawan Angin dingin pagi kala itu: Tiga puluh tahun lalu Sudah menjadi lagu Setiap selepas subuh ...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Karya Juni Ahyar Di sini, di batas ketahanan yang rapuh, Aku berdiri, memunggungi kenangan. Bukan karena benci, tapi terpaksa, ...
Baca SelengkapnyaDetailsRATAPAN SEMESTA Karya: Kiki Fatmawati Sajak alam terus mengalun terbawa angin Membentuk ratapan pilu sang penanggung malapetaka Dipaksa kuat pada kenyataan pahit ulah manusia Harapan bentala untuk tetap asri seakan hanya angan semata Tak sadar ulah manusia melukai semesta Mentari bahkan hampir tak tersenyum lagi Tak terhitung berapa kali semesta murka Bahkan tak peduli berapa banyak korban bencana Bukan perkara tak percaya wacana manusia Hanya saja sering kali sebatas omong kosong belaka Kini tangisan semesta sudah tak tertata Akankan kalian tetap terus menutup mata? (Matang Cincin, 04 Juni 2023)...
Baca SelengkapnyaDetailsBertarung Khayal Karya: Dzakwan Ali merantau bertaruh segenap jiwa dan raga dalam bayang tumbuh pertanyaan mau menabur apa disana? siapa...
Baca SelengkapnyaDetailsFatamorgana Kursi Oleh Nyakman Lamjame Kursi hanyalah bayang di padang tandus,seperti fatamorgana yang dijadikan oase.Mereka berlari ke arahnya dengan nafas...
Baca SelengkapnyaDetailsSekumpulan Puisi Karya: S. Sigit Prasojo Aku menghambur di jalan binatang—tempat matahari mengerut seperti puntungdan tanah lebih setia memeluk bangkai....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Anto narasoma 1)kang acil,seperti bait terakhirnapasmu terbangmemburu kata-katake dalam syair laguyang menyenandungkansuasana sepi dan pedih sebab,dari perjalanan iramayang begitu...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com