Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Puisi Anto Narasoma:Akhirnya Mati akhirnya,tanah itu terkulai dalam tumpukan kekejian yang membawa kematian bagi tangan-tangan terkulai dalam genangan lumpuryang menyisakan...
1. Fasād Di Tanah Pusaka Cintaku hanyut ditimpa bala Air murka turun bertalu Padang tenggelam zikir lama Pesisir Selatan runtuh...
Oleh Ahmad Gusairi Ketika pohon bicara, suaranya seperti bisik langit Lirih turun pelan melalui serat-serat waktu Ia tak berhuruf, namun...
Karya Almira Sartika Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Air datang dari mana-mana,mengalir cepat di sepanjang jalansampai tidak ada lagi tanahyang bisa...
Karya: Miftahul Jannah Hujan turun dengan deras,dingin menusuk hingga tulang,membuat malam menidurkan kami,meski tidur tak pernah sepenuhnya tenang. Air merembes...
Karya Teuku Nufail Zharifsyah Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Deru langit tak henti menjatuhkan tangis Aroma tanah basah menyelimuti alam Sungai...
Oleh Rosli K. Matari Malaysia I. kita sudah melupakanindah-indah kenangan,di sungai bayang bertamjernih terendamdaun dan angin, buai-buai kiambang, terataisudah lama...
Oleh Ansariah S.Pd, Guru SDN 3 Bandar Baru, Pidie Jaya, Aceh Jalan kenanganku selalu berbau Basah,bahkan di musim kemarau bukan...
anto narasoma ruang kota begitu terbuka. meski pada batasan sepotong topeng, wajah itu pun tersenyum abadidan anak-anak pun tertawa segenap...
anto narasoma ketakutan itu tibaketika badai tsunami datang dengan wajah beringas parasnya yang tegangmelahap perjalanan ombak ketika badai yang dipenuhi...
© 2026 potretonline.com