
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Mustiar Ar Dulu ia membunuh tanpa rasa,menyebut luka orang lain itu biasa. Kini giliran itu tiba,jeritnya minta keadilan segera....
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Anies SeptivirawanSejak datang pagiAku lahir dari rahim sepiHanyut terbawa air sungai sunyiSejak datang pagiAku lahir dari dua hatiYang berpadu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Antonarasoma BANYAK orang yang menilai kecantikan itu muncul dari busana indah yang bernilai jutaan. Ada juga yang mengomentari, kecantikan...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Anies SeptivirawanSeperti sepasang arwah dan jasadTubuhku adalah IndonesiaIndonesia adalah rumah besarBagi inspirasi, inovasi, kreasi, motivasi, dan intuisiyang datang dari...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Siska Akmal Suasana malam yang sepi. Lampu jalan memancarkan cahaya di aspal yang basah. duduk diam, menatap waktu yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Hanief Anakku... Hidup ini bukan sekadar tentang kuat menahan dunia, tapi tentang lembut menata jiwa. Belajarlah mengatur diri, sebelum...
Baca SelengkapnyaDetailsNaisa Natasa Putri, Swastamita muncul membias bastala dari balik mega,menawarkan warna oranye di antara cakrawala tak berujung,seraya varsha turun menaburkan rintik rinai seolah membuat kalbu menari-nari Setiap vara yang jatuh ke bentala mencipta arumi basah seakan membius atma...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Endah Wr Cinta itu tidak abadi Cinta itu hanya rasa sesaat yang mudah hilang dan mampu bertahan karena diikat...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Shafa Khumaira (x-ulp) Di balik heningnya Perpustakaan, aku mendengar bisikan halaman. Rak-rak yang berjejeran Menyimpan napas peristiwa yang...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Esai Anies Septivirawan Angin dingin pagi kala itu: Tiga puluh tahun lalu Sudah menjadi lagu Setiap selepas subuh ...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com