Ketika Pohon Bicara

Desember 2025
Oleh: Redaksi

Oleh Ahmad Gusairi

Ketika pohon bicara, suaranya seperti bisik langit

Lirih turun pelan melalui serat-serat waktu

Ia tak berhuruf, namun dapat dibaca

Oleh hati yang masih ingin mengerti asal mula kehidupan

Ia berkata,

“Aku ditanam oleh tangan yang tak terlihat

Oleh kehendak Yang Maha Menumbuhkan.”

Batangnya adalah kitab yang tumbuh

Setiap lingkar usianya adalah ayat

Tentang kesabaran yang tak pernah dipamerkan

Ketika pohon bicara

Daunnya bergetar seperti tasbih yang kehilangan suara

Ia bersaksi tentang musim yang datang dan pergi

Tentang panas yang semakin sombong

Tentang hujan yang kini seperti tamu yang ragu-ragu

Memasuki rumah lama

Akar-akar yang tak pernah dipuji itu bercerita

Bahwa mereka adalah kaki yang terus bersujud

Meski tanah di sekitarnya tak lagi ramah

Meski dunia di atasnya saling berebut

Tanpa tahu ada yang berkorban diam-diam di bawah

Pohon berkata,

“Aku memayungi kalian bukan karena kuat

Tapi karena diperintah oleh cinta

Yang tidak pernah menagih balasan.”

Teduhnya adalah rahmat

Yang sering dianggap sekadar bayangan biasa

Ia mengingat doa manusia yang dahulu sering

Dipanjatkan di bawah rindangnya

Doa yang kini jarang singgah

Karena manusia lebih akrab

Dengan layar ketimbang langit

Ketika pohon bicara

Suaranya seperti tangis yang ditahan lama

Ia bercerita tentang daun-daun

Yang gugur bukan karena usia

Melainkan karena jarak manusia

Dengan alam semakin menjauh

Ia bertanya lirih,

“Masihkah kalian percaya

Bahwa aku dicipta bukan sia-sia?”

“Masihkah kalian sadar

Bahwa bayangku adalah pelajaran

Tentang perlindungan dari Tuhan

Yang tak pernah kehabisan cara menjaga?”

Satu ranting patah

Dan dunia seakan diberi tanda kecil

Yang tak disadari siapa pun

Satu batang tumbang

Dan bumi seperti kehilangan satu paragraf

Dari kitab panjang kebijaksanaan

Ketika pohon bicara

Ia tidak mengutuk, tidak menuntut

Ia hanya berharap manusia

Belajar kembali mendengar

Bukan dengan telinga

Melainkan dengan jiwa yang pernah lembut

Sebelum menjadi keras oleh ambisi

Ia berpesan,

“Jika suatu hari kalian ingin pulang

Dari riuh dunia yang tak henti bergemuruh,

Datanglah kepadaku.

Aku tak punya pintu,

Tapi aku selalu membuka diri.”

Dan pada akhirnya

Pohon mengangkat cabangnya ke langit

Seperti tangan yang berdoa

Mengharap bumi tetap dapat dihuni

Oleh anak cucu yang semoga lebih bijak

Dalam memeluk ciptaan-Nya

Sebab ketika pohon bicara

Sesungguhnya yang berbicara adalah Tuhan

Melalui makhluk-Nya yang paling sabar

Dan barangkali

Kita sudah terlalu lama terlambat

Untuk benar-benar mendengar

(_Toboali, 12 Desember 2025_)

_Penulis puisi adalah seorang pengajar di SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan. Anggota Satu Pena Bangka Belitung_

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist