Ketika Manusia Kehilangan Kemampuan Membatasi Keinginan

Oleh Feri Irawan
Diakui atau tidak, kehidupan manusia di dunia modern sedang mengalami perubahan pesat. Modernitas telah melahirkan manusia yang semakin sulit merasa cukup. Hasrat konsumsi tumbuh jauh lebih cepat dibanding kebutuhan hidup.
Kegiatan konsumsi terkadang dimaknai bukan hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pokok yang selaras dengan skala prioritas, namun kerap kali melibatkan strata sosial dan pemenuhan anggapan khalayak. Barang baru terus diproduksi, tren terus berubah, lalu manusia dipaksa mengikuti arus tanpa jeda refleksi.
Akibatnya, banyak orang tidak lagi membeli karena kebutuhan, melainkan demi citra sosial. Manusia justru saling “menyembelih” keikhlasan demi citra, hasrat konsumsi, dan pengakuan sosial yang tiada habisnya. Telepon genggam diganti bukan karena rusak, tetapi karena model terbaru telah muncul. Pakaian lama dianggap memalukan meski masih layak digunakan. Liburan bukan lagi ruang beristirahat, melainkan bahan unggahan demi memperoleh perhatian publik.
Generasi muda hidup di tengah budaya instan, kompetisi citra, serta obsesi popularitas digital. Kesuksesan sering diukur melalui jumlah pengikut media sosial, bukan kualitas integritas.
Kebahagiaan menjadi rapuh karena bergantung pada pengakuan orang lain. Ketika pujian menurun, kecemasan meningkat. Ketika tren berubah, identitas ikut goyah.
Krisis terbesar masyarakat modern sesungguhnya bukan kekurangan materi, melainkan kehilangan kemampuan membatasi keinginan.
Dalam situasi seperti itu, kurban menghadirkan pesan yang sangat kontras. Makna terdalam kurban tidak terletak pada darah yang mengalir, melainkan keberanian manusia memotong egoisme dalam dirinya. Kurban mengajarkan kerja keras, kesabaran, dan tanggung jawab sosial
Kurban bukan sekadar tradisi menyembelih hewan. Ia adalah samudra makna yang mengajarkan manusia bagaimana mengubah darah menjadi kasih, dan daging menjadi kemanusiaan. Ia adalah panggilan langit agar setiap insan menyembelih sisi tergelap jiwanya: naluri kebinatangan yang membisikkan keserakahan, egoisme, dan hasrat memangsa. Ia adalah tentang ego yang dipatahkan, kesombongan yang ditundukkan, dan hati yang kembali belajar ikhlas.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Daging-daging itu dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai adalah ketakwaan kalian.
Namun jangan lupa, inti kurban bukan soal siapa mendapat berapa kilo daging, melainkan apakah hati kita benar-benar sedang belajar taat.
Belajarlah menjadi seperti kopi tetap sederhana, namun memberi hangat tanpa banyak bicara
Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura, Bireuen












