• Latest
3348af20-aa40-4c6d-abca-52db135d392d

Vonis Mati Untuk Sebuah Sudut Pandang

April 6, 2026
e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a

Puisi-Puisi Din Saja

April 6, 2026
ad316ef9-75db-489f-af65-e87f3ed3768c

Menimbang Yunani di Timbangan Ulama: Dialektika Al-Ghazali dan Al-Jili

April 6, 2026
phpThumb_generated_thumbnail

Perempuan Pelindung Laki-Laki

April 6, 2026
IMG_0651

UNIGHA Sigli dan Cerita Panjang Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

April 6, 2026
95a55421-2977-493a-9a56-0f18a986b9de

Takzim Pada Ulama

April 6, 2026
IMG_0649

Suara yang Hilang

April 6, 2026
Warm afternoon reading ritual

Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia

April 6, 2026
d2f68f27-65d1-45fe-915f-c2109c3a4b83

Kenapa Orang Tua Siswa Tak Mau Lapor Polisi Saat Anaknya Keracunan MBG?

April 6, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Senin, April 6, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
3348af20-aa40-4c6d-abca-52db135d392d

Vonis Mati Untuk Sebuah Sudut Pandang

Syarifudin Brutu by Syarifudin Brutu
April 6, 2026
in #Cerpen, Kumpulan cerpen
Reading Time: 4 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Syarifudin Brutu

Lampu neon di langit-langit RUPBASAN berkedip sekarat, seperti napas hukum di negeri ini: hidup segan, mati pun dilarang oleh pasal-pasal karet. Aroma di dalam ruangan itu bukan lagi sekadar debu, tapi bau busuk dari keadilan yang sudah dikalengkan dan kedaluwarsa.

Di sisi utara, area yang mereka sebut “Sektor Ningrat”, berjajar mobil-mobil Rubicon dan Land Cruiser yang bannya masih disemir mengkilap. Di sana juga ada deretan jam tangan Rolex yang masih berdetik angkuh, seolah-olah waktu bagi pemiliknya—para pencuri uang rakyat—memang berjalan lebih lambat dan lebih nikmat.

Baca Juga:
  • Suara yang Hilang
  • Tanoh Merdeka
  • Di Ujung Magrib

Lalu, pintu besi raksasa berderit. Sesosok benda dilemparkan tanpa perasaan ke lantai semen yang kasar, tepat di “Sektor Remah-Remah”.

Dia adalah sebuah Sony A7S III. Bodinya lecet, penutup lensanya hilang entah ke mana. Dia mendarat di depan sebuah Gerobak Cilok yang rodanya sudah karatan dan sebuah Joran Pancing yang talinya bundet.

“Selamat datang di tempat pembuangan akhir akal sehat, Anak Muda,” sapa si Gerobak Cilok, suaranya serak seperti gesekan besi tua. “Kasus apa? Video bokep yang diperankan oknum berseragam? Atau video rahasia pejabat lagi pesta sabu?”

Si Kamera terbatuk, sensornya mencoba fokus di kegelapan. “Bukan. Pemilikku membuat video profil desa. Sinematik. Ada transisi halus, ada color grading yang cantik, ada jiwa di dalamnya.”

Baca Juga

IMG_0649

Suara yang Hilang

April 6, 2026
IMG_0622

Tanoh Merdeka

April 4, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026

Tawa pecah di sektor itu. Bukan tawa bahagia, tapi tawa sarkas yang sanggup merobek telinga.

“Tiga puluh juta!” si Kamera berteriak membela diri. “Itu harga yang murah untuk sebuah karya intelektual! Tapi mereka datang membawa kalkulator rongsok dari zaman batu. Mereka bilang harga wajarnya cuma dua puluh empat juta seratus enam puluh satu perak. 

Mereka menghitung kreativitas seperti menghitung butiran pasir di proyek pengurukan pantai!”

“Hahaha! Klasik!” sahut sebuah Pistol Glock yang tergeletak di rak bukti kejahatan kekerasan. “Aku di sini karena melubangi dada orang. Itu jelas dosanya. 

Tapi kau? Kau di sini karena selisih harga enam juta? Enam juta itu bahkan tidak cukup untuk biaya makan siang sekali duduk para tikus di gedung perwakilan rakyat itu!”

“Di negeri ini,” timpal sebuah Tas Hermès dari Sektor Ningrat dengan nada tinggi yang meremehkan, “mencuri itu harus besar. Triliunan. Biar kalian bisa menyewa pengacara yang mulutnya lebih licin dari belut, lalu kalian bisa bebas dengan alasan ‘khilaf’. 

Kalau cuma selisih enam juta karena ide, ya kalian itu cuma sampah administrasi. Masuknya pasal korupsi, tapi martabatnya lebih rendah dari maling jemuran.”

Tiba-tiba, dari kegelapan sudut lain, terdengar suara denting logam. Sebuah Spatula Stainlessyang tampak masih baru merayap mendekat.

“Tenanglah, Kamera,” ucap si Spatula lesu. “Besok atau lusa, aku akan punya teman baru di sini. Kabarnya, seorang Koki Nasional akan masuk karena dituduh merugikan negara. 

Masalahnya sepele: dia pakai garam impor kualitas premium buat jamuan kenegaraan, padahal di standar anggaran hanya boleh pakai garam grosiran yang rasanya pahit. Dia dianggap melakukan ‘Mark-up Rasa’.”

“Gila!” si Kamera bergetar hebat. “Lalu siapa lagi? Nelayan? Penulis?”

“Lihat itu,” si Gerobak Cilok menunjuk ke sebuah sudut yang lebih gelap. Di sana ada sebuah Pena Parker yang tintanya sudah kering. “Itu milik seorang penulis. 

Dia menulis kritik tentang kebijakan ‘impor oksigen’ tahun lalu. Dia tidak korupsi uang, tapi dia dianggap korupsi ‘ketenangan negara’. Pasal karetnya bilang: tintanya mengandung zat provokasi yang merusak keharmonisan imajinasi publik.”

ADVERTISEMENT

“Ini bukan lagi soal hukum,” si Kamera mulai menangis, minyak lensa menetes dari pinggirannya. “Ini adalah pemerkosaan terhadap profesi. 

Bagaimana mungkin seorang videografer dipenjara karena karyanya dinilai terlalu mahal oleh orang yang bahkan tidak tahu cara menyalakan kamera? Bagaimana mungkin negara ini tega memenjarakan orang yang bekerja jujur sesuai jurusannya?”

“Karena di negara ini, kejujuran adalah komoditas yang tidak laku di bursa efek birokrasi,” sahut si Joran Pancing. “Mereka ingin kita semua jadi robot. 

Videografer harus bikin video seperti CCTV, kaku dan buram. Penulis harus menulis seperti mesin ketik kelurahan, membosankan dan menjilat. Nelayan harus memancing sesuai instruksi, meski ikannya sudah punah dimakan limbah perusahaan tambang milik sepupu pejabat.”

Tiba-tiba, suara langkah sepatu laras panjang terdengar dari luar. Pintu besi terbuka sedikit. Cahaya masuk, menyinari lensa si Kamera yang kini retak.

“Dengar,” bisik si Gerobak Cilok sebelum pintu ditutup kembali. “Vonis bebas bagi pemilikmu itu cuma formalitas untuk menenangkan massa. Tapi sistemnya? 

Sistemnya masih haus darah. Hari ini kamera, besok mungkin cangkul petani yang dituduh melukai tanah negara. Di sini, siapapun yang punya ‘nyawa’ dalam pekerjaannya akan dianggap musuh oleh mereka yang hanya punya ‘angka’ di kepalanya.”

Pintu terbanting menutup. Brak!

Kegelapan kembali berkuasa. Di dalam RUPBASAN, barang-barang sitaan itu mulai berbisik lagi, menyusun arisan karat. Mereka menunggu kawan baru—mungkin seorang arsitek yang dituduh korupsi karena membangun gedung dengan estetika yang dianggap “melampaui kebutuhan rakyat”, atau mungkin seorang penyair yang pulsanya disita karena puisinya terlalu panjang dan memakan kuota server negara.

Di negeri Konoha-Plus ini, keadilan bukan lagi timbangan, tapi sebuah mesin giling yang hanya melumat mereka yang kecil, yang jujur, dan yang punya selera.

SummarizeShare236Tweet147
Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Related Posts

e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a
Puisi

Puisi-Puisi Din Saja

April 6, 2026
ad316ef9-75db-489f-af65-e87f3ed3768c
Kajian

Menimbang Yunani di Timbangan Ulama: Dialektika Al-Ghazali dan Al-Jili

April 6, 2026
phpThumb_generated_thumbnail
Perempuan

Perempuan Pelindung Laki-Laki

April 6, 2026
IMG_0651
Artikel

UNIGHA Sigli dan Cerita Panjang Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

April 6, 2026
Next Post
Warm afternoon reading ritual

Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com