• Latest
Ketika Ibu Turun ke Jalan - ec09d77c 5b89 4e2c b4f8 382ce6064ffa | #Cerpen | Potret Online

Ketika Ibu Turun ke Jalan

Maret 4, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Ibu Turun ke Jalan

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 4, 2026
in #Cerpen, #Perempuan Hebat, Perempuan
Reading Time: 6 mins read
0
Ketika Ibu Turun ke Jalan - ec09d77c 5b89 4e2c b4f8 382ce6064ffa | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Novita Sari Yahya

Pagi itu udara terasa padat oleh lalu lintas dan suara klakson. Matahari belum tepat di atas kepala, tetapi panasnya sudah memantul dari permukaan jalan. Di antara arus kendaraan yang melambat, orang-orang berjalan menuju satu arah dengan langkah mantap. Di tangan mereka terbentang kain bertuliskan tuntutan.

Nadira berdiri di tepi trotoar, menarik napas panjang sebelum menyatu dengan kerumunan. Ia mengenakan pakaian sederhana dan sepatu datar yang biasa dipakai ke pasar. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Ia tampak seperti ibu lain yang hendak berbelanja atau mengantar anak sekolah.

Sehari-hari Nadira menjahit pesanan tetangga. Mesin jahitnya diletakkan di dekat jendela agar cahaya cukup menerangi kain yang ia kerjakan. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup untuk membantu kebutuhan rumah. Suaminya bekerja serabutan. Kadang mendapat panggilan memperbaiki atap, kadang membantu proyek kecil di pinggir kota.

Beberapa bulan terakhir, pengeluaran rumah tangga meningkat. Harga bahan pokok naik tanpa peringatan. Uang belanja yang biasa cukup untuk seminggu kini habis sebelum hari kelima. Nadira mulai mencatat setiap pengeluaran di buku kecil. Ia mengurangi jatah lauk dan menunda membeli pakaian baru untuk anak-anaknya.

Di warung dekat gang, warga sering membicarakan keadaan. Mereka tidak lagi sekadar berbincang ringan. Topik berubah menjadi kebijakan dan masa depan. Nadira jarang ikut berpendapat, tetapi ia mendengar dengan saksama.

Suatu sore, seorang pemuda membagikan selebaran tentang aksi damai di pusat kota. Isinya ajakan menyampaikan aspirasi terkait kenaikan harga dan kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat kecil. Nadira membaca kertas itu berkali-kali di ruang tamu.

Ia menimbang keputusan tersebut semalaman. Ia sadar risiko selalu ada ketika orang banyak berkumpul menyuarakan pendapat. Namun ia juga merasa tidak adil jika hanya mengeluh di dalam rumah tanpa mencoba melakukan sesuatu.

Pagi ini ia akhirnya berangkat setelah menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya. Ia berpesan kepada suaminya agar menjemput mereka sepulang sekolah. Suaminya memandangnya sejenak sebelum berkata, “Hati-hati di jalan.” Nadira mengangguk.

Di lokasi aksi, barisan manusia memenuhi ruas jalan. Spanduk diangkat tinggi. Tulisan di atasnya tegas dan jelas. Suara dari pengeras terdengar teratur, tidak terburu-buru, tetapi penuh keyakinan.

Seorang perempuan muda berdiri di atas mobil komando. Ia berbicara tentang beban hidup yang semakin berat dan pentingnya kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil. Kalimatnya runtut dan mudah dipahami.

Nadira berdiri di antara ibu-ibu lain. Ada yang membawa tas kain, ada yang menggandeng anak remaja, ada pula yang datang bersama teman sekantor. Mereka saling berbagi air minum dan mengipasi wajah dengan selebaran.

Seorang perempuan paruh baya di sampingnya membuka percakapan. “Saya tidak pernah ikut aksi seperti ini sebelumnya,” katanya.

“Saya juga,” jawab Nadira jujur.

“Kita datang untuk menyampaikan suara, bukan mencari masalah,” lanjut perempuan itu.

Nadira mengangguk. “Semoga ada perubahan setelah hari ini.”

Di seberang jalan, aparat berjajar membentuk pagar. Mereka berdiri tenang dengan perlengkapan lengkap. Jarak antara kedua kelompok dijaga dengan tertib. Tidak ada dorongan atau teriakan yang berlebihan.

Orasi berlangsung bergantian. Seorang buruh berbicara tentang penghasilannya yang tak lagi cukup. Seorang mahasiswa menyampaikan data dan angka. Seorang pedagang kecil mengungkapkan harapannya agar usahanya tidak semakin terpuruk.

Nadira mendengarkan semuanya. Ia merasa kisah-kisah itu tidak jauh dari kehidupannya sendiri. Ia menyadari bahwa masalah yang ia hadapi bukan persoalan pribadi semata.

Ketika kesempatan berbicara diberikan kepada perwakilan ibu rumah tangga, seorang panitia mendekatinya. “Bu, apakah bersedia menyampaikan pendapat?” tanyanya.

Nadira terdiam sejenak. Ia tidak pernah berbicara di depan banyak orang. Namun entah mengapa ia melangkah maju.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang mikrofon. Ia menatap wajah-wajah di hadapannya. “Saya bukan ahli,” ucapnya pelan namun jelas. “Saya hanya ibu yang ingin anak-anaknya tumbuh tanpa rasa khawatir tentang makan dan sekolah.”

Kerumunan hening.

“Kami bekerja keras di rumah. Kami mengatur uang belanja sehemat mungkin. Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya ingin kebijakan yang adil,” lanjutnya.

Tepuk tangan terdengar dari berbagai arah. Nadira menyerahkan kembali mikrofon dengan napas berat, tetapi hatinya terasa ringan.

Waktu bergerak menuju siang. Matahari semakin terik. Beberapa relawan membagikan air minum dan roti. Orang-orang duduk di trotoar sambil berdiskusi.

Perwakilan massa kemudian dipersilakan berdialog dengan pihak terkait di sebuah gedung tak jauh dari lokasi. Kerumunan menunggu dengan sabar. Tidak ada kericuhan. Semua menjaga sikap.

Nadira duduk di tepi jalan, memandangi lalu lintas yang dialihkan. Ia teringat pesan ibunya dahulu bahwa martabat harus dijaga dengan keberanian dan akal sehat. Hari ini ia mencoba menjalankan nasihat itu.

Setelah beberapa waktu, perwakilan kembali dan menyampaikan hasil pertemuan. Tuntutan akan ditindaklanjuti melalui pembahasan resmi. Belum ada keputusan akhir, tetapi jalur komunikasi dibuka.

Sorak terdengar, bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai tanda harapan. Nadira berdiri bersama yang lain. Ia menyadari perubahan tidak datang dalam sehari. Namun langkah kecil tetap berarti.

Menjelang sore, massa membubarkan diri dengan tertib. Jalanan perlahan kembali normal. Pedagang kaki lima kembali menata dagangan. Kendaraan melintas tanpa hambatan berarti.

Nadira berjalan menuju halte dengan langkah pelan. Keringat membasahi pelipisnya. Kakinya terasa pegal, tetapi ia tidak menyesal telah datang.

Di dalam angkutan umum, ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung tinggi tampak kokoh. Ia berpikir tentang betapa banyak orang kecil yang menopang kehidupan kota ini.

Sesampainya di rumah, anak bungsunya menyambut di pintu. “Ibu dari mana?” tanyanya.

“Ibu pergi menyampaikan pendapat,” jawab Nadira.

“Apa itu penting?” lanjut anaknya polos.

“Ibu ingin masa depanmu lebih baik,” katanya sambil tersenyum.

Suaminya menatapnya dengan rasa ingin tahu. Nadira menceritakan jalannya aksi secara singkat. Ia tidak melebih-lebihkan keadaan. Ia hanya menyampaikan bahwa semuanya berlangsung tertib.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Nadira duduk di dekat mesin jahitnya. Ia memeriksa kain pesanan yang harus selesai esok hari. Hidup tetap berjalan dengan rutinitas yang sama.

Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi kekhawatiran. Ia tahu banyak orang memiliki tujuan yang serupa.

Ia menyadari bahwa turun ke jalan bukan berarti meninggalkan peran sebagai ibu. Justru dari peran itulah keberaniannya muncul. Ia datang bukan untuk mencari perhatian, melainkan untuk menjaga hak keluarganya.

Beberapa hari kemudian, kabar tentang tindak lanjut kebijakan mulai dibahas di media. Prosesnya panjang dan memerlukan waktu. Nadira tidak berharap hasil  cepat dan tuntutan di penuhi segera. Ia hanya ingin suara yang disampaikan tidak diabaikan.

Setiap kali Nadira kembali duduk di depan mesin jahit, ia teringat hari ketika ia berdiri di tengah kerumunan. Ia mengingat panas jalan dan wajah-wajah yang penuh tekad. Kenangan itu menjadi pengingat bahwa ia pernah mengambil langkah di luar kebiasaan.

Ketika ibu turun ke jalan, ia tidak meninggalkan rumahnya. Ia membawa nilai-nilai rumah itu ke ruang publik. Ia membawa kepedulian, tanggung jawab, dan harapan.

Nadira memahami bahwa perubahan lahir dari keberanian yang disertai keyakinan. Ia tidak tahu bagaimana akhir dari perjuangan itu. Namun ia yakin satu hal: bahwa suara yang disampaikan dengan niat baik akan menemukan jalannya.

Malam semakin larut. Nadira mematikan lampu ruang tamu dan masuk ke kamar. Ia berbaring di samping anak-anaknya yang tertidur pulas.

Hari itu mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Tidak ada penghargaan yang menantinya. Namun bagi dirinya sendiri, hari ketika ia turun ke jalan adalah bukti bahwa ia berani berdiri demi masa depan keluarganya.

Dan dari keberanian sederhana itulah, harapan tumbuh pelan tetapi pasti.

Profil Novita Sari Yahya

Penulis dan Peneliti

Buku yang Diterbitkan:

1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen

2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

3. Novita & Kebangsaan

4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa

5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa

6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri

7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi

8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu

Pemesanan Buku: 089520018812

Share234SendTweet146Share
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Next Post

BLBI : Drama Panjang Negara Yang Tak Kunjung Sudah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com