Oleh: Syarifudin Brutu
Lampu-lampu selasar gedung bahasa mulai berkedip layaknya mata pesakitan yang menahan sakaratul maut. Di sana, Malim duduk bersandar pada pilar beton yang dingin, memeluk draf skripsinya yang sudah lungset dan penuh coretan tinta merah dari tangan-tangan yang lebih akrab dengan nota dinas daripada nukilan sajak.
Bagi Malim, Maghrib di kampus ini bukan sekadar garis batas antara jingga dan jelaga. Maghrib adalah ujung paling ujung dari sebuah kewarasan. Di depannya, gedung birokrasi berdiri congkak seperti tugu peringatan bagi nalar yang mati.
”Sastra itu bukan soal kau memaki-maki kebijakan rektorat, Malim. Sastra itu soal estetika. Pakailah bahasa yang santun, yang tidak melukai ‘marwah’ instansi kita,” suara dosen pembimbingnya tadi siang masih terngiang, membawa aroma parfum murahan dan bau busuk kemunafikan.
Malim meludah ke lantai. “Marwah?” desisnya. Di kampus ini, marwah hanyalah selaput dara buatan untuk menutupi borok korupsi dan kebijakan yang lebih menyerupai transaksi pasar gelap daripada proses edukasi. Para profesor sibuk menjilat bokong kekuasaan demi selembar sertifikasi, sementara mahasiswa dipaksa menjadi robot yang hanya pandai mengangguk dan mengutip teori tanpa pernah berani bertanya “mengapa”.
Di ujung Maghrib yang paling kelam, ia melihat teman-temannya—para aktivis yang siang tadi berteriak soal kerakyatan di Simpang Lima—kini sedang duduk bersila di kafe remang, tertawa terbahak bersama para makelar proyek. Mereka sedang menegosiasikan harga idealisme untuk ditukar dengan jatah kursi di organisasi atau sekadar uang kopi dari oknum dekanat.
”Bajingan,” umpat Malim pelan.
Ia membuka halaman pertama skripsinya. Judulnya mentereng: Analisis Dekonstruksi Atas Kediktatoran Akademis di Bumi Serambi. Ia tahu, naskah ini adalah surat pemecatannya sebagai mahasiswa berprestasi. Di kampus yang memuja “ketertiban” lebih dari “kebenaran”, tulisan Malim adalah tumor yang harus diangkat.
Sastra di sini telah dikebiri. Ia dipaksa menjadi pelacur kata-kata yang hanya boleh mendesah pujian dalam acara seremonial, menjadi hiasan bibir saat wisuda, atau sekadar kutipan puitis di takarir Instagram para birokrat yang tidak tahu bedanya metafora dengan dusta.
Adzan mulai merayap naik, membelah langit Banda Aceh yang mendung. Namun bagi Malim, suara Tuhan itu seolah sedang menangis melihat orang-orang yang sujud dengan dahi hitam, tapi tangannya sibuk menandatangani izin tambang yang menggusur tanah adat, atau memotong dana beasiswa mahasiswa miskin.
”Kau mau bebas, Malim? Kebebasan itu mahal harganya di tanah yang lebih menghargai bungkus daripada isi,” bayangan pikirannya sendiri mengejek.
Malim berdiri. Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan korek api gas yang sisa gasnya tinggal sedikit. Di ujung paling ujung Maghrib ini, ia tidak butuh pengakuan dari para penjilat yang memegang gelar master dan doktor tapi bermental jongos.
Ia membakar sudut draf skripsinya.
Api mulai menjilat kertas-kertas yang berisi pemikiran kritisnya. Cahaya jingga dari api itu menerangi wajah Malim yang keras. Ini adalah aksi panggung terakhirnya. Jika kampus ini adalah kegelapan yang absolut, maka ia akan menjadi satu-satunya benda yang terbakar agar ada sedikit cahaya, meski hanya sebentar.
”Sastra bukan tempat untuk kau sembunyi di balik kata-kata indah, Sialan!” teriaknya ke arah gedung birokrasi yang mulai sunyi. “Sastra adalah ludah yang tepat mengenai wajah para tirani!”
Kertas itu menjadi abu, terbang ditiup angin laut yang membawa bau amis. Malim melangkah pergi, meninggalkan kampus yang kian tenggelam dalam malam. Ia tidak lagi peduli pada gelar sarjana. Baginya, ia sudah lulus saat ia berani mengatakan “Tidak” pada sistem yang menjadikannya budak.
Di ujung Maghrib, Malim menghilang di balik bayangan, membawa kebebasannya sendiri yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh draf aturan maupun gertakan skorsing. Karena ia tahu, sastra yang bebas tidak butuh ruang kelas; ia hanya butuh keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah kumpulan serigala beroga.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















Discussion about this post