• Latest
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Di Ujung Magrib - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Di Ujung Magrib - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | #Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
0bbaafe3-989c-40ac-89fc-d0335c56d343

Dubai Kota Impian Pelan-pelan Menuju Kota Hantu

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Syarifudin Brutu by Syarifudin Brutu
Maret 31, 2026
in #Cerpen, Cerpen, Kritik Sastra, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Syarifudin Brutu

​Lampu-lampu selasar gedung bahasa mulai berkedip layaknya mata pesakitan yang menahan sakaratul maut. Di sana, Malim duduk bersandar pada pilar beton yang dingin, memeluk draf skripsinya yang sudah lungset dan penuh coretan tinta merah dari tangan-tangan yang lebih akrab dengan nota dinas daripada nukilan sajak.

​Bagi Malim, Maghrib di kampus ini bukan sekadar garis batas antara jingga dan jelaga. Maghrib adalah ujung paling ujung dari sebuah kewarasan. Di depannya, gedung birokrasi berdiri congkak seperti tugu peringatan bagi nalar yang mati.

​”Sastra itu bukan soal kau memaki-maki kebijakan rektorat, Malim. Sastra itu soal estetika. Pakailah bahasa yang santun, yang tidak melukai ‘marwah’ instansi kita,” suara dosen pembimbingnya tadi siang masih terngiang, membawa aroma parfum murahan dan bau busuk kemunafikan.

Baca Juga

85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

​Malim meludah ke lantai. “Marwah?” desisnya. Di kampus ini, marwah hanyalah selaput dara buatan untuk menutupi borok korupsi dan kebijakan yang lebih menyerupai transaksi pasar gelap daripada proses edukasi. Para profesor sibuk menjilat bokong kekuasaan demi selembar sertifikasi, sementara mahasiswa dipaksa menjadi robot yang hanya pandai mengangguk dan mengutip teori tanpa pernah berani bertanya “mengapa”.

​Di ujung Maghrib yang paling kelam, ia melihat teman-temannya—para aktivis yang siang tadi berteriak soal kerakyatan di Simpang Lima—kini sedang duduk bersila di kafe remang, tertawa terbahak bersama para makelar proyek. Mereka sedang menegosiasikan harga idealisme untuk ditukar dengan jatah kursi di organisasi atau sekadar uang kopi dari oknum dekanat.

​”Bajingan,” umpat Malim pelan.

​Ia membuka halaman pertama skripsinya. Judulnya mentereng: Analisis Dekonstruksi Atas Kediktatoran Akademis di Bumi Serambi. Ia tahu, naskah ini adalah surat pemecatannya sebagai mahasiswa berprestasi. Di kampus yang memuja “ketertiban” lebih dari “kebenaran”, tulisan Malim adalah tumor yang harus diangkat.

​Sastra di sini telah dikebiri. Ia dipaksa menjadi pelacur kata-kata yang hanya boleh mendesah pujian dalam acara seremonial, menjadi hiasan bibir saat wisuda, atau sekadar kutipan puitis di takarir Instagram para birokrat yang tidak tahu bedanya metafora dengan dusta.

​Adzan mulai merayap naik, membelah langit Banda Aceh yang mendung. Namun bagi Malim, suara Tuhan itu seolah sedang menangis melihat orang-orang yang sujud dengan dahi hitam, tapi tangannya sibuk menandatangani izin tambang yang menggusur tanah adat, atau memotong dana beasiswa mahasiswa miskin.

​”Kau mau bebas, Malim? Kebebasan itu mahal harganya di tanah yang lebih menghargai bungkus daripada isi,” bayangan pikirannya sendiri mengejek.

​Malim berdiri. Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan korek api gas yang sisa gasnya tinggal sedikit. Di ujung paling ujung Maghrib ini, ia tidak butuh pengakuan dari para penjilat yang memegang gelar master dan doktor tapi bermental jongos.

​Ia membakar sudut draf skripsinya.

​Api mulai menjilat kertas-kertas yang berisi pemikiran kritisnya. Cahaya jingga dari api itu menerangi wajah Malim yang keras. Ini adalah aksi panggung terakhirnya. Jika kampus ini adalah kegelapan yang absolut, maka ia akan menjadi satu-satunya benda yang terbakar agar ada sedikit cahaya, meski hanya sebentar.

​”Sastra bukan tempat untuk kau sembunyi di balik kata-kata indah, Sialan!” teriaknya ke arah gedung birokrasi yang mulai sunyi. “Sastra adalah ludah yang tepat mengenai wajah para tirani!”

​Kertas itu menjadi abu, terbang ditiup angin laut yang membawa bau amis. Malim melangkah pergi, meninggalkan kampus yang kian tenggelam dalam malam. Ia tidak lagi peduli pada gelar sarjana. Baginya, ia sudah lulus saat ia berani mengatakan “Tidak” pada sistem yang menjadikannya budak.

​Di ujung Maghrib, Malim menghilang di balik bayangan, membawa kebebasannya sendiri yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh draf aturan maupun gertakan skorsing. Karena ia tahu, sastra yang bebas tidak butuh ruang kelas; ia hanya butuh keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah kumpulan serigala beroga.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 368x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 332x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Baca Juga

85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Di Ujung Magrib - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952
Pendidikan

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026

Discussion about this post

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com