HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Syarifudin Brutu by Syarifudin Brutu
Maret 16, 2026
in #Cerpen, Cerpen, Kumpulan cerpen
Reading Time: 2 mins read
0
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Syarifudin Brutu

​Di Negeri Gemah Ripah, Tuhan adalah kata benda yang paling sibuk, tapi paling kesepian. Nama-Nya dicetak di atas materai, diteriakkan di corong pengeras suara setiap lima kali sehari, dan dipahat rapi di baris pertama undang-undang. Namun, semua orang tahu, kedudukan-Nya tidak lagi di langit ketujuh. Beliau sudah lama pindah alamat ke bawah tumit Ibu Pertiwi.

Baca Juga

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026
Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Maret 10, 2026

​Ibu Pertiwi di negeri ini bukan lagi perempuan anggun berbaju kurung yang memegang padi. Ia telah menjelma menjadi raksasa beton dengan riasan wajah dari aspal panas dan napas yang berbau asap knalpot pejabat. Ia memakai sepatu lars baja yang beratnya beribu-ribu ton.

​Suatu pagi, di sebuah trotoar yang retak, seorang kakek tua bernama Saleh mencoba menggali tanah dengan kuku-kukunya yang hitam. Ia tidak sedang mencari cacing, ia sedang mencari Tuhan yang kabarnya tertimbun di sana.

​”Sedang apa, Kek?” tanya seorang pemuda berseragam dinas yang kebetulan lewat, sambil membetulkan lencana garuda di dadanya yang membusung.

​”Mencari keadilan, Cu. Katanya keadilan itu sifat Tuhan, dan di dasar negara kita, Tuhan ada di urutan pertama,” jawab Saleh tanpa menoleh.

​Si pemuda tertawa, suaranya kering seperti kertas koran basi. “Kakek salah alamat. Di sini, Tuhan itu urusan administrasi. Kalau mau cari Dia, pergilah ke kantor urusan agama atau rumah ibadah yang megah itu. Tapi kalau mau hidup tenang, tunduklah pada Ibu Pertiwi. Jangan digali tanahnya, nanti Kakek dianggap makar!”

​Saleh berhenti menggali. Ia menunjuk ke arah sepatu lars raksasa Ibu Pertiwi yang sedang menginjak sebuah perkampungan kumuh di kejauhan. Di bawah lipatan telapak kaki baja itu, suara doa terdengar lamat-lamat, tercekik oleh deru mesin buldoser.

​Di negeri itu, orang-orang lebih takut pada bendera yang tidak berkibar daripada hati nurani yang mati. Mereka lebih fasih menghafal pasal-pasal karet daripada ayat-ayat suci yang mengajarkan kasih. Bagi mereka, membela negara adalah “ibadah” yang paling paripurna, meski harus dengan cara menginjak wajah sesama manusia.

​Malamnya, Ibu Pertiwi berpesta. Ia berdansa di atas tanah-tanah sengketa. Setiap kali tumit bajanya menghantam bumi, terdengar bunyi krak, seperti tulang yang patah, atau mungkin seperti suara Tuhan yang sedang meringis kesakitan karena sesak napas.

​Tuhan di negeri ini memang Esa, tapi Ia tidak lagi berkuasa. Ia hanya menjadi alas kaki yang empuk agar langkah Ibu Pertiwi menuju “kemajuan” tidak terasa sakit saat menginjak kepala rakyatnya sendiri.

​Saleh akhirnya berhenti menggali. Ia sadar, Tuhan memang ada di bawah telapak kaki Ibu Pertiwi. Bukan karena Ia rendah, tapi karena Ia sedang memeluk erat tanah yang paling menderita, sementara orang-orang di atas sana sibuk menyembah berhala bernama Negara.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 160x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com