Minggu, Mei 3, 2026

Secara Prinsip Indonesia Sudah Bubar!

Penulis Redaksi
Mei 3, 2026
4 menit baca

Oleh AFNAN MALAY

Lulusan FH UGM

Prabowo Subianto, 2018, pernah memprediksi 2030 negara ini bubar. Banyak yang naik pitam dengan ucapan pelanggar HAM berat yang sempat dipecat Jenderal Wiranto ini, atas nama institusi tentara. Waktu itu, ketika Prabowo bilang Indonesia (akan) bubar, saya mencoba dari cara pandang positif. Saya mungkin berlebihan.

Saya menganggap pendapat itu adalah peringatan keras, bahwa negara tidak dikelola secara serius. Terlepas Prabowo pun berbisnis, misalnya sawit, yang bagi generasi anak-anak saya dinilai merusak lingkungan. Ia memimpin HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Tidak mengangetkan Kelompok Tani Nusantara (?) beberapa waktu lagi melaporkan aktivis pro demokrasi menjadi tukang hore kekuasaan.

NEGARA TIDAK DIURUS

Kesimpulan negara (dalam bentuk bergerak pemerintah) tidak diurus merupakan strategi lidah tajam. Pertama, Prabowo mengingatkan yang berada di puncak kekuasaan telah melakukan malpraktik dalam menjalankan amanat konstitusi. 

Penguasa itu, yang paling kena tohok tentulah Joko Widodo rival paling utama Prabowo dalam kontestasi pemilihan presiden. Kedua, Prabowo menaikkan popularitas dirinya dengan kalimat hiperbolis, Indonesia bubar 2030. Populer dengan cara tidak populer menyediakan diri dikecam publik.  

Hiperbolik itu adalah wilayah orang-orang tidak berkuasa: akademisi, pengamat, oposisi (yang secara substantif, kita tidak punya). Mereka yang tidak berkuasa itu harus mengatakan “kekuatiran yang mengerikan” berulang-ulang agar kekuasaan dijalankan dengan benar. Tetapi para pengingat arah penguasa yang melenceng dari rel, sekarang musuh nomor satu Prabowo. 

Presiden yang terpilih dengan cacat bawaan, satu paket dengan wakilnya Gibran Rakabumingraka (perusak MK) melakukan pilihan ekstrem. Apa itu? Berkomplot dengan Joko notabene penguasa yang dituduh Prabowo bagian dari mempercepat Indonesia bubar  

Berkomplot atau lebih tepat takluk! Rezim polisi sangat kuat bercokol. Teddy Wijaya, ajudan Joko yang dipasang menjadi orang paling dekat dengan Prabowo. Teddy sumber kegaduhan yang memicu publik menggerus kepercayaan kepada Prabowo.

Tindakan, ucapan, dan perlakuan sangat khusus yang diterima Teddy bentuk penyalahgunaan kekuasaan sangat mencolok.  Teddy terlihat lebih berkuasa di atas semua menteri. Meskipun berupa tindakan personal, bukan koreksi kebijakan , tamparan Jenderal Djon Afriandi bisa dimaklumi.

SUDAH BUBAR

Negara yang kita cintai ini sebenarnya sudah bubar. Saya menulis puisi Tuhan, Kenapa Aku Jadi WNI? (2025), Indonesia Tamat (2026), TERANG BENDERANG (2026), dan banyak puisi tentang bagaimana negara ini tanpa masa depan, tanpa harapan. Semua puisi bisa dicari di FB saya.

Kenapa sudah bubar? Prabowo sebagai presiden melakukan kebijakan,  tindakan, ucapan yang tidak berada di jalan alur dan patut. Kebijakan kerjasama dengan negara asing, misalnya, tanpa melalui persetujuan DPR. 

Seburuk-buruknya DPR, itu intutusi kenegaraan yang kedudukannya bukan saja tidak di bawah presiden, tetapi memiliki fungsi pengawasan terhadap Prabowo. Tapi, inilah persoalan paling buruk yang sedang terjadi, parlemen bungkam sebungkam-bungkamnya. 

Bahkan, beberapa anggota DPR pasang badan menjadi juru bicara Prabowo. Runyam bukan?

MBG (Makan Bergizi Gratis) program paling ganjil, pemaksaan kehendak paling mencolok. Secara definisi, kata gratis pada MBG itu bentuk penipuan, karena menyedot APBN secara ugal-ugalan. Kata gratis agak moderat misalnya, diambil dari laba perusahaan BUMN. Sesuatu yang mustahil kalau anggarannya 1 T per hari.

Secara kondisi riil, kita tidak dalam situasi busung lapar. Penerima MBG yang secara nasional menggambarkan pemerintahan main-main. Ada Bappenas, ada BPS, ada Kementerian Dikdasmen, dan lain-lain yang sangat tahu data sekolah-sekolah mana yang benar-benar membutuhkan.

Negara dikelola layaknya memanej perusahaan. Perusahaan saja perhitungan detil, terinci, terukur padahal sebatas untuk kepentingan pribadi pemilik perusahaan. Lah kok mengurus negara (milik semua anak bangsa tak peduli agamanya apa, tak peduli tidak memilih Prabowo, tak peduli orientasi seksualnya, tak peduli tidak punya ijazah) asal-asalan. 

Dalam kondisi darurat saja, pemerintahan representasi negara harus dijalankan dengan prinsip-prinsip yang ketat dan terukur. 

Saya mengingatkan Prabowo. Anda menggunakan kalimat hiperbola, Indonesia Bubar 2030.  Bukankah itu bentuk keprihatinan terhadap kondisi yang terus memburuk? Kini kekuasaan di tangan Anda, apakah Anda berniat menggunakan rem atau sama sekali tidak peduli sejauh tekad jadi presiden sudah tercapai.

Berubah lah Prabowo. Presiden tidak patut mengusir kami-kami, kamilah (rakyat) pemilik sah republik ini. Kalimat-kalimat hiperbolik tanggalkan untuk mengglorifikasi keberhasilan-keberhasilan kosong seperti MBG yang justru gagal. Presiden tidak patut lebih cerewet dari kami 

Rakyat nyinyir, dan harus begitu terhadap kekuasaan, karena di tangan presiden negara mereka dipertaruhkan. Anda terlalu off-side 🖐️

✦ ✦ ✦
Apakah artikel ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Preview
Memuat komentar...

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist