POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

BUKU ITU AKU SIMPAN

RedaksiOleh Redaksi
July 6, 2022
BUKU ITU AKU SIMPAN
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Delia Rawanita 

 

Paling menyenangkan pada saat menunggu bel istirahat. Seperti biasanya  aku pasti tancap gas menuju ke perpustakaan. Soalnya tempat paling nyaman buat aku singgahi cuma satu “ Perpustakaan “ . Hampir setiap hari aku di sini. Kalo dihitung hitung hampir setengah buku di perpustakaan ini sudah kubaca,  mulai biografi orang terkenal, buku sciens juga novel. Aku suka Agatha Christie cerita bernuansa  detektif , juga karya perempuan di negeri sendiri seperti NH Dini dan La Rose. Sayang bukunya terbatas dan tak boleh dipinjamkan pada semua orang  kecuali “ Aku”. Sangking seringnya ke pustaka , kartu pinjam  pustaka  sebentar saja penuh. Makanya untuk novel tertentu aku diberi pinjam dengan jaminan oleh petugas  perpustakaan   ibu Rasyidah .

 

Hari ini seperti biasa , aku duduk di bangku paling sudut, tempat paling nyaman tanpa orang  lalu lalang  dan posisinya pun bersebelahan dengan kantin sekolah. Kantin ini  dijaga oleh bang Yahya bersama istri dan anaknya yang masih kecil.  Kantin bang Yahya menjadi istimewa karena beliau menjual pisang goreng dengan cara pisang yang sudah diiris sebesar telapak jari itu langsung digoreng dengan menggunakan kuali besar, sehingga setiap jam istirahat selalu diserbu oleh siswa dan siswi  karena murah dan rasanya enak dan gurih . Kebetulan sekali  kantin bang Yahya berdinding papan, sehingga kami bisa menikmati aroma pisang goreng melewati celah dinding. Maklumlah , uang jajan yang tak seberapa diberi orang tuaku bisa kutabung untuk membeli beberapa keperluan sekolah. Nah, begini cara jitu berhemat dan menemaniku melahap lembar demi lembar isi buku bacaan tanpa ketahuan temanku yang lain.  Kadang syahwat terhadap bacaan yang menarik bikin kita lupa makan dan minum .

 

“Pstt.. boleh duduk sini ” seseorang mendekatiku.

” Terserahlah , suka suka” jawabku ketus karena merasa terganggu

” Lagi baca buku apa, boleh lihat “.  ternyata Lelaki ini sering kulihat duduk di perpustakaan membaca buku , tidak seperti yang lain  ketika jam istirahat tiba.

Anehnya  baru kali ini menegurku. Aku coba melirik wajahnya, lumayan tampan. Dia memang bukan anak kelasku . Kucoba menjauh  kemudian perlahan beringsut ketengah, menggeser tempat dudukku .

“ Bagus ya jalan ceritanya. Aku baru baca setengah novel itu , boleh nggak abang teruskan sebentar” dia mencoba berkomunikasi dengan meraih buku ditanganku

” Eit , sabarlah, saya lagi baca ni,  Jangan berisiklah “ kataku geram, namun

aku  merasa geli juga ketika dia menyebut dirinya dengan panggilan “ Abang”, padahal kalau dilihat, kami sebaya. Persetan, kutenggelamkan pikiranku mengikuti alur cerita , tapi  sial, aku kehilangan konsentrasi . Lelaki yang satu ini menyebabkan  aku merasa tidak nyaman menyelesaikan bacaanku.

 

Bell berbunyi, aku bergegas menuju kelas, takut terlambat masuk. Lokasi  kelasku   paling ujung kanan sekolah, sehingga harus melewati beberapa kelas lain. Nun di bawah pohon trambesi  kulihat segerombol laki perempuan tertawa tawa,  kemudian terdiam saat  aku melewati mereka.  

” Kutu buku lewat”  ujar salah satu di antaranya.

” Namanya , Aryati ” sahut yang lain .

“ Dek  Aryati , ada yang mau kenalan nih, boleh nggak”

Kupercepat langkah sambil menundukkan wajah . Begitulah selalu jika aku melewati kelas IPS yang satu ini, sungguh  menyebalkan mereka selalu meledekku dengan bernyanyi sambil teriak tak karuan..

“ Aryati..  Dikau mawar asuhan rembulan

“ Aryati… tiba tiba suara terhenti dan hening. Aku coba menoleh ternyata mereka sedang digiring oleh piket menuju tanah lapang , pasti karena bikin onar. Rasain

 

Hari ini Sabtu, biasanya pelajaran terakhir selalu diisi dengan jam pelajaran olah raga,   pelajaran yang tidak memberi kesempatan buatku dan sebahagian siswa ikut. Hal itu karena lapangan olah raga yang ukurannya terbatas, makanya hanya sebagian yang bisa ikut dalam permainan. Sebagai antisipasi bapak guru adalah dengan memberikan Kami bola kecil berupa permainan kasti atau diganti dengan permainan bola besar seperti volley . Sedangkan  kegiatan bola kaki  khusus anak laki laki dan itupun harus keluar dari lokasi sekolah . Biasanya guru enggan membawa siswanya keluar pekarangan  karena penuh risiko di perjalanan kecuali akan mempersiapkan turnamen dan sejenisnya.  

Aku segera cari akal agar terbebas dari kegiatan yang tidak aku nikmati,  dengan  badan dibungkukkan sambil wajah pura pura kesakitan aku minta izin untuk tidak ikut ke lapangan hari itu. Padahal sebenarnya aku ingin ke pustaka menyelesaikan bacaan novelku  yang belum selesai.

“ Ya, sudah. Istirahat di kelas  sana “

“ Pak, saya di UKS aja boleh pak, di kelas sunyi ” aku berdalih mencari peluang agar bisa keperpustakaan dan bersebalahan dengan ruang UKS.

“ Ya sudah,  istirahat di UKS aja, ajak kawanmu yang perempuan “ cepat  kutarik tangan Mulyati yang dari tadi berada di sampingku. Lumayan, jalan berdua teman seperti ini  paling tidak menyelamatkan aku dari gangguan gerombolan kakak kelas yang centil serta Abang kelas yang suka usil. Aku begitu penasaran dengan ending novel Agatha Christie.

“ Eh, kita ke pustaka aja yok, UKS tutup Mul . Sukurlah sahabatku yang satu ini setuju ,  kami ke Perpustakaan  aja.  

 

Di Perpustakaan kulihat bu Rasyidah sebagai piket hari itu sedang merapikan beberapa buku yang tergeletak di meja.  Kucoba sapa seramah mungkin agar beliau tak menolak kami membaca di saat jam pelajaran berlangsung.

“ Anak anak ini bukan jam istirahat , kenapa kalian bolos “

📚 Artikel Terkait

Gelar Meninggi, Moral Menyusut: Apa kabar Pendidikan Kita?

Tak Sempat Menulis

Echoes of a Lost Justice

Hosnatun, Seniman dan Guru Tari yang Berdaulat, Tanpa Mengharapkan Bantuan Pemerintah Daerah‎

Dengan alasan kurang enak badan dan UKS tutup , Bu Rasyidah memberi kesempatan kami masuk dengan catatan jangan mengganggu ketenangan ruangan.  Tanpa pikir panjang aku kembali  menuju Rak II tempat kumpulan cerita  termasuk novel kemaren belum selesai kubaca. Namun  novel tersebut tak berada di tempatnya. Aku ingat betul kemaren itu aku meletakkannya dengan sangat rapi, bersebelahan dengan novel karangan Buya Hamka Di bawah  lindungan Ka’bah. Ya.. aku juga tidak lupa membuat batasan lembaran bacaanku dengan melipat   diujungnya agar aku dengan mudah melanjutkan bacaanku yang apabila belum selesai dibaca.

Duh, di mana buku itu .

Hampir setengah jam aku mencari, mana tahu terselip di Rak buku yang lain, namun buku tersebut raib bak ditelan bumi.  Dengan lunglai , kuajak Mulyati kembali ke kelas. Aku berdosa telah membohongi pak guru Olah Raga.  

“ Aku cabut ya, mau gabung ke lapangan. ” kata Mulyati kawan sebangku sejak aku bersekolah disini. Tak lama terdengar sorak sorai dari kejauhan sepertinya ada pertandingan antar kelas . Tapi Persetan, pikiranku sudah dipenuhi isi cerita yang ada di Novel kemaren itu. Huh !!

 

Ternyata sendirian di kelas bikin hati tambah kesal. Aku melamunkan kejadian kemaren di perpustakaan , selain aku, ternyata ada juga laki laki yang menyukai Novel yang kubaca. Sepertinya punya  hobby sama denganku ,membaca. Penampilannya bersih dengan  rambut tersisir rapi dan  wangi  bikin aku tersenyum  sendiri , apalagi ketika dia membasakan dirinya dengan sebutan  “Abang” .  Mungkin abang dari kelas III , jelasnya satu tingkat dari aku . Oh..  Jurusan IPA atau IPS ya, dia “ aku membatin.

 

” Ehm, nih novelnya, kamu pasti kecarian tadi di Perpustakaan” .  Belon tamat kan  “. timpalnya lagi ketika dia melihat wajahku terkejut karena dia datang tiba tiba. Kulihat buku yang kucari itu diletakkan di atas meja. Penasaran , kuambil juga lalu kusimpan kan di dalam tas  

“Kita kenalan dulu, bolehkan . diulurkan tangannya .Namamu  Aryati dari kelas II IPA 1 alamat Taman Siswa kan ?”

“ Kalau udah tau, ngapain kenalan “ ku tarik jabatan tangan dengan geram.

  “ Abang sudah lama memperhatikan kamu, apalagi kebetulan hobby kita sama. Buku ini sengaja abang ambil buat dek Aryati. Nanti malam kan malam Minggu,  cocoknya baca baca cerita, kan.” Seketika kurasakan dadaku berdebar lebih kencang, ada apa ini…

“ Senin dibawa, nanti biar Abang yang mengembalikannya, soalnya buku itu Abang ambil    tanpa sepengetahuan mereka”  wajahnya berubah serius

” Mencuri itu namanya, bang ” .

” Hush..jangan protes. Pokoknya harus diberikan ketangan Abang ya, dek”.

” Janji , dek , baca di rumah, nanti ketahuan ” bisiknya di telingaku.

Aku mengangguk sedikit gemetar, berdekatan berdua saja dikelas bikin nafasku hampir berhenti. buku itu cepat cepat kumasukkan kedalam tas.

“ Dah, sampai ketemu suatu hari “ ujarnya sambil melambaikan tangan.

Kuantar dengan pandangan mata sampai bayangannya hilang, Seperti mimpi. Semua terjadi begitu cepat . siapa namanya, kelas berapa,tinggal di mana,  sudah punya pacar atau belum. Alahay..aku jadi malu dengan perasaan ini, padahal baru saja dalam bertemu, Ah.

….

Senin, jam istirahat aku keluar kelas sambil menenteng tas sekolah. Ada, novel di dalamnya. Aku ingin mengembalikan novel ini,   dadaku terasa berdebar lagi tidak karuan. Namun sampai bel istirahat usai   yang kutunggu tak datang, kemana ya dia. Keesokan hari Kucoba duduk menunggu di perpustakaan, namun yang ku tunggu juga tak kunjung datang.  Kucoba mengingat pertemuan kami sekejap , ada rasa menyesal karena aku tak bertanya siapa namanya, di kelas III  Jurusan IPA atau IPS . Duh, mengapa hatiku terasa sakit kali ini.

Hari demi hari, kutunggu Abang kelasku tak pernah datang, berkali kali dengan sengaja aku duduk menunggu di sudut yang sama di perpustakaan ini, namun yang kutunggu entah di mana. Terasa sepi menyeruak , aku dilamun rindu.

“ Hari ini kita ke Perpustakaan yok  , ajak Mulyati bersemangat

“ Malas, ah. Sahutku sambil merebahkan kepala di meja

“ Aku biar di kelas aja, Lagi nggak mood “ .

Begitulah , entah kenapa semangat membacaku hilang , kenikmatan mencium aroma pisang goreng sambil melahap lembar demi lembar isi buku di perpustakaan sekarang tak membuatku bergairah.

“ Sepertinya kamu sedang  ada masalah  , nih.  Beberapa minggu ini kelihatan melamun saja . Merasa aman mencurahkan isi hati kepada sahabat  , aku menumpahkannya tanpa ada yang kusembunyikan.

“ Nanti biar aku yang cari tahu ke pengajaran. Mana tahu ada siswa yang pindah ke sekolah lain.  Agak susah karena kita tidak tahu namanya, tapi bereslah itu.  kata sahabatku memperjelas harapan. Dua hari berlalu sampai pada pagi  itu..

 

“ Nih, ada surat buatmu, kata Mulyati .

“ Dari siapa, kataku sambil membolak balik amplop yang bercap pos Jakarta Kota.

“ Buka aja, cepat . Mana tau ada titik terang pencarian kita “  benar juga saran Mulyati. Kubuka sampul surat berwarna putih, tertera nama dan kelasku dengan jelas dan  beralamatkan sekolah

 

Assalamualaikum  

Hai, Mawar asuhan Rembulanku..

Maaf  kepergianku begitu tergesa karena kami sekelurga harus pindah lagi ke ibukota .Tentang buku itu biarlah jadi rahasia kita berdua ya. Aku sudah mulai bersekolah di sini, perpustakaannya juga penuh buku dan itu mengingatkan Abang padamu. Semoga lain hari kita bisa berjumpa.  Senang bersahabat  denganmu dek Aryati.

Salam : , Abiyat

 

“ Hanya sahabat “ kubaca berulang ulang. Ah, ternyata perasaanku terlalu berlebihan selama ini.  Barangkali karena aku jarang berteman dengan lelaki makanya terbawa perasaan sendiri. Rasa rindu kecewa penuh harap bercampur aduk. Begini kah yang namanya cinta, pada pandangan pertama?

Rinai hujan beriringan dengan air mataku.  Kuseka perlahan lahan sendiri . Kulipat surat putih bersih itu ,  kudekap erat novel yang akan kukembalikan  padanya . Buku itu penyebab pertama kami bertemu. Seketika  perasaanku kembali mengharu biru.  

“ Oh cinta,  biarlah  buku itu jadi rahasia kita berdua. Biarlah kusimpan  agar  jadi kenangan selamanya.

Ah, Selamanya .

Kutaraja 2022

 

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kerahasiaan RUU Sisdiknas

Filantropi Organisasi Nirlaba

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00