Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
Malam ini, aku dan kelima saudara kandungku berkumpul di rumah mendiang ayah dan ibu, setelah selesai serangkaian acara doa selamatan atas berpulangnya ibu yang menyusul kepergian ayah untuk selama-lamanya. Usiaku belum genap tujuh tahun ketika aku harus menyandang status yatim piatu.
Malam ini kami diminta untuk mendengar keputusan paman terkait tanggung jawab pengasuhan kami, para keponakannya.
Aku tidak paham apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Yang aku tahu pada akhirnya aku akan tinggal bersama bunda Nana, adik bungsu ibu yang bertempat tinggal di kota lain. Itu artinya aku akan meninggalkan rumah peninggalan ayah dan ibu. Meninggalkan teman-teman sepermainan.
Tidak ada lagi keseruan bermain petak umpet di sela-sela pohon kopi yang berjejer rapi. Tidak lagi bisa kurasakan kehangatan kasih sayang kak Lina, kakak kelasku. Yang selalu menerimaku menjadi timnya saat bermain galah. Ia juga yang selalu setia menghiburku saat aku tidak pernah menang dalam bermain lompat tali. Akankah kutemui sosok seperti dirinya?
“Sudah siap Ninda?” Sapaan bunda Nana membuyarkan lamunanku.
“Pastikan barang-barang bawaanmu tidak ada yang tertinggal. Besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali”. Bunda Nana melanjutkan.
Aku tidak akan membawa banyak bawaan sebab memang aku tidak punya. Selain hanya beberapa potong baju aku juga membawa seragam dan perlengkapan sekolah, meskipun aku tidak tahu pasti masih bisa tetap bersekolah atau tidak.
Saat keberangkatan tiba. Mataku berkaca-kaca memandang setiap sudut rumah. Di rumah ini aku bisa merasakan kehadiran ayah dan ibu. Bisa mendengar suara mereka meskipun hanya dalam diam. Bisa mendekap beberapa helai baju mereka yang masih tersisa saat rindu datang.
“Ninda” suara bunda Nana. Segera kuhapus airmata yang siap tumpah.
“Ada temanmu yang menunggu di luar” lanjutnya.
Ternyata Kak Lina yang datang. Kami berpelukan erat sekali, airmata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah tanpa bisa kucegah, kami menangis bersama “Aku akan merindukanmu, Ninda”. Hanya itu pesan Kak Lina. Dan kami pun berpisah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam dengan angkutan umum kami tiba di tujuan. Ternyata aku baru tahu bahwa aku hanya sementara berada di rumah bunda Nana untuk selanjutnya aku akan tinggal bersama Mak Dah, kakak sulung ibu.
Dengan alasan bahwa rumah bunda Nana jauh dari sekolah dan dia tidak sempat untuk mengantar jemput. Sementara di rumah Mak Dah hanya membutuhkan waktu lima menit dari rumah untuk tiba di sekolah.
Aku senang sekali sebab aku bisa kembali bersekolah. Keputusanku untuk membawa perlengkapan sekolah tidaklah sia-sia.
Di rumah Mak Dah episode perjuangan hidupku dimulai. Sepulang sekolah biasanya aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Aku belum berani bermain di luar sebab belum banyak yang aku kenal. Ternyata berada di rumah juga tidak jauh dari bahaya. Burhan anak Mak Dah yang usianya terpaut beberapa tahun dariku yang mengalami tuna wicara, selalu menggangguku. Awalnya aku menganggap dia hanya bercanda, tapi lama kelamaan aku semakin tidak nyaman dengan tingkahnya.
Pernah suatu ketika ia memasukkan pasir ke dalam nasi yang sedang kumakan. Ia selalu menjahiliku saat Mak Dah tidak ada. Sementara aku tidak berani melaporkannya pada Mak Dah. Hingga pada suatu Ketika, Mak Dah pulang dari sawah ia mendapati Burhan sedang mencoba mengikatku di tiang rumah dan mulutku sudah ditutup dengan lakban, aku tak tahu apa yang akan terjadi seandainya Mak Dah tidak pulang.
Setelah kejadian itu, Mak Dah kembali mengantarku ke rumah bunda Nana sebab Mak Dah tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Namun bunda Nana tidak bisa menerimaku, sebab dia harus merawat mertuanya yang mulai sakit-sakitan.
Akhirnya Mak Dah kembali membawaku pulang ke kampung halaman.
“Kamu mau tinggal bersama siapa Ninda?” Tanya Mak Dah ketika angkutan yang kami tumpangi mulai berjalan.
“Sama Kak Lina”. Spontan Aku menjawab. Dan benar saja aku dititipkan di rumah Kak Lina. Untung saja tidak lama berselang kakak sulungku sudah kembali tinggal di rumah peninggalan ibu. Setelah sebelumnya dia ikut suaminya ke perantauan.
Aku senang sekali akhirnya aku bisa kembali lagi ke kampung halaman yang kurindukan.
Kini kembali kurasakan kebahagiaan yang sempat hilang. Aku merasakan seakan keluargaku kembali utuh meski tanpa ayah dan ibu. Setiap pulang sekolah agendaku kini bertambah satu, aku harus menjaga kedua keponakanku yang masih kecil sementara kakakku yang merupakan ibu mereka harus mengurus sebidang kebun peninggalan ayah dan ibu.
Aku sangat menikmati peranku. Walaupun terkadang waktu bermainku bersama teman-teman menjadi berkurang. Untuk menyiasatinya, jika memungkinkan aku sering membawa serta dua bocah itu untuk bermain bersama.
Siang ini aku pulang sekolah dengan riang gembira aku membawa cemilan kesukaan keponakanku, yang kubeli dari menyisihkan uang jajan yang diberikan kakakku setiap hari. Tak sabar aku ingin segera tiba di rumah dan melihat reaksi bahagia dari keduanya.
Di bawah teriknya matahari kupercepat langkah. Namun saat tiba di rumah aku menemukan rumah yang sepi, pintunya terkunci rapat. Jendela pun tidak ada yang terbuka. ‘Mungkin kakak belum pulang dari kebun’ Suara batinku mencoba menghibur diri. Lama menunggu tapi kakak tidak juga datang. Waktu asar telah tiba. Aku mulai gelisah dan takut bersamaan rasa lapar yang sejak tadi aku rasakan. Apa yang bisa dilakukan bocah kecil sepertiku?
Sore hampir saja berlalu, malam akan segera datang. Aku semakin takut dan mulai menangis. Hingga kumendengar satu suara “Maukah engkau tinggal bersama kami? Setidaknya untuk malam ini, untuk selanjutnya terserah padamu” Aku menoleh dan langsung mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Wak Yati, tetanggaku.
Entah sampai kapan aku akan berpindah-pindah. Entah di mana aku akan menetap. Biarlah waktu yang menjawab. Yang penting malam ini aku tidak sendiri.
Belakangan aku tahu, ternyata kakakku menitipkan kunci rumah di warung dekat rumah, tapi pemilik warung lupa memberikannya padaku. Dan kakakku terburu-buru harus pulang ke kampung suaminya sebab mertuanya meninggal.
Banda Aceh, 11 Maret 2026
Seperti yang dituturkan oleh seorang adinda
š„ 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















