POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Cerpen

PAZURU

Redaksi by Redaksi
Juli 11, 2025
in #Cerpen, Cerpen Remaja
0
PAZURU - 2025 07 11 08 36 43 | #Cerpen | Potret Online

Oleh Naila Rivka Mulna Zeera (Naizeera)

Pelajar kelas 2 SMP IT An-Nur Pidie Jaya


Baca Juga
  • PAZURU - 2025 05 15 10 03 05 | #Cerpen | Potret Online
    Cerpen Remaja
    Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani
    15 Mei 2025
  • 02
    #Cerpen
    Saat Mentari Menunggu
    26 Jul 2025


Di tengah hiruk-pikuk sekolah yang penuh semangat, suasana menggema bagai orkestra yang mengalunkan cerita kehidupan remaja yang sibuk. Langit-langit aula dipenuhi alunan tawa dan bisik-bisik, sementara murid-murid berseragam putih-abu dan almamater hitam membalut tubuh mereka. Dengan dinding-dinding yang dihiasi poster ceria, percakapan mengalir dalam irama netral.

Setiap sudut sekolah menjadi panggung bagi drama kecil kehidupan. Kegembiraan dan kesibukan berpadu dalam dinamika dunia pelajar, menciptakan kanvas jalur hidup yang memancarkan kehangatan dari dunia pendidikan.

Baca Juga
  • PAZURU - 2025 05 29 11 41 36 | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Bersanding Tanpa Pelaminan
    29 Mei 2025
  • PAZURU - 2025 05 12 13 40 22 | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Perasan Jeruk Nipis Seasam Hidupku
    12 Mei 2025

EMIS, Sekolah Internasional Modern Erunika, adalah sekolah ternama yang telah melahirkan ratusan murid berprestasi di berbagai bidang. Di tengah semilir angin sore dan alur kegiatan yang terus mengalir, para siswa EMIS disibukkan dengan acara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru. Aula EMIS menjadi panggung kesibukan yang dinamis, seperti pertunjukan opera yang hidup.

Di tengah keramaian itu, tampak seorang gadis berambut lurus sebahu yang dicat warna walnut. Ia memiliki sepasang mata biru yang indah bak safir. Namanya Rayvenna Niskala Anantara, gadis dengan kepribadian yang sulit ditebak. Ia membawa tas ransel berwarna gelap dan sebuah pena yang selalu setia di sisinya.

Baca Juga
  • PAZURU - IMG 20250718 WA0003 | #Cerpen | Potret Online
    #Cerpen
    Putri dari Sudut Kampus
    18 Jul 2025
  • PAZURU - Ilustrasi Alya Azzahra | #Cerpen | Potret Online
    Cerpen
    Aku Lelah, Aku Kuat
    23 Jan 2025

“Rayvenna, apakah kamu lapar? Saya belikan makanan,” ucap lembut seorang siswa laki-laki.

Ray menggeleng pelan sebagai jawaban. Siswa itu bermata sipit, memakai kacamata lensa transisi, bertubuh kurus tetapi tegap, berseragam rapi, dan berambut yang tersisir rapi. Ia tersenyum dan duduk di sebelah Ray. Namanya Atlas Dekara, putra tunggal dari Aditya Dekara, pelayan pribadi dari Gavid Anantara, ayah Ray, seorang pengacara sekaligus pengusaha bergaris konglomerat. Sejak usia dua belas tahun, Atlas telah menemani dan menjaga Ray seperti pengawal pribadinya—rutinitas yang telah menjadi bagian hidupnya.

Acara penutupan MPLS selesai. Siswa baru mendapatkan tugas berkelompok yang akan dinilai secara individu. Satu kelompok terdiri atas lima orang sebagai bagian dari pembagian kelas. Ray memeriksa selembar kertas yang dibagikan panitia dan menemukan lima nama rekan satu kelompoknya:

Kelompok C

  • Rayvenna Niskala Anantara
  • Atlas Dekara
  • Reza Ivander Alvaez
  • Elena Miciela Andressa
  • Kaelandra Anthagena

Bel berbunyi tiga kali. Seluruh siswa EMIS diperbolehkan pulang, tetapi Ray dan Atlas memilih pergi ke kantin, seperti beberapa siswa lainnya. Mereka duduk di salah satu meja bundar marmer. Atlas segera bangkit dan kembali dengan dua porsi corndog dan sekotak susu vanila.

Tiga siswa EMIS menghampiri meja mereka.

“Boleh kami bergabung?” tanya seorang gadis berambut cokelat gelap sebahu yang tersenyum manis.

Atlas menoleh ke arah Ray. Ray mengangguk tipis. Ketiga siswa itu lalu duduk mengisi kursi kosong di meja bundar marmer.

“Gue Kaelandra Anthagena. Panggil aja Kael,” ujar seorang siswa laki-laki berambut acak-acakan, duduk di sebelah Atlas.
“Kalau gue Elena Miciela Andressa. Panggil Elena,” ujar gadis yang tadi menyapa Atlas dan Ray, duduk di sebelah Kael.
“Kalo gue Reza Ivander Alvaez. Bisa panggil Reza,” ucap siswa laki-laki yang duduk di sebelah Ray sambil tersenyum simpul.

Ray mengangguk dan menoleh ke arah Atlas, memberi kode agar ikut memperkenalkan diri.

“Saya Atlas Dekara. Bisa dipanggil Atlas.”
“Gue Rayvenna Niskala Anantara. Panggil aja Ray,” ujar Ray dengan nada cuek.

Tiga teman barunya tiba-tiba terlihat tercengang.

“Kenapa?” tanya Ray polos.
“Jangan bilang lo bungsu keluarga Anantara?!” seru Reza.
“Iya, kenapa?”
“Gak ada. Kaget aja. Plot twist kan kalau gue temenan sama anak konglomerat,” ujar Kael.

Ray hanya mengangguk tipis menanggapi pernyataan heboh mereka. Mereka kan satu kelompok. Seharusnya sudah tahu, dan biasa saja, batin Ray.

Entah mengapa, Ray tiba-tiba teringat kakaknya, Raesyana Nincella Anantara. Kakaknya memiliki selisih dua tahun dengannya. Seorang gadis yang terkenal penyabar dan cerdas. Raesya adalah orang yang paling disayang Ray. Sejak kecil, Raesya mengalami gangguan saraf pada kakinya sehingga tak dapat berjalan. Ia hanya mengikuti homeschooling sejak sekolah dasar. Sebenarnya, Ray merasa punya firasat buruk tentang kakaknya—seakan ia sedang dalam bahaya.

“Ray…, saya izin menelepon Papa, ya. Papa nelpon,” ujar Atlas sambil memperlihatkan ponselnya. Ray mengangguk, mempersilakan.

Atlas melangkah ke sudut kantin, mencari tempat sepi. Ia menerima panggilan dari Aditya, ayahnya.

“Kamu masih di sekolah?” tanya Aditya dari seberang telepon.
“Iya. Kenapa, Pa?” sahut Atlas.
“Kamu sama Ray, kan?”
“Iya, Pa. Ray ada sama Atlas.”
“Bisa kasih teleponnya ke Ray?”

Atlas kembali ke meja bundar, menyerahkan ponselnya kepada Ray.

“Ray, Papa mau ngomong sama kamu,” ujar Atlas.

“Iya, Om. Kenapa ya?” jawab Ray.

“Tuan Gavid dan saya sedang di luar kota. Tapi tadi ada pesan teroris yang dikirimkan ke ponsel saya. Saya merasa pesan itu berhubungan dengan Nona Raesya. Saya tidak tahu apakah itu hanya lelucon atau bukan. Saya memberitahumu tanpa sepengetahuan Tuan Gavid. Pesan itu sudah saya kirim ke nomor Atlas, Nona.”

“I-iya, Om…”

Ray buru-buru memutuskan panggilan dan segera membuka pesan dari Atlas. Jantungnya berdebar kencang. Debar kecemasan menyelimuti saat ia membaca pesan asing tersebut.


.

?”


Previous Post

Gelar Tinggi, Moral Rendah – Ulasan Artikel

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah