• Latest
PAZURU - 2025 07 11 08 36 43 | #Cerpen | Potret Online

PAZURU

Juli 11, 2025
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

PAZURU

Redaksi by Redaksi
Juli 11, 2025
in #Cerpen, Cerpen Remaja
Reading Time: 6 mins read
0
PAZURU - 2025 07 11 08 36 43 | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Naila Rivka Mulna Zeera (Naizeera)

Pelajar kelas 2 SMP IT An-Nur Pidie Jaya



Di tengah hiruk-pikuk sekolah yang penuh semangat, suasana menggema bagai orkestra yang mengalunkan cerita kehidupan remaja yang sibuk. Langit-langit aula dipenuhi alunan tawa dan bisik-bisik, sementara murid-murid berseragam putih-abu dan almamater hitam membalut tubuh mereka. Dengan dinding-dinding yang dihiasi poster ceria, percakapan mengalir dalam irama netral.

Setiap sudut sekolah menjadi panggung bagi drama kecil kehidupan. Kegembiraan dan kesibukan berpadu dalam dinamika dunia pelajar, menciptakan kanvas jalur hidup yang memancarkan kehangatan dari dunia pendidikan.

EMIS, Sekolah Internasional Modern Erunika, adalah sekolah ternama yang telah melahirkan ratusan murid berprestasi di berbagai bidang. Di tengah semilir angin sore dan alur kegiatan yang terus mengalir, para siswa EMIS disibukkan dengan acara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru. Aula EMIS menjadi panggung kesibukan yang dinamis, seperti pertunjukan opera yang hidup.

Di tengah keramaian itu, tampak seorang gadis berambut lurus sebahu yang dicat warna walnut. Ia memiliki sepasang mata biru yang indah bak safir. Namanya Rayvenna Niskala Anantara, gadis dengan kepribadian yang sulit ditebak. Ia membawa tas ransel berwarna gelap dan sebuah pena yang selalu setia di sisinya.

“Rayvenna, apakah kamu lapar? Saya belikan makanan,” ucap lembut seorang siswa laki-laki.

Ray menggeleng pelan sebagai jawaban. Siswa itu bermata sipit, memakai kacamata lensa transisi, bertubuh kurus tetapi tegap, berseragam rapi, dan berambut yang tersisir rapi. Ia tersenyum dan duduk di sebelah Ray. Namanya Atlas Dekara, putra tunggal dari Aditya Dekara, pelayan pribadi dari Gavid Anantara, ayah Ray, seorang pengacara sekaligus pengusaha bergaris konglomerat. Sejak usia dua belas tahun, Atlas telah menemani dan menjaga Ray seperti pengawal pribadinya—rutinitas yang telah menjadi bagian hidupnya.

Acara penutupan MPLS selesai. Siswa baru mendapatkan tugas berkelompok yang akan dinilai secara individu. Satu kelompok terdiri atas lima orang sebagai bagian dari pembagian kelas. Ray memeriksa selembar kertas yang dibagikan panitia dan menemukan lima nama rekan satu kelompoknya:

Kelompok C

  • Rayvenna Niskala Anantara
  • Atlas Dekara
  • Reza Ivander Alvaez
  • Elena Miciela Andressa
  • Kaelandra Anthagena

Bel berbunyi tiga kali. Seluruh siswa EMIS diperbolehkan pulang, tetapi Ray dan Atlas memilih pergi ke kantin, seperti beberapa siswa lainnya. Mereka duduk di salah satu meja bundar marmer. Atlas segera bangkit dan kembali dengan dua porsi corndog dan sekotak susu vanila.

Tiga siswa EMIS menghampiri meja mereka.

“Boleh kami bergabung?” tanya seorang gadis berambut cokelat gelap sebahu yang tersenyum manis.

Atlas menoleh ke arah Ray. Ray mengangguk tipis. Ketiga siswa itu lalu duduk mengisi kursi kosong di meja bundar marmer.

“Gue Kaelandra Anthagena. Panggil aja Kael,” ujar seorang siswa laki-laki berambut acak-acakan, duduk di sebelah Atlas.
“Kalau gue Elena Miciela Andressa. Panggil Elena,” ujar gadis yang tadi menyapa Atlas dan Ray, duduk di sebelah Kael.
“Kalo gue Reza Ivander Alvaez. Bisa panggil Reza,” ucap siswa laki-laki yang duduk di sebelah Ray sambil tersenyum simpul.

Ray mengangguk dan menoleh ke arah Atlas, memberi kode agar ikut memperkenalkan diri.

“Saya Atlas Dekara. Bisa dipanggil Atlas.”
“Gue Rayvenna Niskala Anantara. Panggil aja Ray,” ujar Ray dengan nada cuek.

Tiga teman barunya tiba-tiba terlihat tercengang.

“Kenapa?” tanya Ray polos.
“Jangan bilang lo bungsu keluarga Anantara?!” seru Reza.
“Iya, kenapa?”
“Gak ada. Kaget aja. Plot twist kan kalau gue temenan sama anak konglomerat,” ujar Kael.

Ray hanya mengangguk tipis menanggapi pernyataan heboh mereka. Mereka kan satu kelompok. Seharusnya sudah tahu, dan biasa saja, batin Ray.

Entah mengapa, Ray tiba-tiba teringat kakaknya, Raesyana Nincella Anantara. Kakaknya memiliki selisih dua tahun dengannya. Seorang gadis yang terkenal penyabar dan cerdas. Raesya adalah orang yang paling disayang Ray. Sejak kecil, Raesya mengalami gangguan saraf pada kakinya sehingga tak dapat berjalan. Ia hanya mengikuti homeschooling sejak sekolah dasar. Sebenarnya, Ray merasa punya firasat buruk tentang kakaknya—seakan ia sedang dalam bahaya.

“Ray…, saya izin menelepon Papa, ya. Papa nelpon,” ujar Atlas sambil memperlihatkan ponselnya. Ray mengangguk, mempersilakan.

Atlas melangkah ke sudut kantin, mencari tempat sepi. Ia menerima panggilan dari Aditya, ayahnya.

“Kamu masih di sekolah?” tanya Aditya dari seberang telepon.
“Iya. Kenapa, Pa?” sahut Atlas.
“Kamu sama Ray, kan?”
“Iya, Pa. Ray ada sama Atlas.”
“Bisa kasih teleponnya ke Ray?”

Atlas kembali ke meja bundar, menyerahkan ponselnya kepada Ray.

“Ray, Papa mau ngomong sama kamu,” ujar Atlas.

“Iya, Om. Kenapa ya?” jawab Ray.

“Tuan Gavid dan saya sedang di luar kota. Tapi tadi ada pesan teroris yang dikirimkan ke ponsel saya. Saya merasa pesan itu berhubungan dengan Nona Raesya. Saya tidak tahu apakah itu hanya lelucon atau bukan. Saya memberitahumu tanpa sepengetahuan Tuan Gavid. Pesan itu sudah saya kirim ke nomor Atlas, Nona.”

“I-iya, Om…”

Ray buru-buru memutuskan panggilan dan segera membuka pesan dari Atlas. Jantungnya berdebar kencang. Debar kecemasan menyelimuti saat ia membaca pesan asing tersebut.


.

?”


Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com