POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia

Fileski Walidha TanjungOleh Fileski Walidha Tanjung
February 23, 2026
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung   

Sebagai penyair, ada kebahagiaan yang sulit saya uraikan ketika mengetahui bahwa puisi saya, “Yang Menyala dalam Senyap,” akan diperdanakan dalam bentuk tembang puitik di Melbourne, Australia, pada 30 Mei 2026. Bersama puisi “Izinkan” karya Medy Loekito, karya kami digubah oleh komponis Indonesia, Ananda Sukarlan, lalu akan dibawakan oleh soprano Indonesia yang bermukim di Australia, Elizabeth Rusli, dengan iringan piano oleh Joseph Beckitt. Konser bertajuk Songs from Within itu akan digelar di Music Valley, Point Cook, Melbourne—sebuah ruang yang sebentar lagi akan dipenuhi gema bahasa Indonesia dalam balutan musik klasik.

Bagi saya, peristiwa ini bukan sekadar konser. Melbourne adalah salah satu kota di Australia dengan populasi warga negara Indonesia yang signifikan, diperkirakan sekitar 20.000 orang dalam beberapa tahun terakhir. Di sanalah diaspora kita bertumbuh, melahirkan generasi kedua yang tetap membawa ingatan tentang tanah air. Namun yang membuat saya semakin bangga, konser ini tidak hanya menyasar komunitas Indonesia, melainkan juga publik Australia. Terjemahan bahasa Inggris puisi-puisi kami akan dimuat dalam buku program, sehingga audiens non-Indonesia dapat memahami metafora, karakter, dan kedalaman ekspresi yang kami tuliskan. Bahasa Indonesia, melalui musik, menemukan jalannya sendiri untuk berdialog dengan dunia.

Dalam resital tersebut, Liz dan Joseph tidak hanya memperdanakan dua tembang puitik karya Ananda, tetapi juga menampilkan karya klasik seperti Sechs Lieder Op. 13 karya Clara Schumann serta “Now Touch The Air Softly” karya komponis Australia, Calvin Bowman. Saya melihat ini sebagai pertemuan setara: puisi Indonesia berdampingan dengan tradisi klasik Eropa dan Australia, tanpa inferioritas, tanpa rasa kecil.

Puisi Medy Loekito, “Izinkan,” yang ditulis pada 2025, hanya terdiri dari tiga baris:

izinkan aku menyanyi

bagi cahaya bintang di sela jemarimu

hingga tunai segala irama

📚 Artikel Terkait

Hidup Menggaya

Dispar Kota Banda Aceh Gandeng Sanggar Cit Ka Geunta Tampilkan Tari Tradisional di JKPI

AI: Mengambil Alih Arah Dunia Sebelum Kita Sadar

Menikmati Program Jelajah Profesi dan Bakat

Kepadatan dan kekuatan puisinya membuat Ananda segera menemukan bentuk musikalnya. Ia pernah bercerita kepada kami, “Puisi itu begitu kuat dan padat sehingga langsung terbentuk musiknya secara utuh. Dua puluh menit setelah kak Medy mengirimkan lewat WhatsApp, saya kirim balik partiturnya.” Hingga kini, Ananda telah menggubah lebih dari 600 tembang puitik dari puisi berbahasa Inggris, Spanyol, dan Indonesia—sebuah dedikasi panjang yang membuat saya merasa terhormat menjadi bagian kecil dari perjalanan kreatifnya.

Tentang puisi saya sendiri, Ananda mengaku “kesetrum” oleh metafora dan elaborasi fonetiknya. Ia melihat dua daya tarik berbeda antara saya dan Medy: pada Medy, kepadatan; pada saya, elaborasi yang mengalir seperti lembaran buku yang terus terbuka atau deburan ombak yang datang silih berganti. Saya menerima tafsir itu dengan syukur.

Ketika menulis “Yang Menyala dalam Senyap,” saya memulainya bukan dari gagasan besar, melainkan dari satu citraan sederhana: sebuah kitab berdebu di rak rumah yang sunyi. Dari situ, debu menjadi metafora kelalaian kolektif, rak menjadi panggung peradaban yang lebih percaya algoritma dan mesin pencari daripada suara batin. Saya sengaja mempertentangkan dunia maya dengan “sungai abadi” dalam kitab suci sebagai simbol benturan antara yang instan dan yang kekal. Puisi itu saya tulis dengan ritme lirih, agar ia tidak menggurui, melainkan berbisik. Jika kini bisikan itu akan dinyanyikan di Australia, saya merasa bahasa Indonesia sedang membuktikan bahwa ia mampu menyentuh ruang-ruang global tanpa kehilangan jati dirinya.

Ananda Sukarlan sendiri adalah penerima berbagai penghargaan internasional, termasuk “Real Orden de Isabel la Católica” dari Kerajaan Spanyol dan gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” yang dianugerahkan Presiden Italia, Sergio Mattarella. Pada 2020, ia juga masuk daftar 100 “Asian Most Influential” versi Tatler Asia (Hong Kong). Reputasi itu memberi bobot tersendiri bagi karya-karya yang ia sentuh.

Pada April 2026, ia dijadwalkan berkeliling Indonesia, dimulai dengan konser di Soehanna Hall, Jakarta, 5 April, bersama pianis tunanetra Jepang Takeshi Kakehashi dan soprano Mariska Setiawan, lalu berlanjut ke Lampung, Samarinda, dan sejumlah kota di Jawa Tengah sebelum kembali ke Spanyol. Saya melihat konsistensi itu sebagai bentuk nyata diplomasi budaya yang tidak lelah.

Elizabeth Rusli sendiri aktif sebagai solois utama di berbagai konser di Australia, membawakan repertoar sakral dan opera, termasuk Coronation Mass karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Little Organ Mass karya Joseph Haydn. Ia juga terlibat dalam pementasan karya besar seperti Ein Deutsches Requiem karya Johannes Brahms, Messiah karya George Frideric Handel, serta Missa Solemnis karya Ludwig van Beethoven, dan akan melakukan tur opera Don Giovanni karya Mozart pada 2026.

Sementara itu, Joseph Beckitt, lulusan Conservatorium of Tasmania dan Victorian College of the Arts, aktif sebagai pianis, pengajar, dan komponis dengan karya seperti Piano Concerto (1994) dan musik teater A Pregnant Pause (1993).

Melalui kolaborasi lintas negara ini, saya berharap bukan hanya puisi saya yang bergema, melainkan kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia dan sastra kita sendiri. Jika sebuah puisi yang lahir dari rak berdebu di rumah sunyi kini akan dinyanyikan di Melbourne, maka saya percaya: bahasa Indonesia tidak pernah kecil. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan—dan tetap menyala, bahkan dalam senyap.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 62x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Please login to join discussion
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
125
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
206
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
94
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00