Oleh: Jhony Ngateman
Islam menempatkan ilmu pengetahuan dalam kedudukan yang sangat luhur dan mendasar. Ilmu bukan sekadar perangkat kognitif untuk memahami realitas empiris, tetapi juga merupakan sarana spiritual untuk mengenal Tuhan. Dalam perspektif ini, iman dan ilmu tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan dalam satu kesatuan yang integral. Keduanya menjadi fondasi bagi terbentuknya pribadi muslim yang utuh, yang mampu memadukan kejernihan berpikir dengan kedalaman dzikir.
Al-Qur’an memberikan penegasan yang kuat tentang keutamaan ilmu. Allah menyatakan bahwa Dia akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”(Al-Mujadilah [58]: 11)
Pernyataan ini mengandung dimensi teologis sekaligus sosiologis. Secara teologis, ia menunjukkan kemuliaan ilmu di sisi Tuhan. Secara sosiologis, ia mengisyaratkan bahwa ilmu memiliki peran strategis dalam membangun tatanan kehidupan yang beradab. Dengan demikian, ilmu tidak boleh berhenti pada tataran teoritis, tetapi harus berfungsi sebagai kekuatan transformatif dalam kehidupan masyarakat.
Kedudukan ilmu dalam Islam semakin jelas ketika kita menelaah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Wahyu tersebut dimulai dengan perintah membaca, “Iqra’,” sebagaimana termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(Al-Alaq [96]: 1-5)
Perintah ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah isyarat metodologis bahwa jalan menuju peradaban dimulai dari aktivitas intelektual. Membaca di sini tidak hanya dipahami sebagai aktivitas verbal, tetapi juga mencakup proses memahami, menelaah, dan merefleksikan realitas.
Kata “Iqra’” mengandung makna yang luas dan mendalam. Ia mencakup perintah untuk membaca ayat-ayat qauliyah (teks wahyu) sekaligus ayat-ayat kauniyah (fenomena alam). Dengan demikian, Islam mendorong umatnya untuk mengembangkan tradisi keilmuan yang komprehensif, yang tidak hanya berorientasi pada teks, tetapi juga pada realitas. Dalam kerangka ini, membaca menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kesadaran kritis dan reflektif.
Ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq juga menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala ilmu. Dia yang mengajar manusia dengan perantaraan pena dan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui. Penegasan ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki dimensi ilahiah. Namun demikian, manusia tetap dituntut untuk berikhtiar, mengembangkan potensi akalnya, dan memanfaatkan berbagai instrumen pengetahuan yang tersedia.
Dalam sejarahnya, ajaran ini telah melahirkan tradisi intelektual yang kuat dalam peradaban Islam. Umat Islam pada masa klasik mampu mengembangkan berbagai disiplin ilmu, baik dalam bidang keagamaan maupun ilmu-ilmu rasional. Hal ini menunjukkan bahwa spirit “Iqra’” benar-benar diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, sehingga melahirkan peradaban yang maju dan berpengaruh.
Oleh karena itu, memahami Islam tanpa menempatkan ilmu sebagai pilar utama merupakan kekeliruan yang mendasar. Ilmu adalah cahaya yang membimbing iman, sekaligus instrumen untuk mewujudkan nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan. Tanpa ilmu, iman berpotensi terjebak dalam formalisme yang kering. Sebaliknya, tanpa iman, ilmu dapat kehilangan arah dan nilai.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’ [17]: 36)
Dengan demikian, perintah membaca yang menjadi wahyu pertama merupakan panggilan abadi bagi umat Islam untuk terus mengembangkan tradisi keilmuan. Ia bukan sekadar perintah historis, tetapi juga mandat peradaban. Dalam konteks kekinian, panggilan ini semakin relevan, mengingat tantangan zaman yang semakin kompleks. Hanya dengan ilmu yang dilandasi iman, umat Islam dapat berperan secara konstruktif dalam membangun peradaban yang berkeadaban.









Diskusi