Sabtu, April 25, 2026

Lampouh Cina di Ujong Batee

1001436738_11zon
Ilustrasi: Lampouh Cina di Ujong Batee

Jejak Sejarah Lada Milik Cina di Gampong Ujung Batee, Terbangan, Pasie Raja

Oleh: Ayah Ilham

Sedikit yang tahu, bahwa di Gampong Ujung Batee, Aceh Selatan, tersimpan sebuah kisah unik dari masa lalu yang masih berbekas hingga hari ini. Masyarakat menyebutnya “Lampoh Cina”, sebuah lahan kebun yang luas, yang dulunya dimiliki oleh pendatang Cina.

Konon, lahan ini sudah ada sejak masa kerajaan Aceh, tentu saja sebelum Indonesia merdeka. Di tanah inilah dahulu ditanam lada dalam jumlah besar. Tak heran jika saat ini, ketika warga menggali tanah untuk membangun rumah, sering ditemukan pecahan piring, mangkuk, atau cawan keramik khas Cina — bukti bahwa kebun itu pernah digarap dan dikelola oleh orang asing.

Lokasi kebun ini membentang luas: mulai dari jembatan perbatasan Gampong Ujung Batee (depan Masjid Al-Istiqamah) hingga jembatan besi perbatasan Dusun Ujung Sirahop dan Ujung Butun. Dari garis pantai hingga mendekati kaki gunung Tunong, lahan tersebut dikenal masyarakat sebagai milik orang Cina.

Karena status kepemilikan itu, masyarakat setempat dulu tidak berani menggarap atau menempati Lampoh Cina. Pendiri Gampong Ujung Batee pun akhirnya lebih banyak tinggal di sekitar Ujung Butun dan kaki Gunung Tunong, mengelilingi kebun asing yang luas itu.

Namun, sejarah berubah sekitar tahun 1942. Saat itu, Teuku Meurah Adam, seorang uleebalang yang juga menjabat sebagai Bupati Aceh Selatan, dengan tegas mengambil alih Lampoh Cina. Sebagian lahan kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai perluasan pemukiman, sementara sebagian lainnya tetap menjadi milik Teuku Meurah Adam sebagai tanah pemerintah uleebalang.

Meski demikian, tanah yang diklaim sebagai milik Teuku Meurah Adam tetap tidak berani ditempati masyarakat hingga bertahun-tahun. Baru sekitar tahun 1975, ketika Keuchik Rusli memimpin Gampong Ujung Batee, tanah itu diurus secara administrasi ke Badan Pertanahan Nasional. Statusnya resmi menjadi milik masyarakat Ujung Batee, lalu dikapling, dijual, dan dibangun rumah-rumah baru.

Sejak saat itu, kawasan yang dulunya dikenal sebagai Lampoh Cina berubah menjadi perkampungan yang padat, rumah-rumah penduduk berdiri di kiri dan kanan jalan nasional Tapaktuan–Medan.

Kini, jejak Lampoh Cina tinggal cerita, namun sejarahnya tetap penting diingat. Sebab dari situlah kita belajar, bahwa tanah yang dulunya milik asing kini telah menjadi milik rakyat, menjadi bagian dari perjalanan Gampong Ujung Batee yang terus tumbuh dan berkembang.

Not:

Tulisan ini disusun berdasarkan cerita turun-temurun dan sumber masyarakat. Mohon koreksi dan tambahan informasi dari para sesepuh serta warga yang mengetahui sejarah Lampoh Cina di Ujung Batee.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist