• Latest

Belajar dari Kejujuran Rakyat Kecil

September 6, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar dari Kejujuran Rakyat Kecil

Redaksiby Redaksi
September 6, 2025
Reading Time: 3 mins read
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Novita Sari Yahya

Ketika membaca kisah seorang ibu yang mengembalikan jam tangan mewah milik Ahmad Sahroni senilai Rp11 Miliar yang diambil anak remajanya saat penjarahan di rumah Sahroni pada 30 Agustus 2025, serta seorang pria yang mengumpulkan barang-barang berserakan di jalanan dari rumah Sri Mulyani dan mengembalikannya, saya tersentuh. Kisah ini mengajarkan banyak hal tentang kehidupan Marhaen dan makna kejujuran bagi rakyat kecil.

Marhaen: Simbol Rakyat Kecil

Istilah “Marhaen” diciptakan Soekarno untuk menyebut rakyat kecil, terinspirasi dari percakapannya dengan seorang petani penggarap. Marhaen mewakili kelompok terbesar dalam piramida masyarakat Indonesia, seperti petani, nelayan, pedagang kecil, dan buruh. Mereka adalah pekerja keras yang bangun pagi, berkeringat di bawah terik matahari di sawah atau laut, dan berjuang di tengah hujan untuk menjajakan dagangan di jalanan.

Berbicara tentang Marhaen membuat hati saya terenyuh. Para pendiri bangsa berjuang untuk mensejahterakan kelompok ini, namun kenyataannya, Marhaen sering kali menjadi kelompok terpinggirkan dalam kebijakan negara. Dominasi kapitalisme dan penguasaan sumber daya oleh segelintir pihak membuat mereka terus tertindas.

Pandangan Pendiri Bangsa tentang Marhaenisme

Marhaenisme, konsep yang dikembangkan Soekarno, menggabungkan nasionalisme, sosialisme, dan semangat gotong royong untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Berikut pandangan para tokoh pendiri bangsa:

Soekarno: Melihat marhaen sebagai simbol rakyat kecil yang harus dibebaskan melalui Marhaenisme, kombinasi nasionalisme dan sosialisme. Dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959), ia menyatakan, “Rakyat Marhaen harus jujur dan tulus, karena itulah yang membedakan kita dari penjajah yang licik.”

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

– Mohammad Hatta: Menekankan pemberdayaan Marhaen melalui koperasi dan ekonomi kolektif. Dalam pidato pada Kongres Pemuda 1928, Hatta berkata, “Kejujuran rakyat kecil adalah modal utama bangsa merdeka; tanpa itu, kemerdekaan hanyalah ilusi.”

– Sutan Sjahrir: Berfokus pada pendidikan dan modernisasi untuk memajukan Marhaen. Dalam Out of Exile (1949), ia menulis, “Rakyat Marhaen harus belajar kejujuran dari pengalaman penjara Belanda; itu satu-satunya cara menghadapi diplomasi licik.”

– Tan Malaka: Melihat Marhaen sebagai kekuatan revolusioner. Dalam Madilog (1943), ia menyatakan, “Kejujuran rakyat Marhaen adalah dialektika materialis yang melawan idealisme kosong dan membangun republik.

Marhaenisme dan Konsep Gotong Royong

Marhaenisme menekankan pentingnya gotong royong dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Gotong royong diartikan sebagai kerja sama dan saling membantu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks Marhaenisme, gotong royong merupakan salah satu pilar utama dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Pelajaran dari Kejujuran Marhaen

Kisah ibu dan pria yang mengembalikan barang curian menggambarkan nilai malu dan batasan yang kini hilang dari banyak pejabat. Pejabat yang korup atau memamerkan kekayaan seharusnya malu, belajar dari Marhaen yang hidup sederhana, bekerja keras, dan menjunjung etika.

Mari kita renungkan kutipan Tan Malaka: 

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Kesimpulan

Keempat tokoh pendiri bangsa sepakat bahwa kejujuran Marhaen adalah nilai inti perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Soekarno menekankan nasionalisme idealis, Hatta berfokus pada ekonomi praktis, Sjahrir pada rasionalitas diplomatis, dan Tan Malaka pada revolusi radikal. Nilai-nilai ini relevan dalam diskusi anti-korupsi saat ini. Marhaen mengajarkan kita tentang hidup sederhana, kerja keras, dan etika.

*Tentang Penulis*

ADVERTISEMENT

Novita Sari Yahya adalah penulis dan peneliti. Buku-bukunya meliputi:

– Romansa Cinta

– Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

– Novita & Kebangsaan

– Makna di Setiap Rasa: Antologi 100 Puisi Bersertifikat Lomba Nasional dan Internasional

– Siluet Cinta, Pelangi Rindu

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Di balik Berita

Kekuasaan di Balik Kata: Mempengaruhi Opini Publik dan Mengubah Sejarah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com