POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Api di Dasar Sumur

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
August 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro

Tiga orang meninggal dunia dan dua lainnya terluka parah akibat kebakaran sumur minyak ilegal di Blora, Jateng. Pemerintah diminta meninjau ulang peraturan yang mengizinkan masyarakat mengelola sumur minyak. [1]

Pagi itu, embun belum sempat menamai daun,
ketika suara yang tak punya wajah turun ke dusun.
“Api,” katanya pendek, seperti napas yang tertahan.
Orang-orang berlari membawa doa dalam saku,
di antara rumpun tebu dan bau tanah yang basah.

Di pinggir ladang, sumur tua berdiri seperti kakek
yang tak lagi mengingat ulang tahun cucu-cucunya.
Dari mulutnya, nyala melenting ke langit,
sebuah kabar buruk yang menulis dirinya sendiri
di papan besar yang disebut udara.

“Kenapa bumi memuntahkan amarah?” tanya seorang bocah
yang baru kemarin belajar mengeja kata ‘harapan’.
Ayahnya menutup telinga anak itu pelan,
takut bila kata-kata ikut terbakar,
dan tak menyisakan rumah untuk diam.

“Sumur,” jawab seorang ibu yang wajahnya retak oleh waktu,
“adalah kitab yang kita baca dengan gemetar.
Kadang ia memberi terang untuk memasak,
kadang ia memberi malam yang tak kunjung pagi.”
Ia menyeka mata, padahal tidak ada debu.

Di sela nyala, kulihat tiga bayang jatuh
seperti daun yang tidak sempat berpamitan pada ranting.
Nama-nama mereka menjadi angin,
menyelinap ke sela-sela genting,
memukul-mukul dada yang sedang belajar ikhlas.

“Apakah ini kesalahan kita?” tanya pemuda berjaket hitam.
Ia memandangi garis polisi seperti garis nasib
yang menolak disentuh.
Seorang tetua menjawab dengan serak,
“Negeri ini panjang, Nak, sementara kewarasan sering kehabisan ongkos.”

Lalu datang suara lain dari radio di warung,
mengurai pasal, izin, dan janji-janji yang berderak
seperti papan lama di teras surau.
Nama-nama pejabat disebut pelan,
seolah kita sedang menabur garam pada luka yang masih segar.

“Bisakah aturan memeluk orang yang sedang berkabung?”
tanya ibu yang sama, kini memegang foto buram.
Seorang lelaki berseragam menatap tanah,
“Kadang aturan datang seperti payung setelah hujan reda.”
Kami semua diam, karena tahu diam juga adalah kata.

📚 Artikel Terkait

Munculnya Kelas Baru Prekariat

Menjadi Sosok Guru Role Model yang Growth Mindset bagi Peserta Didik

Pribadi Istimewa

FADLI IMMAMMUDIN : ATLET SEPEDA YANG INSPIRATIF

Anak-anak menanyakan perbedaan antara minyak dan air mata.
Guru SD di ujung kampung menjelaskan:
“Minyak adalah cerita yang lahir di perut bumi,
air mata adalah hujan yang jatuh dari dalam diri.”
Anak-anak mengangguk, meski tidak ada jawaban yang kenyang.

Di dekat mushala, para relawan memilah
antara abu dan kabar.
Di depan mereka, termos-termos kopi
menjaga percakapan tetap hangat,
sebab dingin selalu datang tanpa undangan.

“Apa yang mesti kita lakukan setelah ini?”
seorang jurnalis melempar pancing ke telaga kata.
“Merawat ingatan,” sahut seorang bidan,
“karena yang hilang bukan hanya nyawa,
melainkan peta pulang pada banyak keluarga.”

Kami berbincang dengan bayang-bayang di tanah,
“Maafkan kami yang telat belajar tentang selamat,”
“Maafkan kami yang terlalu sering mengira hidup
adalah arisan keberuntungan,”
“Maafkan kami yang jarang menengok akar.”

Api masih mengigau, menyebut nama-nama bebatuan,
menyebut sang waktu yang tak pernah berutang.
Di sela igauannya, ada suara anak yang ingin es krim,
ada ibu yang ingin suaminya pulang,
ada kucing yang masih menunggu suara mangkuk ditaruh.

“Kalau semua ini simbol,” tanya pemuda itu lagi,
“lalu apa makna yang tersisa?”
Tetua tersenyum pedih,
“Makna adalah sumur lain di dalam dada;
kita menimba dengan sabar, kadang kosong, kadang bening.”

Langit merendah, menutup luka desa
dengan selimut awan yang tipis.
Di balai, daftar nama ditulis rapi,
seperti doa yang antri untuk dipanjatkan.
Bendera setengah tiang berkibar pelan,
menjadi senter yang menyala dari kesedihan.

“Apakah kita akan melupakan hari ini?”
suara kecil menembus jantung tanya.
“Tidak,” jawab kor yang tidak terlihat,
“sebab melupakan adalah bentuk lain dari padam,
dan kita tidak boleh padam untuk yang padam.”

Malam turun, membawa tasbih bintang.
Desa memeluk dirinya sendiri,
menyetrika kerut di dahi dengan ayat-ayat yang hafal di lidah.
Di ambang pintu, seorang istri menyalakan lampu teras,
meski ia tahu seseorang tak akan kembali menjejaknya.

Esok, kita akan menanam pohon di dekat sumur,
akar-akar kecilnya belajar mengeja kata ‘selamat’.
Kita akan menulis pelajaran di papan yang baru,
bahwa kerja harus bersanding dengan jaga,
bahwa rezeki mesti berumah pada aman,
bahwa aturan bukan pagar belaka, melainkan pagar dengan pintu.

Dan jika suatu hari anak-anak bertanya lagi
tentang perbedaan minyak dan air mata,
kita ajak mereka menatap matahari pagi,
“Lihat, cahaya yang baik tak pernah terbakar orang-orangnya.
Ia hanya menuntun, sampai pulang.”

Di ujung lorong, bayang tiga nama itu
berubah menjadi tiga cahaya kecil,
menggandeng kita melewati kabar, melewati takut,
menuju hari-hari yang tidak lagi menakar keuntungan
dengan ukuran nyawa.

Karena pada akhirnya, desa ini ingin belajar
mencium bau tanah tanpa takut meledak,
ingin melihat sumur seperti dulu,
sekadar cermin untuk wajah langit,
bukan mulut yang mengunyah yang kita cinta.


Catatan kaki:
[1] BBC News Indonesia- “Kebakaran sumur minyak di Blora: Tiga orang tewas, desakan revisi aturan perizinan sumur tua” (diakses 20 Agustus 2025). https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjw6zp6nev8o

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@

Sajak dan Essai Alkhair Aljohore

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00