POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Badai di Bawah Pohon Pecan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 26, 2025
in Puisi Essay
0
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online


Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Langit kelabu menggantung seperti kain kafan. Angin menerpa jendela, membawa gemuruh yang terdengar seperti tawa setan.

Baca Juga
  • a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681
    Puisi
    Kepiting Dalam Baskom
    29 Mar 2026
  • Badai di Bawah Pohon Pecan - 10C95404 F874 4936 A8EB FAF5A274641F | Puisi Essay | Potret Online
    Kenangan
    PENYAIR DI RUANG TUNGGU ITU PUN BERPULANG
    25 Feb 2023

Aku menatap kalender di dinding, tanggal merah Idulfitri menjulur seperti lidah api. Jam dinding berdetak bak peluru yang siap menghujam jantung.

Anak-anakku tertawa di ruang tamu, suara mereka merambat di udara lembab. Aku mengepalkan tangan, kuku menghunjam telapak hingga nyaris berdarah.

Baca Juga
  • Badai di Bawah Pohon Pecan - 94b60796 d087 433d 9cd5 92637384fc71 | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
    23 Jan 2025
  • Badai di Bawah Pohon Pecan - 2025 05 15 09 56 48 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Cinta
    Do’a yang Tak Pernah Selesai
    15 Mei 2025

“Baju baru… uang siap…” gumamku pada cermin retak di kamar. Bayanganku terbelah dua, satu menjerit, satu lagi menangis.

Istriku menyentuh bahuku. Tangannya hangat, tapi aku menggigil. “Kita bisa bikin ketupat dari beras sisa,” bisiknya. Aku membanting sendok kayu, pecahan suaranya seperti letusan granat.

Baca Juga
  • Badai di Bawah Pohon Pecan - 2025 08 11 06 38 05 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Sebait Puisi, Secangkir Kopi
    11 Agu 2025
  • Badai di Bawah Pohon Pecan - b9541453 1941 4401 9779 9a9e799c5dc6 | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Senyum di Balik Pintu Masjid
    05 Mar 2025

Di gudang, koper tua berdebu menatapku. Tikus menggerogoti tali pengikatnya, mudik hanyalah dongeng sebelum tidur. Makam Bapak pasti sudah ditumbuhi ilalang, kuburanku sendiri yang tak terjamah.

Malam itu, hujan mengguyur atap seng. Aku berlutut di bawah pohon pecan, akarnya menjalar seperti tangan hantu. “Tuhan, ambil saja nyawaku sebelum pagi tiba,” rintihku. Daun pecan berbisik, “kau lebih kuat dari badai”.

Pukul tiga dini hari, lampu kamar anak-anak masih menyala. Kulihat Silvi, si bungsu, melipat kertas menjadi burung-burung kecil. “Ini untuk simbah, Yah,” katanya. Kertas-kertas itu berdesir seperti sayap malaikat yang patah.

Aku membuka laci besi berkarat, paspor, surat nikah, sepucuk surat dari Ibu yang belum terbuka. Tulisannya samar, “Jangan pulang, nak. Ibu di sini sudah damai”. Air mataku menetes di atas kata damai, mengaburkannya jadi noda abu-abu.

Di pasar subuh, aku berdiri di depan lapak bunga kamboja. Wanginya mengingatkanku pada dupa di makam Bapak. Pedagang menawarkan setangkai mawar plastik. “Ini tahan lama,” katanya. Kupeluk erat, durinya menusuk tulang selangka.

Istriku menjahit taplak meja berlubang dengan benang biru. Jahitannya berkelok seperti sungai yang mencari laut. “Lihat, kita punya lautan sendiri,” katanya. Aku menelan getir, lautan kami berisi air mata dan asap kompor.

Anak-anak berkumpul di teras, menyanyikan lagu tentang bulan sabit. Suara mereka menyatu dengan deru angin. Tiba-tiba, hujan berhenti. Seekor kupu-kupu kuning hinggap di rambut Silvi, sayapnya mengibarkan cahaya.

Aku merobek kemeja lamaku, mengguntingnya menjadi saputangan kecil. Tangan ini gemetar, tapi jarum menari sendiri. Lima saputangan, satu untuk setiap anak. Di sudutnya, kusulam inisial mereka dengan benang merah.

“Ini baju baru kita,” kataku saat sarapan. Mereka tertawa, melilitkan kain di leher seperti syal. Rina, si sulung, berbisik, “Yah, kita nggak butuh mall.” Nasi di piringku mengembang menjadi gunung yang tak bisa kudaki.

Telepon berdering. Suara Ibu pecah oleh sambungan yang buruk. “Jangan… pulang…” desisnya. Di belakangnya, kudengar adzan Subuh, suaranya seperti berasal dari dalam sumur.

Aku memetik daun pecan, meremasnya hingga hancur. Getahnya menggumpal di telapak tangan, lengket seperti darah yang mengering. Istriku mendekapku dari belakang. Nafasnya di leherku: “Kita sudah menang.”

Malam terakhir sebelum Idulfitri, anak-anak tidur berpelukan di kasur tipis. Kukelilingi mereka dengan kelambu bekas, kainnya bolong-bolong seperti rasi bintang. Aku berjaga, menghitung detak jam dinding yang kini terdengar seperti detak jantung.

Saat fajar, langit masih abu-abu. Tapi di ujung timur, ada semburat jingga. Aku menyiapkan lima amplop cokelat, di dalamnya, kertas burung Silvi dan selembar daun pecan. Uang saku yang tak terlihat.

“Maafkan Bapak,” kataku saat sungkem. Mereka tertawa, mencium tanganku yang masih berbau getah. “Kita ziarah virtual, Yah,” kata Rina, membuka peta digital makam Bapak. Layar hp berkedip, nama Bapak muncul di antara pixel-pixel hijau.

Pohon pecan bergoyang. Daunnya berjatuhan seperti konfeti. Aku tak tahu apakah ini kemenangan atau gencatan senjata. Tapi hari ini, kami makan ketupat dengan sambal buatan istri, pedasnya membakar lidah, tapi kami tersenyum.

Badai telah berlalu. Atau mungkin hanya berpindah ke dalam dada kami. Tapi selama pohon pecan masih berakar, angin takkan mampu mencabut kami dari tanah ini.


Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

Previous Post

HABA Si PATok

Next Post

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

Next Post
Badai di Bawah Pohon Pecan - ca7c39f0 08e0 40fa 86ce cbce73f8f0e6 | Puisi Essay | Potret Online

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah