• Latest
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online

Badai di Bawah Pohon Pecan

Maret 26, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Badai di Bawah Pohon Pecan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 26, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Langit kelabu menggantung seperti kain kafan. Angin menerpa jendela, membawa gemuruh yang terdengar seperti tawa setan.

Baca Juga
  • Pahlawan Dalam Pena
  • Nyadran di Tanah Doplang

Aku menatap kalender di dinding, tanggal merah Idulfitri menjulur seperti lidah api. Jam dinding berdetak bak peluru yang siap menghujam jantung.

Anak-anakku tertawa di ruang tamu, suara mereka merambat di udara lembab. Aku mengepalkan tangan, kuku menghunjam telapak hingga nyaris berdarah.

Baca Juga
  • Di Balik Langkah Guru Nias
  • Dari Limbah Menjadi Cinta

“Baju baru… uang siap…” gumamku pada cermin retak di kamar. Bayanganku terbelah dua, satu menjerit, satu lagi menangis.

Istriku menyentuh bahuku. Tangannya hangat, tapi aku menggigil. “Kita bisa bikin ketupat dari beras sisa,” bisiknya. Aku membanting sendok kayu, pecahan suaranya seperti letusan granat.

Baca Juga
  • Tempat Paling Sepi
  • Kapal yang Ditebuk

Di gudang, koper tua berdebu menatapku. Tikus menggerogoti tali pengikatnya, mudik hanyalah dongeng sebelum tidur. Makam Bapak pasti sudah ditumbuhi ilalang, kuburanku sendiri yang tak terjamah.

Malam itu, hujan mengguyur atap seng. Aku berlutut di bawah pohon pecan, akarnya menjalar seperti tangan hantu. “Tuhan, ambil saja nyawaku sebelum pagi tiba,” rintihku. Daun pecan berbisik, “kau lebih kuat dari badai”.

Pukul tiga dini hari, lampu kamar anak-anak masih menyala. Kulihat Silvi, si bungsu, melipat kertas menjadi burung-burung kecil. “Ini untuk simbah, Yah,” katanya. Kertas-kertas itu berdesir seperti sayap malaikat yang patah.

Aku membuka laci besi berkarat, paspor, surat nikah, sepucuk surat dari Ibu yang belum terbuka. Tulisannya samar, “Jangan pulang, nak. Ibu di sini sudah damai”. Air mataku menetes di atas kata damai, mengaburkannya jadi noda abu-abu.

Di pasar subuh, aku berdiri di depan lapak bunga kamboja. Wanginya mengingatkanku pada dupa di makam Bapak. Pedagang menawarkan setangkai mawar plastik. “Ini tahan lama,” katanya. Kupeluk erat, durinya menusuk tulang selangka.

Istriku menjahit taplak meja berlubang dengan benang biru. Jahitannya berkelok seperti sungai yang mencari laut. “Lihat, kita punya lautan sendiri,” katanya. Aku menelan getir, lautan kami berisi air mata dan asap kompor.

Anak-anak berkumpul di teras, menyanyikan lagu tentang bulan sabit. Suara mereka menyatu dengan deru angin. Tiba-tiba, hujan berhenti. Seekor kupu-kupu kuning hinggap di rambut Silvi, sayapnya mengibarkan cahaya.

Aku merobek kemeja lamaku, mengguntingnya menjadi saputangan kecil. Tangan ini gemetar, tapi jarum menari sendiri. Lima saputangan, satu untuk setiap anak. Di sudutnya, kusulam inisial mereka dengan benang merah.

“Ini baju baru kita,” kataku saat sarapan. Mereka tertawa, melilitkan kain di leher seperti syal. Rina, si sulung, berbisik, “Yah, kita nggak butuh mall.” Nasi di piringku mengembang menjadi gunung yang tak bisa kudaki.

Telepon berdering. Suara Ibu pecah oleh sambungan yang buruk. “Jangan… pulang…” desisnya. Di belakangnya, kudengar adzan Subuh, suaranya seperti berasal dari dalam sumur.

Aku memetik daun pecan, meremasnya hingga hancur. Getahnya menggumpal di telapak tangan, lengket seperti darah yang mengering. Istriku mendekapku dari belakang. Nafasnya di leherku: “Kita sudah menang.”

Malam terakhir sebelum Idulfitri, anak-anak tidur berpelukan di kasur tipis. Kukelilingi mereka dengan kelambu bekas, kainnya bolong-bolong seperti rasi bintang. Aku berjaga, menghitung detak jam dinding yang kini terdengar seperti detak jantung.

Saat fajar, langit masih abu-abu. Tapi di ujung timur, ada semburat jingga. Aku menyiapkan lima amplop cokelat, di dalamnya, kertas burung Silvi dan selembar daun pecan. Uang saku yang tak terlihat.

“Maafkan Bapak,” kataku saat sungkem. Mereka tertawa, mencium tanganku yang masih berbau getah. “Kita ziarah virtual, Yah,” kata Rina, membuka peta digital makam Bapak. Layar hp berkedip, nama Bapak muncul di antara pixel-pixel hijau.

Pohon pecan bergoyang. Daunnya berjatuhan seperti konfeti. Aku tak tahu apakah ini kemenangan atau gencatan senjata. Tapi hari ini, kami makan ketupat dengan sambal buatan istri, pedasnya membakar lidah, tapi kami tersenyum.

Badai telah berlalu. Atau mungkin hanya berpindah ke dalam dada kami. Tapi selama pohon pecan masih berakar, angin takkan mampu mencabut kami dari tanah ini.


Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Badai di Bawah Pohon Pecan - ca7c39f0 08e0 40fa 86ce cbce73f8f0e6 | Puisi Essay | Potret Online

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com