HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Abu Kruet Lintang; Ulama Kharismatik Aceh yang Istiqamah dan Prinsipil

Nurkhalis Muchtar by Nurkhalis Muchtar
Juni 22, 2025
in #Ulama Kharismatik Aceh, #Ulama Nusantara, Aceh, Artikel, ulama
Reading Time: 3 mins read
0
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc,M.A

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Nama aslinya Teungku Muhammad Yusuf bin Teungku Ibrahim bin Teungku Mahmud, lahir dari keturunan ulama dan pimpinan dayah di wilayah Aceh Timur. Beliau masih keturunan salah seorang ulama Timur Tengah yang bernama Teungku Salahuddin yang dikenal dengan sebutan Teungku Chik Keurukon yang berasal dari Yaman. Selain dari jalur ayahnya yang ulama, ibunya juga anak dari seorang ulama dan tokoh masyarakat yang disebut dengan Teungku Chik Mud Julok. 

Mengawali masa belajarnya, Abu Kruet Lintang belajar langsung kepada ayahnya yang juga ulama, namun kebersamaan dengan ayahnya tidak lama, karena dalam usia sepuluh tahun wafatlah ayah dari Abu Kruet Lintang. Setelah wafat ayahnya, beliau kemudian dibimbing oleh pamannya Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang juga seorang ulama dan pimpinan pesantren. 

Setelah beberapa lama belajar pada pamannya, sambil belajar siang harinya di Sekolah Rakyat, Abu Kruet Lintang kemudian belajar pada Dayah Cot Plieng Bayu yang dipimpin oleh Teungku Cut Ahmad, namun tidak lama beliau di dayah ini, karena beberapa bulan setelahnya wafatlah pimpinan Dayah Cot Plieng.

Merasa ilmunya masih minim, Abu Kruet Lintang berangkat menuju ke Dayah Kruengkalee yang dipimpin oleh Teungku Haji Hasan Kruengkalee yang dikenal dengan Abu Kruengkalee. Abu Kruengkalee merupakan ulama lulusan Yan Keudah Malaysia, murid dari Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan, dan juga belajar selama lebih kurang tujuh tahun di Mekkah. 

Kepada Abu Kruengkalee, beliau memperdalam ilmu yang telah beliau pelajari sebelumnya dari almarhum ayahnya dan pamannya ketika di Dayah. 

Abu Kruengkalee sebagaimana yang diketahui adalah ulama yang bisa dianggap syekhul masyayikhperiode awal dayah Aceh, karena selain Abu Kruet Lintang di Dayah Kruengkalee juga telah mengorbit banyak ulama terpandang Aceh. 

ADVERTISEMENT

Sebut saja beberapa di antara mereka ialah Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abu Sulaiman Lhoksukon, Abu Adnan Mahmud Bakongan, Abu Abdullah Ujong Rimba, Abu Wahab Seulimum, Abu Ishaq Ulee Titi, Abu Marhaban Kruengkalee dan banyak ulama lainnya yang merupakan tokoh-tokoh berpengaruh. Bahkan Abu Ali Lampisang pendiri Madrasah Khairiyah dan Abu Syech Mud Blangpidie disebutkan juga pernah lama belajar kepada Abu Hasan Kruengkalee.

Dalam tiga tahun kebersamaan Abu Kruet Lintang dengan Abu Kruengkalee telah mengantarkan beliau menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Karena sebelum tiba di Kruengkalee beliau memang telah menguasai berbagai cabang ilmu, sehingga ketika beliau tiba di Kruengkalee beliau memperdalam kajiannya kepada Abu Kruengkalee. 

Pada tahun 1939 dalam usianya 22 tahun, Abu Kruet Lintang pulang kampung untuk mengajarkan ilmu yang telah dimilikinya. Setelah mengajar beberapa tahun di dayah yang dipimpin oleh Teungku Usman bin Teungku Mahmud yang merupakan paman dari Abu Kruet Lintang, pada tahun 1942 beliau kembali belajar kepada seorang ulama terpandang lainnya yang benama Teungku Muhammad Ali pimpinan Dayah Darul Muta’alimin masih di kawasan Aceh Timur.

Tidak lama beliau belajar kepada ulama besar tersebut, maka Abu Kruet Lintang telah diberikan ‘peneutoeh’ oleh Teungku Muhammad Ali untuk melanjutkan kepemimpinan dayah pamannya setelah beliau wafat. Maka semenjak tahun 1943 mulailah Abu Kruet Lintang memimpin Dayah Darul Muta’alimin. Beliau dengan segenap kesungguhan memimpin dayah tersebut sehingga menjadi salah satu dayah yang diminati oleh para penuntut ilmu. Selain itu Abu Kruet Lintang adalah seorang ulama kharismatik di wilayahnya yang menjadi panutan dan ikutan masyarakat di Aceh Timur.

Sebagai ulama yang luas cakrawala berpikir, Abu Kruet Lintang merupakan ulama yang santun dan sederhana dalam kehidupannya sehari-hari. Beliau memiliki pandangan-pandangan hukum yang kuat dan kokoh, walaupun demikian beliau tidak memaksakan pandangannya kepada yang lain. Disebutkan beliau pernah diundang pada sebuah tempat yang berbeda dengan pemahaman beliau untuk memberikan ceramah atau semacam tausiyah. 

Setelah memberikan tausiah sebagai wujud silaturahmi beliau, kemudian beliau mohon diri untuk melaksanakan kebiasaan shalatnya di tempat lain sebagaimana kebiasaan yang beliau laksanakan.

Pada tahun tahun 1963, salah satu gurunya yaitu Abu Hasan Kruengkalee mengirim surat kepada beliau untuk memajukan PERTI di kawasan Aceh Timur, maka beliau menginisiasi berdirinya organisasi PERTI di wilayah Aceh Timur, setelah musyawarah, beliau dipilih secara aklamasi oleh forum sebagai Ketua Umum Perti di Aceh Timur. 

Sebagai ulama besar Ahlussunnah Waljama’ah, tentunya kiprah Abu Kruet Lintang sangat di perhitungkan di wilayah Timur Aceh. Beliau dianggap sebagai figur yang menjadi guru bagi seluruh masyarakat, mengayomi mereka dengan fatwa keagamaan yang bijak dan tanggungjawab, dan senantiasa membimbing mereka ke jalan keselamatan. 

Setelah kiprah yang besar, maka wafatlah ulama tersebut di tahun 1985 dalam usia 68 tahun. Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 210x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 176x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 145x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Next Post
What is Scholasticide?

Benarkah Teungku Muhammad Daud Beureueh yang “Menyerahkan” Aceh Kepada Republik Indonesia?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com