Maradona, Si Jenius Jalanan Yang Tak Tergantikan

Oleh Yani Andoko
Ketika Sebuah Tangan Mengguncang Dunia
Anda sedang menonton pertandingan sepak bola. Kiper lawan lebih tinggi 20 sentimeter dari Anda. Bola melambung di depan gawang. Apa yang Anda lakukan?
Jika Anda pemain akademi, Anda akan menyundul dengan benar dan gagal.
Jika Anda Diego Armando Maradona, Anda mengangkat tangan kiri, memukul bola ke gawang, lalu berlari merayakan seolah itu gol paling sah di dunia. Setelah pertandingan, Anda berkata: “Gol itu setengahnya adalah kepala Maradona, dan setengahnya lagi adalah tangan Tuhan.”
Pada 22 Juni 1986, di Stadion Azteca, Meksiko, di hadapan lebih dari 114.000 penonton, Maradona tidak sedang bermain sepak bola. Ia sedang menulis salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah olahraga dan melakukannya dengan senyum nakal seorang anak jalanan yang tahu betul bahwa ia baru saja mencuri permen dari toko tanpa ketahuan. “Saya memang harus minta maaf kepada orang Inggris seribu kali,” katanya kemudian, “tapi saya akan melakukannya seribu kali lagi.”
Angka-Angka Yang Membungkam Keraguan
Tapi jangan salah. Maradona bukan hanya “tangan.” Ia adalah paket lengkap yang jika dilihat dari angka-angka masih membuat kita geleng-geleng sampai hari ini.
Satu orang, satu turnamen, satu mahakarya.
Sepanjang Piala Dunia 1986, Argentina mencetak 14 gol. Maradona menyumbang 5 gol dan 5 assist. Itu berarti 10 dari 14 gol lahir dari kaki (dan tangan)nya. Ia menjadi satu-satunya pemain sejak 1966 yang mencatatkan 5 gol dan 5 assist dalam satu edisi Piala Dunia.
Ia menciptakan 27 peluang, melepaskan 30 tembakan 13 di antaranya tepat sasaran dan menjadi pemain yang paling sering dilanggar sepanjang turnamen dengan 53 kali dilanggar. Argentina total melepaskan 110 tembakan sepanjang turnamen; Maradona melepaskan 30 tembakan sendiri, dan 27 tembakan lainnya berasal dari umpanannya. Ia terlibat dalam 51,8 persen dari seluruh percobaan tembakan Argentina.
Bayangkan: satu orang bertanggung jawab atas hampir setiap serangan tim juara dunia. Itu bukan performa. Itu dominasi total.
Bahkan secara keseluruhan karier, ia mencatatkan 679 pertandingan dengan 345 gol 311 di antaranya untuk klub dan 34 untuk tim nasional. Di pentas Piala Dunia, ia tampil dalam 21 pertandingan, mencetak 8 gol dan 8 assist rekor assist terbanyak sejak 1966. Ia juga mencatatkan 188 percobaan sukses melewati lawan dan 152 kali dilanggar, dua angka tertinggi sepanjang masa. Ia memenangkan 152 kali tendangan bebas di empat Piala Dunia—lebih dari dua kali lipat pemain di posisi kedua, Jairzinho dari Brasil yang hanya 64 kali. Rata-rata, ia dilanggar lebih dari tujuh kali per pertandingan, atau satu kali setiap 12 menit 46 detik.
Lalu ada “Gol Abad Ini” empat menit setelah “Tangan Tuhan.”
Jika gol pertama adalah kelicikan, gol kedua adalah kejeniusan murni. Maradona menerima bola dari bek kiri Julio Olarticoechea di wilayah pertahanan sendiri, lalu dalam 10 detik menggiring bola sejauh 51 meter, melewati lima pemain Inggris Peter Beardsley, Steve Reid, Terry Butcher, Terry Fenwick, dan kiper Peter Shilton sebelum menyelesaikannya dengan sentuhan akhir yang sempurna.
Ia melakukan 12 dribel sukses dari 14 percobaan dalam satu pertandingan. Bek Inggris Terry Butcher, yang menjadi salah satu korban, berkata: “Saya masih bermimpi buruk tentang gol itu.”
FIFA kemudian menobatkannya sebagai “Gol Abad Ini” dalam pemilihan tahun 2002. Maradona sendiri dalam otobiografinya mengakui: “Setiap kali saya menonton ulang gol itu, saya sendiri tidak percaya bahwa sayalah yang mencetaknya. Terlalu luar biasa.”
Bahkan lawan pun memberi hormat.
Manajer Inggris saat itu, Bobby Robson, memujinya: “Itu adalah gol yang luar biasa. Anda mungkin melihat gol seperti itu di pertandingan anak-anak di taman, tapi Maradona melakukannya di perempat final Piala Dunia.” Gary Lineker, yang mencetak satu gol untuk Inggris dan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen, memberikan penghormatan yang lebih tulus: “Ini pertama kalinya dalam karier saya, saya bertepuk tangan untuk gol lawan.”
Lalu ada Napoli kota yang ia ubah dari medioker menjadi juara.
Sebelum Maradona datang, Napoli nyaris terdegradasi, hanya selamat dengan keunggulan satu poin. Bersamanya, mereka menjadi juara Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada 1986-87, lalu mengulanginya pada 1989-90. Di musim pertama juara, ia mencetak 10 gol dalam 29 pertandingan; di musim kedua, 16 gol dalam 28 pertandingan.
Selama tujuh tahun di Naples, ia mempersembahkan dua scudetto, satu Piala Italia, dan satu Piala UEFA total lima trofi. Setelah kepergiannya, Napoli memensiunkan nomor punggung 10 yang ia kenakan. Sampai tahun 2023, Napoli hanya pernah memenangkan scudetto dua kali dalam 94 tahun sejarah mereka keduanya bersama Maradona sebelum akhirnya meraih yang ketiga di tahun 2023.
Di Italia utara yang kaya, di antara kekuatan AC Milan, Inter, dan Juventus, Maradona dengan kaki kirinya yang ajaib membawa Napoli selatan yang miskin meraih kejayaan. Ia bukan sekadar pemain asing. Ia adalah raja yang diadopsi oleh seluruh kota.
Analisis: Mengapa Maradona Tak Tergantikan?
Di era sekarang, VAR akan menganulir “Tangan Tuhan” dalam 5 detik. Pemain modern diatur oleh diet ketat, pelacak kebugaran, dan taktik pressing yang mengharuskan setiap orang berlari 12 kilometer per pertandingan. Maradona? Ia merokok cerutu di ruang ganti, minum Coke, dan berjalan santai saat tim kehilangan bola.
Tapi justru di sinilah keajaibannya.
Maradona adalah “bug dalam sistem” kekacauan yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma. Ia lahir di Villa Fiorito, sebuah pemukiman kumuh di pinggiran Buenos Aires, “tempat tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada telepon.” Ibunya sering sakit perutbukan karena sakit, tapi karena ia sengaja tidak makan agar anak-anaknya bisa makan.
Maradona tidak diajari fair play di akademi elite; ia diajari bagaimana cara menang dengan segala cara yang tersedia. Di jalanan, tidak ada wasit, yang ada hanya insting bertahan hidup. “Bagi saya, sepak bola adalah mengejar bola, bermain dengannya, dan bercanda dengannya,” katanya. Tapi di lapangan, ia adalah predator.
Dan ia memahami psikologi seperti seorang jenderal perang.
Gol pertama (tangan) menghancurkan mental Inggris. Empat menit kemudian, dengan pertahanan Inggris yang masih frustrasi dan marah, ia melenggang melewati mereka seperti tembok manusia yang roboh. Itu bukan kebetulan. Itu strategi. Maradona tidak membaca Sun Tzu, tapi instingnya paham: “Puncak dari strategi adalah menaklukkan musuh tanpa bertempur.” Ia menaklukkan mental mereka sebelum kaki mereka sempat bergerak.
Belum lagi konteks politiknya. Empat tahun sebelumnya, 1982, Argentina dan Inggris berperang memperebutkan Kepulauan Falklands (Malvinas). Inggris menang. Rakyat Argentina terluka, malu, dan marah. Maradona dan seluruh Argentina membawa luka itu ke lapangan hijau. “Kami harus berjuang untuk bendera kami, untuk para pemuda yang gugur,” katanya.
Seorang mantan pemain Argentina, Perfumo, bahkan berkata: “Pada 1986, mengalahkan Inggris sudah cukup. Memenangkan Piala Dunia adalah nomor dua. Mengalahkan Inggris adalah tujuan kami yang sebenarnya.” Maradona tidak hanya mencetak gol; ia mengembalikan harga diri sebuah bangsa.
Legenda Yang Tak Pernah Mati
Maradona meninggal pada 25 November 2020, pada usia 60 tahun. Tapi ia tidak pernah benar-benar pergi.
Ia pernah berkata: “Saya mengotori hidup saya, tapi saya tidak pernah mengotori sepak bola.” Dan entah kita setuju atau tidak, satu hal yang pasti: sepak bola tanpa Maradona akan kehilangan dosis kegilaan yang membuatnya begitu manusiawi.
Messi mungkin lebih disiplin. Cristiano Ronaldo mungkin lebih profesional. Pele mungkin lebih banyak gelar tiga Piala Dunia berbanding satu. Tapi tidak ada dari mereka yang bisa berkata, “Ini sedikit kepala saya, dan sedikit tangan Tuhan,” lalu membuat setengah dunia tersenyum dan setengah lainnya menggerutu dan tetap dikenang sebagai yang terhebat.
Karena pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang angka, trofi, atau statistik. Sepak bola adalah tentang cerita. Dan tidak ada cerita yang lebih liar, lebih kontroversial, dan lebih abadi daripada cerita tentang seorang anak jalanan dari Villa Fiorito yang dengan tangan dan kakinya menulis ulang sejarah.
Maradona bukan pemain. Maradona adalah mitologi. Dan mitologi, sampai kapan pun, tidak akan pernah tergantikan.
“Jika saya mati, saya ingin terlahir kembali sebagai pemain,” katanya. “Saya ingin menjadi Maradona lagi. Saya adalah pemain yang memberikan kebahagiaan bagi orang-orang, dan itu sudah cukup bagi saya.”
Dan bagi kami yang menyaksikan, itu lebih dari cukup.
Batu, 25 Mei 2026












