• Latest
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM - 0de6a75d 407f 445b a4c7 06dc3a7dae47 | Aceh | Potret Online

Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM

Desember 27, 2025
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Aceh | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.

Akal Waras di Era Digital

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM

Redaksi by Redaksi
Desember 27, 2025
in Aceh, Apresiasi Sastra, Baca Puisi, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Reportase, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM - 0de6a75d 407f 445b a4c7 06dc3a7dae47 | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Sastra kembali berdiri sebagai suara nurani publik. Di tengah meningkatnya krisis ekologis dan berulangnya bencana alam di Aceh, sastrawan dan penyair Halimah Munawir tampil membacakan puisi berjudul “Diam Sangat Menyakitkan” dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2026).


Acara ini digelar oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi kolektif atas banjir bandang dan longsor Aceh 2025, yang hingga kini masih menyisakan luka sosial, ekologis, dan kemanusiaan.

Baca Juga
  • ENGKAU TAK PERNAH MEMBENCI
  • Puisi-Puisi Hamdani Mulya

Puisi sebagai Kritik Terbuka atas Kejahatan Ekologis


Dalam pembacaan yang berlangsung hening dan penuh empati, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang namun menghantam kesadaran. Ia tidak sekadar meratap, tetapi menggugat.
Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” lahir dari kegelisahan mendalam terhadap pembabatan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan keserakahan ekonomi yang dinilai menjadi penyebab struktural bencana di Aceh.
Dengan menggunakan metafora kehidupan yang tercerabut dari akarnya, Halimah menyusun kritik tajam terhadap sistem yang membiarkan alam dirusak tanpa kontrol, sementara korban terus berjatuhan.

Baca Juga
  • Profesor Agung Pranoto Mengapresiasikan Buku Sajak Secangkir Air Mata, Karya Hamdani Mulya
  • DPPPA Aceh Gelar Pelatihan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak

“Diam Sangat Menyakitkan”: Seruan Moral yang Menggema


Salah satu penggalan puisi yang paling menggugah berbunyi:
“Kita jangan mati rasa / Diam sangat menyakitkan / Bagi nyawa-nyawa yang terkubur.”
Kalimat tersebut tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menjadi tuduhan moral bagi siapa pun yang memilih bungkam terhadap ketidakadilan ekologis.
Menurut Halimah, diam adalah bentuk kekerasan pasif yang memperpanjang penderitaan korban bencana. Oleh sebab itu, sastra hadir untuk mengganggu kenyamanan, bukan sekadar menghibur.

Baca Juga
  • Rindu
  • Seuntai Puisi Tjut Mauriza

Spirit Cut Nyak Dien dalam Puisi Perlawanan
Menariknya, Halimah mengaitkan puisinya dengan semangat perjuangan Cut Nyak Dien, pahlawan nasional asal Aceh. Ia menghadirkan sosok Cut Nyak Dien sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, kini dalam bentuk baru: penindasan ekologis.
Transisi sejarah ini menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada kolonialisme bersenjata, melainkan berlanjut pada kolonialisme ekonomi dan eksploitasi alam.

Malam Doa dan Kemanusiaan: Seni sebagai Ruang Solidaritas


Acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh tidak hanya menampilkan pembacaan puisi, tetapi juga doa lintas iman, musik reflektif, dan ekspresi seni lainnya.
Melalui kegiatan ini, para seniman dan budayawan menyampaikan pesan bahwa seni memiliki tanggung jawab sosial, terutama ketika negara dan sistem ekonomi gagal melindungi rakyatnya.

Aceh dan Siklus Bencana yang Terus Berulang


Secara investigatif, bencana Aceh bukanlah peristiwa tunggal. Data menunjukkan bahwa alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar terus terjadi tanpa pengawasan ketat.
Narasi puisi Halimah berfungsi sebagai alarm publik, mengingatkan bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan hasil keputusan manusia.

Profil Halimah Munawir:

Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Ia mulai menulis sejak SMA dan hingga kini aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional.


Karya-karyanya melintasi genre novel, puisi, dan esai. Beberapa novel pentingnya antara lain The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi.


Dalam puisi, Halimah dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritualitas, dan keadilan sosial.

Sastra sebagai Alarm Sosial
Melalui penampilannya di TIM, Halimah kembali menegaskan bahwa sastra bukan dekorasi budaya, melainkan alat kritik sosial.
Puisi menjadi medium edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih dalam dibandingkan laporan teknokratis semata.
Dengan demikian, “Diam Sangat Menyakitkan” bukan hanya karya sastra, tetapi dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis.

Ketika Diam Tak Lagi Netral


Pada akhirnya, Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh menjadi pengingat keras bahwa diam bukan sikap netral. Dalam konteks bencana dan ketidakadilan, diam berarti berpihak pada kehancuran.
Melalui puisi yang dibacakannya, Halimah Munawir mengajak publik untuk bersuara, bertindak, dan berpihak pada kehidupan—sebelum luka alam dan kemanusiaan menjadi permanen.
Sastra telah berbicara. Pertanyaannya, apakah kita masih memilih diam?

POTRET Gallery

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM - IMG_9086 | Aceh | Potret Online

”AIR YANG MENYATUKAN, API YANG MEMECAH”

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com