Oleh Mustiar Ar
di Kutaraja dambaan warga.
Kutatap jalan-jalan yang sibuk,
menyimpan cerita dalam debu sejarah.
Angin laut menyapa pelan,
membawa kabar dari masa silam.
Di antara senyum dan langkah manusia,
aku menemukan Aceh yang tetap setia.
Kutaraja masih bernapas dalam doa,
meski waktu terus berganti rupa.
Gedung, taman, dan jejak perjuangan
berdiri di atas ingatan yang tak mudah hilang.
Dan aku, seorang musafir sederhana,
menitip rindu pada kota yang ramah menyapa.
Sebelum kembali membawa cerita,
tentang Kutaraja yang selalu memanggil jiwa.
Banda Aceh, 21.06.2026
Diskusi