Artikel · Potret Online

Buku Adalah Bentuk Kasih Sayang

Penulis  Novita Sari Yahya
Juni 26, 2026
4 menit baca 14
52c52208-44cc-4cdf-9077-a609e546142f
Foto / IlustrasiBuku Adalah Bentuk Kasih Sayang

Oleh Novita Sari Yahya 

Buku pertama dari novel saya yang berjudul The Making of a New World: Between Empires and Industry – Wulandari & Jack akhirnya telah selesai dicetak. Novel ini dirancang dalam dua buku (dua volume), agar cerita dapat berkembang secara utuh tanpa mengorbankan kedalaman karakter maupun alur. Buku pertama terdiri atas 235 halaman yang terbagi dalam 20 bab, yang menjadi fondasi bagi perjalanan kisah pada buku berikutnya.

Bagi sebagian orang, selesainya proses pencetakan mungkin dianggap sebagai akhir dari sebuah perjalanan. Namun, bagi saya, justru di sinilah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Sebuah buku yang baik tidak cukup hanya selesai ditulis dan dicetak. Ia harus diuji. Ia harus berdialog dengan pembacanya. Ia harus menerima kritik, pertanyaan, bahkan perbedaan pendapat. Oleh karena itu, buku pertama ini tidak akan langsung diluncurkan kepada publik. Saya akan membagikannya kepada beberapa akademisi dan pembaca yang bersedia melakukan bedah buku serta memberikan kritik dan masukan secara objektif.

Saya percaya bahwa kritik bukanlah ancaman bagi seorang penulis. Kritik adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah karya. Orang yang bersedia membaca dengan teliti, kemudian menunjukkan kelebihan dan kekurangannya, sesungguhnya sedang membantu penulis bertumbuh. Sebaliknya, karya yang tidak pernah dikritik sering kali berhenti berkembang karena penulis merasa sudah cukup puas dengan dirinya sendiri.

Setelah proses uji publik tersebut selesai, seluruh catatan, masukan, dan rekomendasi akan saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Apabila terdapat bagian yang memang perlu diperbaiki, maka buku ini akan direvisi sebelum diterbitkan kembali dalam edisi yang  sudah di perbaiki. Saya ingin memastikan bahwa ketika buku ini akhirnya berada di tangan masyarakat luas, ia hadir dalam bentuk terbaik yang dapat saya berikan.

Setelah proses revisi dan penerbitan ulang selesai, barulah buku ini akan diluncurkan secara resmi kepada publik. Saya juga berencana mengikutsertakannya dalam berbagai kompetisi sastra, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bukan semata-mata untuk mengejar penghargaan, melainkan agar karya ini dapat bertemu dengan lebih banyak pembaca, memperoleh penilaian yang lebih luas, dan menjadi bagian dari percakapan sastra yang lebih besar.

Bagi saya, inilah salah satu tahapan yang seharusnya ditempuh oleh sebuah karya sastra. Sebuah karya tidak hanya membutuhkan inspirasi, tetapi juga disiplin, kesabaran, dan keberanian untuk menerima evaluasi. Menulis memang pekerjaan yang sangat personal, tetapi ketika sebuah buku diterbitkan, ia menjadi milik publik. Karena itu, penulis memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan hasil terbaik kepada para pembacanya.

Saya selalu teringat pada kalimat Bung Hatta:

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Kalimat itu mengingatkan saya bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dipenuhi tulisan. Buku adalah ruang kebebasan berpikir. Buku adalah tempat seseorang berdialog dengan gagasan, melintasi batas ruang dan waktu, serta menemukan cara baru untuk memahami kehidupan.

Bagi saya pribadi, hubungan dengan buku juga memiliki makna yang sangat emosional. Ketika masih kecil, ayah saya sering menghadiahkan buku kepada saya. Mungkin saat itu beliau tidak pernah membayangkan bahwa hadiah sederhana tersebut akan meninggalkan jejak yang begitu panjang dalam hidup saya. Dari buku-buku itulah saya belajar mengenal dunia, memahami manusia, dan menemukan mimpi-mimpi yang kemudian mengantarkan saya menjadi seorang penulis.

Karena pengalaman masa kecil itulah, hingga hari ini saya selalu memandang buku sebagai bentuk kasih sayang. Saya percaya bahwa menghadiahkan buku kepada seseorang berarti menghadiahkan pengetahuan, harapan, dan kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang baru.

Itulah sebabnya saya selalu memperlakukan setiap buku yang saya tulis dengan penuh kesungguhan. Saya mungkin dikenal cukup cerewet dalam mengurus setiap detail penerbitan, mulai dari desain sampul, penyuntingan naskah, struktur cerita, tata letak halaman, hingga kualitas cetaknya. Semua itu saya lakukan bukan karena ingin terlihat sempurna, melainkan karena saya menghargai waktu para pembaca.

Ketika seseorang membaca sebuah buku, ia tidak hanya mengenal tokoh-tokoh di dalam cerita. Ia juga sedang mengenal penulisnya. Karena itulah saya ingin setiap karya yang saya terbitkan menjadi representasi dari tanggung jawab, integritas, dan penghormatan kepada para pembaca.

Melalui kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang telah mengikuti tulisan-tulisan saya, baik melalui berbagai media maupun dengan membeli buku-buku saya. Dukungan, kritik, apresiasi, dan masukan yang diberikan selama ini menjadi semangat untuk terus belajar dan menghasilkan karya yang lebih baik.

Menulis bagi saya bukan sekadar pekerjaan. Menulis adalah cara berbagi kasih sayang kepada banyak orang. Saya berharap setiap halaman yang saya tulis dapat menemukan pembacanya, dan setiap pembaca dapat menemukan makna yang berharga di dalamnya.

Novita Sari Yahya

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...